
Setelah acara resepsi dan liburan mereka berakhir, akhirnya keluarga Nisa akan kembali ke Indonesia. Mereka tidak bisa meninggalkan pekerjaan terlalu lama. Dan disinilah mereka berada. Nisa memeluk kedua orang tua nya bergantian sebelum naik pesawat yang sudah di siapkan Erhan. Tak Henti-hentinya Nisa menangis karena harus di tinggal lagi oleh keluarga tercintanya.
"Jaga dirimu baik-baik, ya? ingat, sekarang kamu memiliki janin di perutmu. Jangan terlalu aktif bekerja dan jangan terlalu lelah. Kabari ibu jika kamu lahiran, ibu ingin melihat cucu ibu. " Bu Aisyah memeluk Nisa erat dengan memberikan nasehatanya.
"Iya bu, Nisa pasti akan mengabari ibu, dan Nisa akan menjaga diri Nisa dengan baik. " kata Nisa dengan membalas pelukan ibunya
Nisa kemudian memeluk sang ayah, cinta pertamanya.
"Jaga dirimu baik-baik disini. jaga juga calon cucu ayah. Kamu juga jangan lupa untuk selalu memperhatikan suamimu, jangan sampai lengah. Suami juga membutuhkan perhatian dari istrinya, walau dia tidak mengatakannya. Kemarin saat resepsi, ayah mendengar banyak wanita disini yang mengagumi suamimu. Jadi ayah berpesan, kamu harus bisa menjaga keharmonisan rumah tanggamu, nak. " Nasehat ayah Ibnu, berbisik di telinga anaknya.
Nisa hanya mengangguk menanggapi nasehat ayahnya. Tak dapat dipungkiri, memang banyak wanita disini yang menginginkan suaminya itu. Seorang CEO muda tampan dan kaya raya, siapa yang tidak menginginkannya. Setelah berpamitan, seluruh keluarga Nisa akhirnya masuk ke dalam pesawat pribadi yang disiapkan Erhan.
Akhirnya, pesawat pun lepas landas dan tangis Nisa pun pecah di dalam pelukan suaminya. Dia merasa sedih karena harus ditinggalkan keluarganya.
"Tenanglah sayang, kan masih ada aku dan mama disini yang akan selalu bersamamu. Jangan bersedih lagi, okey! ingat kondisi janin dalam perutmu. Jika kau bersedih kasihan dia, kata dokter itu akan mempengaruhi kondisi janin. " Erhan berusaha menenangkan dan memberi pengertian kepada istrinya itu. Dia tahu hormon wanita hamil memang sering berubah-ubah, jadi Dia berusaha untuk menenangkan, agar tidak terjadi apa-apa dengan kehamilan istrinya itu.
Mendengat kekhawatiran suaminya, Nisa berusaha mengontrol emosinya. Dia harus menjaga kondisi bayi di dalam kandungannya agar tidak terjadi masalah. Nisa menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan nya perlahan. Dilakukannya berkali-kali sampai dia merasa tenang.
"Apa kamu sudah bisa tenang? " tanya Erhan yang sudah tidak mendengar tangisan dari istrinya itu.
Nisa hanya mengangguk dan terus memeluk suaminya dari samping. Erhan pun membalas pelukan istrinya itu. Sedangkan mobil terus melaju membelah jalanan menuju mansion Erhan.
Sesampainya di mansion, Erhan langsung mengajak Nisa masuk ke dalam kamar setelah tidak di dapati mama Aylin di mana-mana. Mungkin mamanya itu sedang tidur siang atau sedang keluar. Entahlah, Erhan tidak peduli. Toh mamanya itukan sering melakukan sesuatu yang di luar dugaan. Saat ini Erhan hanya berfokus pada istrinya itu, agar cepat istirahat. Ya, Sekarang Erhan terlihat lebih posesif kepada istrinya itu.
"Tidurlah, sayang. Kamu pasti lelah. " ujar Erhan ketika sampai di dalam kamar mereka.
"Aku mandi dulu, bersih-bersih badan. " Nisa memang tidak pernah melupakan kebiasaannya itu, yang selalu membersihkan badannya setelah keluar dari rumah. Seolah sudah menjadi kewajiban baginya.
Erhan pun mengerti. Dia lalu menuju ruang kerjanya untuk mengambil laptop dan beberapa berkas yang harus dia pelajari. Karena hari ini Erhan memang tidak masuk kerja karena harus mengantar keluarga istrinya ke bandara. Dia juga akan mengadakan rapat virtual satu jam lagi.
Erhan kembali ke kamar, dilihatnya sang istri sudah berpenampilan santai ala rumahan, memakai jubah daster agar perutnya nyaman. Nisa yang melihat suaminya masuk dengan membawa laptop dan beberapa berkas pun mengernyitkan alisnya.
__ADS_1
"Apa yang akan dilakukan suaminya dengan semua itu. " pikirnya.
Melihat kebingungan di wajah Nisa, Erhan pun mengerti. Dia lalu menaruh bawaannya di meja yang ada dikamarnya.
