
Sesuai agenda akhir pekan Nisa dan Erhan, hari ini mereka sudah bersiap untuk belanja keperluan junior. Mulai dari hal kecil sampai yang besar, mulai dari popok dan bedak sampai stroller bayi. Mereka akan membelinya hari ini. Tak lupa mama Aylin juga sudah bersiap sejak tadi. Orang yang paling antusias adalah mama Aylin untuk menyambut cucu pertamanya.
Sekarang mereka sudah berada di dalam salah satu mall milik Erhan, yang tidak Nisa ketahui. Karena Nisa tidak pernah menanyakan apa saja aset kekayaan yang dimiliki suaminya itu. Yang penting dia sudah mendapat nafkah lahir yang sangat lebih dari cukup dari suaminya belum lagi pemasukan dari butik yang langsung masuk ke rekeningnya. Masalah aset, mungkin nanti dibicarakan saat baby boy sudah dewasa dan akan meneruskan pekerjaan sang Daddy.
Mereka sudah berada si salah satu baby shop terbesar dan terlengkap dengan berbagai produk mulai dari yang murah hingga termahal, mulai dari yang bermerek hingga yang biasa-biasa saja. Karena itu mama Aylin menyarankan untuk pergi ke toko itu saja, agar tidak ke mana-mana lagi. Karena takut Nisa akan kelelahan seperti waktu itu.
"Apa kau capek sayang? " tanya Erhan yang mengkhawatirkan keadaan istrinya.
"Aku nggak apa-apa kok, mas. " jawab Nisa yang memang tidak apa-apa. Erhan saja yang terlalu mengkhawatirkan nya.
"Apa perlu kita sewa kursi roda, biar kamu nggak capek, yang. " kata Erhan lagi yang tidak mau istrinya itu kelelahan.
Mendengar hal itu Nisa langsung melotot ke arah Erhan. Bagaimana bisa suaminya itu menginginkan nya naik kursi roda.
"Mas, aku ini baik-baik saja. Nanti kalau aku merasa capek, aku akan duduk. Atau begini saja, aku duduk dan meminta para pegawai toko itu melayaniku. " jiwa sultan Nisa mulai bangkit, saat Erhan bertingkah menyebalkan.
"Ah, itu ide yang bagus sayang. Ayo kita lakukan hal itu saja. " Kata Erhan yang menyetujui usulan istrinya itu.
Nisa menepuk jidatnya dengan keras, tak tau lagi apa yang harus dia lakukan menghadapi suami posesifnya itu. Akhirnya Nisa pasrah menuruti apa yang diinginkan suaminya.
Kalau tanya mama Aylin dimana? Mama Aylin sudah mengembara mengelilingi toko bersama dengan Ana yang menemani, sedangkan Lisa masih setia melihat kebucinan majikannya. Sabar ya, Lisa.
"Lisa, kamu jaga istriku, aku akan menemui manager toko dulu. " kata Erhan memberi perintah
"Baik tuan. "
Nisa hanya mendesah pasrah melihat tingkah suaminya itu.
"Kau lihat suamiku itu, Lisa. Aku nggak tau kenapa dia jadi seposesif itu. " Nisa mulai curhat dengan Lisa. Karena Lisa adalah orang yang enak di ajak ngobrol. Beda dengan Ana yang memiliki sikap dingin, namun juga hangat disaat tertentu.
"Karena tuan sangat mencintai anda nona. Nikmati saja momen-momen seperti ini, karena momen seperti ini tidak akan kembali jika nona tidak hamil. " kata Lisa sambil mengulas senyum
"Kau benar. "
__ADS_1
Nisa nyaman jika berbicara dengan Lisa, karena Lisa bisa memberikan solusi yang menenangkan. Mengingat Lisa sudah memiliki seorang suami dan anak. Jadi mungkin karena itu dia bisa berfikir dewasa.
Erhan kembali menemui Nisa bersama dengan manager dan beberapa pegawai toko, untuk melayani nyonya Erhan atas permintaan Erhan sendiri. Bagi mereka ini adalah sebuah keberuntungan, karena orang besar seperti Erhan mau belanja di toko mereka, jadi dengan senang hati mereka akan melayani nyonya dan tuan Erhan dengan baik.
Nisa duduk di sebuah kursi panjang dan di depannya ada meja yang cukup lebar. Manager toko itu melayani Nisa langsung, dan ketika Nisa mengatakan keinginannya, manager itu langsung memberi perintah kepada pegawainya. Sebenarnya Nisa merasa kasihan kepada para pegawai itu karena harus bolak-balik mengambil apa yang Nisa inginkan.
Nisa mengetikkan sebuah pesan kepada suaminya.
✉️ "Nanti kamu harus ngasih tip buat pegawai toko ini. Kasihan mereka bolak-balik melayani kita."
📩 "Itu sudah tugas mereka sayang. Inilah yang di
sebut, pembeli adalah raja. "
Pesan dari Erhan itu langsung di baca Nisa, dan Nisa langsung melotot kearah suaminya itu.
📩 " Iya... iya... nanti aku kasih tip buat mereka. '
Akhirnya Erhan mengalah dengan permintaan istrinya itu.
"Apa-apa ini, Erhan? " tanya mama Aylin dengan kesal. karena banyak pakaian bayi yang tercecer di meja.
