
Tengah malam Erhan terbangun karena merasakan tenggorokannya kering. Saat akan duduk, tubuhnya terasa berat karena ada yang menindih perutnya. Dan benar, saat dia meraba perutnya ada tangan halus yang sedang memeluknya. Erhan menoleh kesamping, dilihatnya wajah damai Nisa istrinya yang sedang tidur. Istri, seolah tak percaya Erhan sekarang sudah memiliki istri.
Dan apa ini, kaki Erhan juga tidak bisa bergerak karena ditindih sesuatu. Mata Erhan melotot saat merasakan kaki Nisa juga berada di atas kakinya. Nisa memeluk Erhan seperti sedang memeluk sebuah guling. Tiba-tiba kaki Nisa bergerak semakin keatas mengenai benda keramat milik Erhan. Ular yang sejak tadi mati suri akhirnya terbangun juga.
Sepertinya Erhan tidak bisa menahannya lagi. Dia akhirnya melepaskan pelukan Nisa dan berbalik menghadap kearah istrinya itu, dipandanginya wajah Nisa dengan lekat. Di singkirkannya anak rambut yang mengganggu pandangan matanya. Disibakkan rambut Nisa ke belakang, dan apalagi ini? Erhan melihat dua buah tonjolan menyembul dari balik piyama Nisa karena beberapa kancing atas yang terlepas, sehingga tanpa sengaja Erhan melihatnya.
Ya, Tuhan godaan apa ini. Saat Nisa masih belum siap, tapi nafsu sudah sampai di ubun-ubun. Karena sudah tidak bisa menahannya, Erhan akhirnya mendekat kewajah Nisa dan memberikan ciuman singkat di bibirnya.
"Maafkan aku Nisa, aku sudah tidak bisa menahannya. Toh kamu sudah halal bagiku. "
Erhan memberikan ciuman lagi kepada Nisa, kali ini tidak hanya kecupan, tapi disertai ******* lembut. Tangannya pun ikut aktif meraba dua buah gundukan squishy yang menyembul tadi. Sungguh pas di tangan Erhan yang besar.
Terdengar lenguhan dari bibir Nisa. Erhan menghentikan aksinya sebentar, setelah Nisa kembali tenang dia melakukannya lagi dengan lembut. Nisa yang merasa terusik akhirnya membuka matanya, dan apa yang dia lihat. Erhan sedang berada di atasnya dan menikmati bibirnya.
Tak kuasa Nisa akhirnya mengeluarkan air matanya. Erhan yang sedang menikmati bibir Nisapun akhirnya menghentikan aksinya saat mendengar isakan lirih itu.
"Maafkan aku Nisa, bukan maksudku. " Erhan merasa bersalah.
Nisa menggeleng dengan kuat, lalu memeluk Erhan dengan erat. Erhan yang merasa aneh dengan sikap Nisapun membalas pelukan Nisa.
"Maafkan aku, aku tau kau belum siap. Tapi maafkan aku yang tidak bisa menahan diri. "
Nisa masih terisak di pelukan Erhan, sambil menggelengkan kepalanya. Erhan yang tidak mengerti dengan sikap Nisa pun membiarkannya sampai Nisa merasa tenang. Setelah beberapa saat Nisa sudah merasa tenang akhirnya, Nisa melepaskan pelukannya.
"Aku yang seharusnya meminta maaf padamu Erhan. Aku masih belum menjadi seorang istri yang baik, aku masih belum siap memberikan hakmu dan menunaikan kewajibanku. " Nisa berucap masih sesenggukan.
Erhan menghapus air mata yang masih menetes di pipi Nisa.
"Maafkan aku Nis, seharusnya aku.... " Erhan tidak melanjutkan kalimatnya karena Nisa memberikan kecupan singkat di bibir Erhan. Erhan terbelalak dengan sikap Nisa.
"Aku siap... malam ini, esok atau kapanpun itu aku sudah siap menjadi istrimu seutuhnya. " Nisa berucap dengan yakin.