"Istirahatlah, aku akan ada rapat satu jam lagi. " katanya sambil menghidupkan laptop.
"Kenapa disini mas, nggak di ruang kerja aja?" tanya Nisa bingung.
"Aku ingin bekerja sambil melihat istriku. Sudah tidurlah dulu, aku akan bersiap. "
Nisa mengerti dan dia sudah bersiap naik ke atas ranjang. Namun apa yang terjadi, Nisa tidak bisa tidur dan hanya membolak balikkan tubuhnya gelisah. Erhan yang melihat istrinya seperti itupun mendekat.
"Kenapa? " tanya Erhan yang sudah berada di tepi ranjang.
"Aku ngantuk, tapi nggak bisa tidur. " rengek Nisa
"Lalu? " Erhan mengernyit tak mengerti.
"Kamu mau apa? atau anak daddy yang mau apa? " tanya Erhan balik sambil mengusap perut Nisa.
Nisa meraskan gelenyar aneh di tubuhnya. Padahal Erhan sering melakukannya setelah tau dia hamil, mengusap dan mencium perut istrinya yang sudah terlihat sedikit menojol itu. Apakah ini karena hormon kehamilannya???
"Kalau aku bilang, anak daddy ingin di tengokin. Apakah daddy mau nengokin dedek bayinya? " kata Nisa pada akhirnya dengan malu-malu.
Erhna langsung mendongak menatap Nisa tak berkedip?
"Seriously? " ceplos Erhan tak percaya.
Nisa hanya mengangguk malu-malu.
"Oh, sial.... kenapa. di saat seperti ini? " Erhan lalu menuju meja tempat berkas, laptop dan ponselnya berada. Dia lalu mengetik sesuatu dan langsung dikirimkan ke asistennya.
__ADS_1
✉️ "Tunda rapat dua jam lagi. "
Sebuah pesan singkat dan jelas tidak ingin dibantah. Lalu dia menonaktifkan ponselnya agar tidak ada yang mengganggu, setelah itu mengunci pintu kamarnya dan menyalakan peredam suara.
Erhan lalu berjalan mendekati istrinya yang masih terlihat malu-malu, karena mungkin ini pertama kalinya dia mengajak Erhan bermain duluan, di siang hari pula dan disaat rapat akan di adakan. Sungguh keinginan Nisa atau babby nya ini yang membuat Erhan merasa senang dan sangat bersemangat siang ini. Dia sampai menunda rapat dua jam demi mengabulkan keinginan istrinya yang jarang di minta darinya. Erhan tidak akan melepaskan kesempatan langka ini.
Akhirnya siang itu, mereka berdua melakukan olahraga ranjang yang menyenangkan, saling berbagi peluh dan kenikmatan dengan Nisa yang mendominasi permainan saat ini. Karena dialah yang menginginkan nya sejak awal. Melihat itupun membuat Erhan senang tak terkira, rupanya kehamilan istrinya saat ini sangat menguntungkan baginya. Melihat Nisa yang begitu agresif dan mendominasi membuat Erhan merem melek dibuatnya.
Satu jam lamanya mereka memadu kasih, akhirnya mereka berdua menyelesaikan ritual suci siang itu. Dengan Nisa yang sudah merasa kelelahan dan akhirnya tertidur dengan lelap. Erhan kemudian bangkit dari tidurnya setelah melihat istrinya itu sudah terlelap. Lalu menyelimuti tubuh polos istrinya sampai leher, sedangkan Erhan segera menuju kamar mandi sambil memunguti pakaian yang berserakan di lantai.
Setelah telihat segar Erhan segera mengganti pakaian nya, dan mulai bersiap melakukan rapat, di nyalakan ponselnya yang mati tadi, dan terdapat beberapa panggilan tak terjawab dari Kemal dan beberapa pesan yang berisi umpatan kekesalan kepadanya. Erhan segera menyalakan laptop nya lagi, dan menghubungi Kemal.
"Ada apa kau menghubungi ku. " kata Kemal di seberang sana dengan ketus.
Erhan hanya menanggapi nya dengan tertawa lebar, menertawakan kekesalan asistennya itu.
"Ayo kita lakukan rapat sekarang. "
"Kau ini, bisa tidak tidak berbuat seenaknya seperti ini. untung ini hanya rapat dengan karyawan, coba kalau rapat dengan klien. Mau di taruh di mana mukaku... " Kemal terus saja ngomel, membuat Erhan memutar bola matanya jengah.
"Sudah ngomelnya. Ayo segera kita rapat sebelun istriku bangun. " kata Erhan santai menanggapi omelan Kemal. Dan itu sukses membuat Kemal melotot tak percaya.
"Dasar, suka seenaknya sendiri. Dasar CEO arogan. " ketus Kemal yang masih mengumpati atasannya itu.
Akhirnya mereka pun melakukan rapat virtual, dengan kekesalan di hati Kemal dan kebahagiaan di hati Erhan.
Erhan melakukan rapatnya dengan sesekali melihat ke arah istrinya, takut kalau istrinya itu bangun.
Bersambung.
Terimakasih sudah membaca.
__ADS_1