"Ulah mas Erhan ma. " kata Nisa dengan sedikit takut melihat kemarahan di wajah mama mertuanya.
Erhan sendiri yang jadi tersangka hanya nyengir kuda.
"Apa maksud semua ini, jelaskan sama mama. " pekik mama Aylin dengan sangat kesal.
"Aku hanya tidak ingin istriku kelelahan ma, jadi aku ingin mereka yang melayani kami. " kata Erhan dengan tampang tak berdosa.
Mama Aylin melihat ke arah Nisa, dan Nisa yang di lihat mama Aylin langsung menggeleng kan kepalanya. Mama Aylin langsung memijit kepalanha yang tiba-tiba pusing karena ulah anaknya yang sudah mau dipanggil daddy, tapi ulahnya seperti anak kecil.
Mama Aylin langsung duduk di kursi lain di sana. Dia ikut melihat baju-baju yang sudah di pilih Nisa.
__ADS_1
"Ya sudah, yang ini di bungkus. Dan yang lainnya bisa kalian kembalikan ke tempatnya. " putus mama Aylin pada akhirnya.
"Maafin Nisa ya, ma? kalau saja Nisa nggak menyarankan hal itu " kata Nisa dengan penuh penyesalan.
"Kamu nggak salah, sayang. Pasti kamu kesal karena sikap posesif nya kan. Jadi, Anak nakal ini yang salah. Selalu saja bikin ulah. " kata mama Aylin yang langsung menjewer telinga Erhan karena sangat kesal dengan ulah anaknya itu.
Mama Aylin akhirnya yang turun tangan mengatasi kekacauan yang disebabkan anaknya itu. Dia yang memilih beberapa barang yang di perlukan baby seperti stroller,mainan dan lainnya sesuai persetujuan Nisa. Karena untuk baju semua sudah lengkap. Mungkin bisa dipakai mulai baru lahir sampai satu tahun.
Acara belanja keperluan untuk junior sudah selesai, mereka memutuskan untuk langsung pulang, karena barang yang di bawa cukup banyak dan itu semua muat di mobil Ana dan Lisa yang sengaja membawa mobil yang berukuran besar tadi. Dan yang lainnya akan dikirim langsung ke rumah oleh pihak toko. Tak lupa, Erhan juga memberikan uang tip kepada para pegawai toko yang sudah dibuatnya kelelahan karena harus bolak-balik mengambil apa yang dibutuhkan istrinya.
Sesampainya di rumah, Mama Aylin langsung mengajak menantunya itu makan siang, karena jam makan siang sudah terlewat satu jam yang lalu. Mama Aylin tidak mau menantunya itu menahan lapar lebih lama, kasihan junior nanti. Erhan juga langsung duduk di dekat istrinya itu dan mengambil makanan sesuai seleranya.
"Mau aku suapi, yang? " tanya Erhan yang sudah ingin memasukkan sesendok nasi ke mulut Nisa.
"Nggak usah mas, nanti makin lama. Kita makan sendiri-sendiri aja, biar cepet. Aku juga mau langsung istirahar ini. Kakiku pegal, padahal jalan juga nggak terlalu lama. " Nisa akhirnya mengeluh kepada suaminya. Untung saja tadi Nisa mengikuti ulah suaminya itu yang minta di layani pegawai toko. Coba kalau Nisa berjalan keliling tadi, mungkin kakinya sudah bengkak.
"Ya sudah, cepat makan. Setelah ini kita istirahat. " putus Erhan akhirnya.
Dia lalu memakan makanan sendiri, begitu juga dengan Nisa. Setelah selesai makan mereka berdua meminta ijin kepada mama Aylin untuk beristirahat ,namun sebelumnya Erhan berpesan kepada para pelayanan jika ada barang bayi yang datang, suruh di antar ke kamar junior langsung di lantai atas.
Di dalam kamar, Nisa langsung merebahkan tubunya di ranjang, ada yang aneh menurut Erhan. Karena biasanya istrinya itu langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan diri telebih dahulu.
"Nggak bersih-bersih dulu, yang. " ujar Erhan mengingatkan.
Seolah terlupa, Nisa langsung bangkit dari rebahannya dan langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu mengerjakan kewajibannya. Walau tubuh sudah terasa lelah, tapi tidak menyurutkan Nisa untuk melakukan kewajibannya.
Nisa lalu merebahkan tubuhnya lagi di atas ranjang, Erhan mendekat lalu duduk di tepi ranjang. Dan membawa kaki istrinya itu di atas pangkuannya. Nisa yang merasa tak enak ingin menarik kakinya, namun ditahan oleh Erhan.
"Diamlah aku ingin membuatmu relaks, jangan merasa sungkan. Okey. " kata Erhan kepada Istrinya itu yang terlihat sungkan.
"Jangan begitu mas, nggak sopan. "
"Nggak apa-apa, aku yang menginginkan nya. Sekarang, santailah lalu tidur. " Erhan lalu memijit kaki Nisa perlahan. Mungkin karena merasakan kenyamanan tangan Erhan, tak butuh waktu lama akhirnya Nisa tertidur.
__ADS_1
Erhan yang melihatnya tersenyum bahagia, karena Nisa mendapatkan kenyamana dalam sentuhannya.
"Ini semua tidak ada artinya, dibanding pengorbananmu yang mau mengandung benihku."