Jodoh Dari Situs Online

Jodoh Dari Situs Online
Ratu Di Rumah Ini


__ADS_3

Malam harinya semua keluarga tengah berkumpul di meja makan. Sejak menikah dengan Nisa, di mansion Erhan sudah ada juru masak masakan khas Indonesia. Karena Erhan tidak mengijinkan Nisa untuk turun langsung ke dapur. Nisa hanya bekewajiban melayaninya, dan menemani mama Aylin. Untuk urusan dapur Erhan sudah menyediakan ahlinya.


Melihat Erhan begitu menyayangi Nisa, menciptakan kelegaan sendiri bagi keluarga Nisa. Sekarang tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan.


"Silahkan di makan makanannya, Inj ada masakahn khas Indonesia dan ada yang dari Turki, barangkali kalian ingin mencicipi." mama Aylin mempersilahkan keluarga besannya untuk mulai makan.


Setelah di persilahkan oleh tuan rumah akhirnya mereka mulai makan malamnya. Makan malam dirumah, tapi masakannya sudah ala restoran.


"Maaf kalau boleh tau, siapa yang masak makanan ini. Enak sekali. " ujar Ibu Aisyah jujur, setelah makan malam.


"Oh, kami memperkerjakan juru masak, makanan Indonesia disini. Kami khawatir Nisa tidak terbiasa dengan makanan kami. Jadi Erhan memperkerjakan koki khusus untuk makanan Nisa." ujar Mama Aylin dengan santai.


Mendengar hal itu, semua keluarga Nisa saling berpandangan. Mereka tak percaya dengan apa yang mereka dengar. Memperkerjakan seorang koki untuk makanan Nisa?


"Maaf besan, bukannya saya melarang anda memanjakan Nisa. Tapi Nisa adalah seorang istri, bukankah sebaiknya Nisa melayani suaminya? baik itu urusan makanan atau minuman. bukan pelayan yang melayani suaminya? " ibu Aisyah mencoba memberi pengertian kepada besannya itu.


"Maaf, bu Aisyah. Ini bukan ranah saya untuk itu. Semua ini adalah keinginan Erhan, jadi sebaiknya anda menanyakan hal itu kepada Erhan. " kata mama Aylin sambil tersenyum. karena dia tau, besannya ini merasa tak enak hati kalau anaknya terlalu di manjakan di sini.


Erhan yang mendengar hal itupun langsung menatap ibu mertuanya dengan lembut.


"Bukan maksud saya tidak mau dilayani Nisa, bu. Di sini Nisa adalah istri saya, ratu di rumah ini. Saya tidak mau tangan ratu ku ini lecet karena pekerjaan dapur. Lagipula memasak, mencuci dan membersihkan rumah itu buka tugas seorang istri. Itu adalah tugas suami. Karena saya sangat sibuk dan tidak bisa melakukan semua itu, jadi saya memperkerjakan banyak orang untuk melakukan tugas saya. Tugas Nisa di sini hanya melayani saya dengan baik dan selalu tampil cantik agar saya tidak bosan jika bertemu dengannya. " kata Erhan sambil terkekeh. dan mendapatkan sebuah pukulan di tangannya dari Nisa.


Mendengar perkataan Erhan membuat semua keluarga Nisa menjadi terharu, Nisa benar-benar di ratukan di rumah suaminya.


"Apa kamu tidak pernah mencoba memasak sendiri Nis? " tanya ibu Aisyah kepada Nisa.


"Pernah , bu. Tapi langsung di larang oleh pelayan. Mereka tidak ingin di pecat jika tetap membiarkan ku memasak. " kata Nisa dengan malu-malu.


Membuat ibunya menggeleng kan kepalanya.

__ADS_1


"Apa nak Erhan tidak berlebihan memperlakukan Nisa seperti ini? " tanya Bu Aisyah lagi kepada Erhan. Dia masih merasa sungkan dengan keluarga besannya.


"Tidak bu, aku bahagia bisa membahagiakan istriku. Bukankah membahagiakan istri juga bisa membuka pintu rejeki kita. Aku ingin membuktikannya. Dan Alhamdulillah semua sudah terbukti. Aku mendapat beberapa proyek besar setelah kami melakukan resepsi. " kata Erhan dengan tersenyum lebar.


Ibu Aisyah tidak bisa berkata apa-apa lagi sekarang. Dia sudah merasa tidak enak dan bahagia secara bersamaan. Tidak enak karena anaknya tidak pernah membantu apapun di rumah mewah ini. Bahagia karena keluarga ini sangat mencintai anak perempuannya itu.


"Nisa besok kamu ajak ayah, ibu dan kakakmu ke butik untuk mempersiapkan baju apa yang akan dipakai saat resepsi. Dan ajaklah mereka jalan-jalan keliling kota ini. "


"Baik ma, besok Nisa akan bawa semuanya ke butik. "


Karena sudah malam Akhirnya mereka semua memutuskan untuk beristirahat di kamar masing-masing. Begitu pula dengan Erhan yang masuk kamar bersama dengan istrinya.


Sesampainya di kamar, Nisa langsung mengganti pakaiannya dengan piyama tidur, lalu menyiapkan piyama untuk suaminya. Erhan kemudian mengganti bajunya dengan piyama yang disiapkan istrinya itu.


"Yang, besok apakah aku harus menemani mu dan keluarga mu ke butik? " tanya Erhan sambil mengancingkan piyamanya.


"Tidak perlu, mas. Besok aku akan pergi sendiri saja. Lagi pula sudah ada Ana dan Lusi yang selalu menemaniku." kaga Nisa sambil membantu Erhan yang sepertinya kesulitan mengancingkan piyamanya.


Lalu mereka berdua berbaring di atas ranjang. Kebiasaan Erhan sebelum tidur adalah selalu memandang wajah Nisa sambil memeluknya hingga ia terlelap


Tengah malam, waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Nisa terbangun dari tidurnya dan merasa cacing-cacing di perutnya berdemo minta di isi. Ini sudah terjadi selama beberapa minggu terakhir. Tiap tengah malam, Nisa selalu merasa lapar. Tapi dia tidak pernah membangunkan suaminya itu. Jadi dia selalu bangun sendiri dan segera menuju dapur untuk mencari makanan. Bukan makanan berat yang Nisa makan, tapi dia hanya mengganjal perutnya dengan potongan buah atau dengan susu dan roti. Kalau makan makanan berat di akan merasa begah dan akhirnya tidak bisa tidur lagi.


Namun kali ini saat Nisa terbangun, Erhan juga ikut terbangun dan mengikuti istrinya ingin melihat apa yang akan dilakukan istrinya yang terbangun di tengah malam ini. Ternyata istrinya itu menuju dapur, dan mengambil beberapa buah dan memakannya. Karena penasaran, akhirnya Erhan menyalakan lampu. Dan itu membuat Nisa terkejut, dan tanpa sengaja mengiris tangannya sendiri.


"auw.... " pekik Nisa tertahan.


Erhan yang melihat kejadian itupun langsung mendekati Nisa dan menghisap telunjuk Nisa yang teriris pisau. Lalu mengajaknya berdiri menuju wastafel untuk mencuci tangannya. Setelah itu dia segera mengambil kotak obat untuk mengobati jari istri nya itu. lalu mengobati lukanya.


"Maafkan aku sayang, aku mengejutkan mu sehingga membuat mu terluka. " Kata Erhan dengan penuh penyesalan sambil mengobati lukanya.

__ADS_1


"Nggak papa mas, Aku tadi memang sangat terkejut. karena lampu tiba-tiba menyala." kata Nisa sambil melihat suaminya yang cekatan mengobati tangannya.


"Apa yang kamu lakukan malam-malam begini? " tanya Erhan yang penasaran dengan tingakah istrinya itu.


"Selama beberapa minggu ini, aku selalu terbangun jam segini mas. karena perutku tiba-tiba sakit dan terasa lapar sekali. Akhirnya ya, aku turun untuk makan sesuatu. " kata Nisa sambil memakan buah yang tadi sudah dia kupas.


"Sudah berapa lama? Kenapa tidak membangunkanku? " tanya Erhan yang sedikit kesal karena Nisa tidak mau membangunnya.


"Jangan marah, aku hanya tidak ingin mengganggu tidurmu, mas. Kamu kan besoknya harus kerja. Jadi aku tidak tega membangunkanmu. Untuk berpa lamanya kurang lebih sudah dua atau tiga mingguan. " kata Nisa sambil berpikir.


"Apa karena aku makan malam terlalu sedikit ya? jadi kalau malam masih merasa lapar. " kata Nisa lagi.


"Bisa jadi, mulai besok. Kalau kamu bangun lagi seperti ini, bangunkan aku juga ya. Biar aku menemanimu. atau kamu bisa membawa beberapa buah ke dalam kamar sebelum tidur. atau makanan lain yang kamu inginkan. " kata Erhan dengan menyelipkan anak rambut yang mengganggu di balik telinga Nisa.


"Iya... ya.. kenapa nggak terpikirkan olehku. Jadi aku nggak perlu keluar kamar jika lapar. " kata Nisa memukul keningnya.


Erhan menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya itu. Lalu dia menemani Nisa yang sedang memakan beberapa buah potong itu, untuk mengganjal perutnya yang lapar. Setelah dirasa cukup, mereka berdua akhirnya kembali ke kamar untuk melanjutkan tidur nya.


"Mas, kamu tidur dulu aja. Aku mau sholat malam dulu. Biasanya aku juga begitu. Nanti setelah sholat malam aku akan kembali tidur. " kata Nisa memberitahu Erhan.


Erhan menaikkan satu alisnya mendengar kata-kata Nisa. Lalu tersenyum.


"Baiklah, aku tidur dulu ya. "


Nisa mengangguk, lalu segera menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan segera kembali untuk melakukan dua rakaat di malam hari.


Erhan yang sebenarnya tidak tidur, memperhatikan apa yang dilakukan Nisa, setiap gerakannya membuat Erhan berkali-kali mengucap syukur karena memiliki istri seperti Nisa.


"Beruntungnya aku memilikimu, istriku. "

__ADS_1


Bersambung.


Terimakasih sudah membaca


__ADS_2