"Tapi,Nis. Aku tidak ingin kau melakukannya dengan terpaksa. "
__ADS_1
Nisa menggeleng kuat. "Tidak, aku tidak terpaksa. Aku sudah siap melakukan kewajibanku dan memberikan hakmu yang seharusnya sudah aku lakukan sejak tadi. Maafkan aku. "
Erhan langsung memeluk Nisa dengan erat, lalu mengecup keningnya dengan lembut.
"Terimakasih sayang. "
Erhan membaringkan Nisa dengan lembut, lalu mengucapkan doa dan ditiupkannya di ubun-ubun Nisa. Erhan memandang lekat wajah Nisa, membuat Nisa tersipu malu dan mengalihkan pandangannya. Namun Erhan menahannya, dia ingin menikmati wajah Nisa yang cantik tanpa noda. Lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Nisa. Secara spontan Nisa langsung memejamkan matanya, membuat Erhan tersenyum tipis. Lalu mulai menciumi seluruh wajah Nisa, dari kening turun ke mata, lalu ke hidung,pipi dan bibirnya lalu memagutnya dengan gerakan lembut, sehingga Nisa bisa mengimbanginya secara naluriah.
Erhan melepaskan ciumannya saat mereka merasa kehabisan nafas, dan tertawa secara bersamaan. Sungguh perasaan mereka tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata saat ini, baik Nisa maupun Erhan merasa sangat bahagia. Erhan mencium kembali bibir Nisa, kali ini dengan sedikit kasar karena Erhan sudah tidak bisa menahannya, tangannya pun sudah aktif bergerak dibawah sana membuka piyama yang dikenakan Nisa. Setelah semua terlepas Erhan lalu melepaskan pagutannya, dan melihat ciptaan yang terpahat indah di hadapannya. Sungguh, baru pertama kalinya Erhan melihat ciptaan Tuhan yang sesempurna ini. Nisa yang diperhatikan pun langsung menutup wajahnya karena malu, namun Erhan langsung mengalihkan tangan yang menutupi wajah cantik Nisa.
Tak menunggu waktu lama Erhan pun membuka satu persatu kancing piyama nya, dan terlihatlah tubuh berotot Erhan yang selama ini terbalut kemeja. Tampak tonjolan-tonjolan roti sobek di perut Erhan, yang membuat Nisa ingin menyentuhnya. Namun dia masih merasa malu. Erhan melepaskan satu persatu pakaiannya, hingga ia terlihat polos dan terlihatlah sosis panjang, besar dan berurat milik Erhan yang sudah siap tempur. Nisa yang melihatnya langsung menutup wajahnya karena malu.
"Erhan, bisakah itu di kecilkan sedikit. Aku rasa itu tidak akan muat. "
"Gubrak. "
Erhan yang mendengar celetukan Nisa merasa tidak mengerti, apanya yang harus dikecilkan? Ini adalah kebanggaannya sebagai seorang pria. Kalau dikecilkan rasanya dia tidak akan bisa memuaskan pasangannya.
Erhan lalu mengungkung Nisa di bawahnya. Kini Nisa tidak bisa mundur lagi. Sekarang atau besok dia akan melakukannya, Nisa akan menyerahkan dirinya sepenuhnya malam ini kepada suaminya.
Nisa mengannguk.
Erhan memberikan pemanasan terlebih dulu kepada Nisa, agar dia tidak merasa tegang. Karena sejak melihat miliknya, Erhan merasakan ketegangan yang dirasakan Nisa.
Setelah Nisa merasa relaks, Erhan mengarahkan senjatanya itu ke tempatnya. Nisa memekik kesakitan, Erhan yang melihat itu merasa kasihan dan berhenti.
Nisa yang tidak merasakan pergerakan Erhan pun membuka matanya. "Jangan berhenti, teruskan, aku akan menahannya. "
Erhan, langsung mencium bibir Nisa dan menggerakkannya di bawah sana hingga milik Erhan bisa masuk dengan sempurna. Perasaan Erhan dan Nisa merasa lega saat mereka berhasil.
Malam ini menjadi milik Erhan dan Nisa. Mereka melaluinya dengan perasaan cinta yang mereka rasakan, tidak ada keterpaksaan dan tidak ada paksaan. Mereka melakukannya dengan sepenuh hati, atas dasar cinta.
