
Erhan turun lebih dulu setelah menghukum istrinya dan melakukan olahraga pagi. Sedangkan Nisa bersiap lebih lama, untuk memberikan pelajaran kepada pelakor jika dia macam-macam. Setelah semua siap, Nisa segera turun menyusul suaminya.
Dibawah, wajah Shofi yang awalnya sendu karena melihat dua kali kejadian live antara Erhan dan Nisa kini berubah ceria saat melihat Erhan turun sendirian tanpa Nisa. Dia langsung mendekati Erhan, dan ingin memeluknya. Namun segera di tahan Erhan.
"Jangan melakukan ini,Shofi. Aku risih. " kata Erhan yang masih menahan tubuh Shofi dan memalingkan wajahnya.
"Kenapa Erhan? bukankah dulu kita sering melakukannya, kita adalah saudara dan sudah sewajarnya kalau aku memelukmu. " kata Shofi dengan membawa-bawa nama saudara sebagai alasan.
"Itu tidak wajar, karena kau hanya saudara sepupu suamiku yang tidak memiliki ikatan darah dengannya. Dan kau bukan mahram suamiku. Jadi haram bagi suamiku untuk menyentuhmu. " sebuah suara mengejutkan mereka berdua.
Nisa turun dengan elegan. Kali ini dia tidak menggunakan gamis panjang seperti biasa, namun menggunakan tunik panjang dengan celana panjang di dalam nya dan jilbab yang masih rapi melekat di kepalnya.
"Kau sudah siap sayang? " tanya Erhan dan melepaskan cekalan tangannya yang menahan tangan Shofi. Lalu menyambut tangan Nisa.
"Iya, aku mungkin akan berangkat agak siang. Karena harus melakukan sesuatu dirumah. " kata Nisa sambil melirik ke arah Shofi, sambil terus berjalan dengan suaminya tanpa mempedulikan wajah marah Shofi.
Melihat Erhan yang tidak mempedulikannya dan lebih memilih Nisa membuat Shofi sangat marah. Seolah keluar asap dan tanduk di kepalanya.
Erhan dan Nisa menuju meja makan. Di susul mama Aylin yang baru saja keluar dari kamarnya. Ia menoleh ke kanan dan kiri mencari seseorang.
"Dimana Shofi? kenapa tidak kelihatan. " tanya mama Aylin.
"itu dia masih berada di sana ma. " kata Nisa menunjuk Shofi yang masih berdiri kaku di tempatnya untuk mengontrol emosinya.
"Shof... ayo sarapan. " ajak mama Aylin yang tidak tau apa-apa.
Shofi langsung merubah wajahnya dengan penuh senyum mendengar panggilan mama Aylin. Dia mendekat dan duduk di samping mama Aylin.
Seperti biasa Nisa akan melayani suaminya dengan telaten. Mengambil kan apapun yang di minta suaminya, bahkan jika Erhan minta di suapi maka Nisa akan dengan senang hati menyuapinya. Mereka berempat makan cukup tenang, sangat tenang. Seperti keadaan sebelum tsunami datang.
"Erhan, Nisa. pagi ini mama akan pergi arisan, mungkin pulangnya nanti sore atau malam. " ujar mama Aylin memberi tahu anak dan menantunya.
"Baik ma, mama hati-hati ya? " kata Nisa dengan lembut.
"Iya. Apa kau akan bekerja hari ini? " tanya mama Aylin kemudian.
"Aku akan berangkat agak siang ma, karena ada yang harus aku lakukan di rumah terlebih dahulu. " kata Nisa.
"Baiklah."
"Sayang, aku berangkat dulu ya? " kata Erhan yang menyela pembicaraan mama dan istrinya.
Nisa kemudian bangkit dari duduknya dan mengantarkan suaminya sampai ke mobil dan seperti biasa Nisa akan menyalami tangan suaminya itu kemudian di balas Erhan dengan kecupan di seluruh wajah Nisa.
Shofi yang melihat semua itu mengepalkan tangannya, dan terdengar gemeretak gigi-giginya.
"Harusnya aku yang berada di sana. " gumamnya lirih. Lalu dia masuk ke dalam rumah.
Nisa masuk ke dalam rumah saat mobil suaminya sudah tak terlihat lagi, dia berpapasan dengan mama Aylin yang juga sudah bersiap akan keluar.
"Mama berangkat sekarang. " tanya Nisa sambil menyalami mama mertuanya itu.
"Iya sayang, hati-hati dirumah ya? " kata mama Aylin sedikit khawatir meninggalkan menantunya dengan Shofi di rumah berdua.
"Mama jangan khawatir, ada Ana dan Lisa yang akan menjagaku. " kata Nisa menenangkan mama mertuanya itu.
__ADS_1
"Baiklah." Akhirnya mama Aylin berangkat dengan di antar sopir pribadinya.
Nisa masuk ke dalam rumah, dan sebuah kalimat sambutan menyapanya.
"Dasar wanita murahan. "
Kalimat itu terdengar sangat nyaring di telinga Nisa. Membuat Nisa menoleh ke asal suara dan mulai menghitung dengan jarinya sambil mendekat ke arah Shofi.
" Katakan sekali lagi. " tantang Nisa.
"Murahan... kau wanita murahan yang sudah menyerahkan tubuhmu kepada Erhan. " kata Shofi sambil berteriak. Membuat semua yang ada di sana berhenti melakukan aktivitas mereka dan melihat keributan yang terjadi antara nyonya mudanya dan pelakor.
Ana dan Lisa akan mendekat, tapi segera dicegah Nisa dengan isyarat tangan.
"Katakan sekali lagi aku ini apa. " tantang Nisa kepada Shofi lagi untuk mengulangi kata-katanya tadi.
"Kau wanita murahan...."
Plak... plak... plak... plak....
Empat buah tamparan keras di arahkan ke wajah Shofi sesuai jumlah hinaan yang Nisa terima. Hingga keluar darah dari sudut bibir Shofi. Lalu Nisa langsung menjambak rambut Shofi yang terurai itu dengan cukup keras.
"Sudah cukup bagiku yang bersabar meladenimu yang ingin mendapatkan perhatian dari suamiku sejak semalam. Dan perlu kau tau, aku bukanlah wanita polos yang akan mudah kau injak-injak. Aku akan melawan jika ada seseorang yang ingin mengambil milikku, baik itu secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. " geram Nisa di telinga Shofi dengan wajah mendongak karena rambutnya ditarik cukup keras oleh Nisa.
Semua orang yang melihat kejadian yang baru saja terjadi seolah tak percaya, nona mereka yang lemah lembut berubah menjadi singa betina. Ana segera melihat ke arah sekitar, ada cctv yang menyorot ke arah mereka berdua. Dia segera menghubungi Erhan agar menyaksikan apa yang dilakukan nonanya itu kepada Shofi.
Nisa lalu melepaskan tarikannya pada rambut Shofi dan mendorongnya hingga membentur dinding cukup keras.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil apa yang menjadi milikku. " bisik Nisa mendekat ke arah Shofi yang sudah tak berbentuk lagi.
Lalu Ana dan Lisa segera menarik nonanya itu menjauh dari Shofi.
"Sudah nona, tenangkan dirimu. " bisik Lisa.
"Lepaskan aku Ana. Aku harus memberikan pelajaran untuk wanita ja*ang ini. agar tidak lagi mengganggu suamiku. " teriak Nisa yang tidak bisa mengontrol emosinya lagi.
"Nona, tarik nafas dalam-dalan dan hembuskan. " Bisik Lisa di telinga Nisa.
Nisa menurutinya, dan melakukannya beberapa kali hingga dia merasa tenang dan dapat mengontrol emosinya.
Tak lama, Erhan datang dengan berlari menghampiri istrinya yang sudah mulai tenang, dan langsung memeluknya. Di susul Kemal di belakangnya.
"Apa yang terjadi, sayang. " kata Erhan saat memeluk Nisa.
Nisa hanya terdiam, tanpa menjawab.
"Kalian berdua urus Shofi. " Perintah Erhan kepada Ana dan Lisa. Lalu menggendong Nisa ke kamarnya.