Setelah melakukan pelepasan, Erhan mengecup kening Nisa dan mengucapkan "Terima kasih". Dia hanya melakukannya sekali karena besok dia harus sarapan bersama dengan keluarganya dan mengantarkan mama ke bandara. Dia tidak ingin membuat Nisa tidak bisa berjalan esok pagi, atau membuat Nisa merasa malu karena jalannya yang aneh. Jadi untuk malam ini, cukup sekali saja. Entah kalau malam berikutnya Erhan tidak bisa janji kalau akan melakukannya sekali.
__ADS_1
"Tidurlah, besok pagi kita akan sarapan bersama dengan semua orang dan mengantarkan mama ke bandara. "
Nisa mengangguk, lalu tidur dengan memeluk Erhan. Sudah tidak ada kecanggungan lagi di antara mereka, yang ada adalah perasaan cinta yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Erhan membalas pelukan Nisa, setelah memasang alarm Erhan menyusul Nisa ke alam mimpi.
Pukul empat pagi, Erhan terbangun lebih dulu dan segera membersihkan diri. Setelah itu menyiapkan air hangat di bathub untuk Nisa berendam. Setelah selesai, lalu dia membangunkan Nisa yang masih terlelap. Mungkin dia kecapekan melayaninya sampai tidak mendengar suara adzan. Erhan menggoyangkan tubuh Nisa, tapi Nisa hanya menggeliatkan tubuhnya.
"Nisa, ayo bangun. Sholat subuh dulu, nanti tidur lagi. "
Mendengar kata subuh Nisa langsung terbangun, dan melihat jam masih pukul empat. Dia hendak turun, namun gerakannya tertahan karena rasa sakit yang dirasakan dibawah sana. Seperti ada yang mengganjal. Setelah ingat sesuatu dia merasa malu, karena dia juga saat ini sedang dalam keadaan polos. Erhan yang melihat tingkah Nisa hanya menggelengkan kepalanya, lalu mendekat. Tanpa aba-aba, Erhan langsung menggendong Nisa ala bridal style, yang membuat Nisa terpekik dan langsung memeluk leher Erhan. Karena merasa malu, dia membenamkan kepalanya didada bidang Erhan yang hanya mengenakam bathrobe.
Setelah sampai di kamar mandi, Erhan memasukkan Nisa kedalam bathub dengan perlahan.
"Berendamlah, itu akan membuatmu relaks. Aku ambil wudhu, setelah itu kita akan sholat berjamaah. "
Nisa mengangguk dan menikmati air rendaman dengan wangi aromaterapi yang menenangkan. Tak lama Nisa berendam, asalkan dia sudah merasa lebih baik sudah cukup. Karena waktu subuh juga tidak lama. Setelah membersihkan dirinya, Nisa keluar menggunakan bathrobe dan mengganti pakaiannya. Dilihatnya Erhan yang sudah siap dengan baju koko dan celana panjangnya. Karena di Turki tidak ada orang yang menggunakan sarung untuk sholat. Mereka menggunakan sarung hanya untuk bersetubuh dengan istrinya.
Pertama kalinya Erhan menjadi imam sholatnya, dia juga berharap Erhan akan menjadi imam yang akan membimbing nya kelak menuju surga. Pelafalan surat yang dibacakan begitu menyentuh hati, membuat Nisa tanpa sadar meneteskan air matanya.
Setelah sholat, Nisa mencium tangan Erhan dan tidur di pangkuannya. Erhan mengusap lembut kepala Nisa yang masih terbalut mukena.
"Kenapa? " tanya Erhan setelah melihat tingkah manja istrinya itu.
"Terimakasih, karena sudah hadir di hidupku. "
Erhan tersenyum mendengar ucapan Istrinya iti.
"Aku yang seharusnya berterimakasih karena kamu sudah merespon pria asing ini. " kekehnya.
Mereka berdua akhirnya tersenyum karena kekonyolan mereka dulu yang ikut perjodohan online.
"Mungkin, itu sudah jalan takdir kita bertemu Nisa."
"Kau benar. " Nisa bangkit dari baringnya dan menatap Erhan dengan intens. "Kita bertemu dengan cara yang sangat tak terduga. Jalan takdir memang susah untuk di tebak. "
__ADS_1
Bersambung.
Terimakasih sudah membaca.