Lisa kemudian memapah Shofi duduk di kursi di bantu Ana. Lalu Lisa meminta pelayan untuk merawat luka Shofi.
"Apa yang sebenarnya terjadi. " tanya kemal kepada dua orang bodyguard Nisa.
"Nona Shofi tadi menghina nona Nisa dan itu membuat nona Nisa marah." kata Ana sambil menunjukkan video kepada Kemal.
Kemal bergidik melihat video itu, dia tidak menyangka kalau Nisa yang lemah lembut bisa berubah segarang ini.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka. " gumam Kemal.
"Kami juga tidak menyangka tuan. " ujar Lisa dan Ana.
Di kamar,
Erhan masih menenangkan istrinya itu, yang masih mengepalkan tangannya.
"Sudah tidak apa-apa, ada aku disini. "
"Aku tidak ingin milikku di ganggu. "
"Tidak, tidak akan ada yang mengganggu milikmu. Aku hanya milikmu. Dan akan tetap menjadi milikmu. Sekarang tenanglah. " kata Erhan yang terus memeluk istrinya itu.
Sampai terdengar sebuah nama yang disebut Nisa, sebelum dia terlelap.
"Abang Arkan. "
Erhan mengernyit mendengar nama abangnya di sebut Nisa sebelum dia tidur. Setelah membaringkan Nisa, Erhan lalu mengambil ponselnya dan sedikit menjauh dari Nisa lalu segera menghubungi Arkan.
"Hallo Erhan, tumben. ada apa? " sapa Arkan dari seberang telpon.
"Tidak ada apa-apa. Aku ingin menanyakan sesuatu tentang Nisa. "
"Memang kenapa? Ada apa dengan Nisa? " tanya Arkan sedikit khawatir dari seberang telpon.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin bertanya apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui tentang Nisa?"
"Aku rasa tidak. Nisa adalah anak baik dan penurut seperti yang kau tau, dan dia juga sangat manja. Kau pasti sudah tau kan? " kata Arkan terkekeh di seberang telpon.
"Iya kau benar, dia sangat manja ternyata, dan sangat mandiri juga." kata Erhan ikut terkekeh mengingat sifat istrinya.
"Tapi apakah masih ada yang tidak aku ketahui? " tanyanya lagi pada Arkan.
Arkan yang merasa aneh dengan pertanyaan Erhan tentang Nisa pun akhirnya bertanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Nisa. katakan yang sebenarnya. " Arkan akhirnya bertanya serius pada Erhan.
Erhan pun menceritakan kejadian yang baru saja terjadi di rumahnya. Dimana Nisa menampar, menarik rambut dan membenturkan kepala seseorang di tembok.
"Siapa dia? orang yang di aniaya Nisa. " tanya Arkan kemudian.
"Dia sepupu jauhku, dia sebenarnya mencintaiku tapi aku selalu menolaknya sejak dulu, dan kemarin Nisa bertemu dengan mantan kekasihku yang mengatakan kalau sepupuku itu akan melakukan sesuatu untuk merebutku darinya. Nisa lalu datang ke kantor dengan wajah cemas. Dan saat melihat pesan dari mama yang mengatakan kalau ssepupuku itu datang, wajahnya menegang namun segera bersikap biasa saja. "Jelas Erhan. Bahkan Erhan menceritakan rencana licik istrinya semalam itu kepada Arkan. hingga kejadian yang tadi terjadi.
" Sebelum terlelap, dia memanggil namamu, karena itu aku langsung menghubungimu. Aku pikir kau tau sesuatu. "
Arkan menghembuskan napasnya kasar, dan mengusap wajahnya dengan kasar pula. "
" Dia memiliki ketakukan berlebih, " Arkan menjeda kalimatnya.
"Dia takut kehilangan seseorang yang dia andalkan atau dia cintai. Dia menunjukan sifat manja padamu karena dia benci berpisah dengan orang yang dia cintai. Kau mungkin cinta pertama baginya, jadi dia merasa terusik dengan kehadiran penggangu di dalam pernikahan kalian, apalagi pernikahan kalian baru seumur jagung. Aku pernah berada di posisi yang sama denganmu saat ini. "
"Maksudmu."
Bersambung.
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca.