
Hari ini Erhan merasa sangat bahagia,dan kebahagiaannya terasa lengkap dengan berita kehamilan istrinya. Sungguh nikmat mana lagi yang kau dustakan. Tuhan telah memberikannya seorang istri yang sangat cantik dan baik hati. Di tambah kehadiran calon buah hati mereka yang akan menambah kebahagiaan mereka berkali-kali lipat.
Erhan segera membawa istrinya ke kamar pengantin mereka walau acara belum selesai. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan istri dan calon bayi yang ada dalam kandungan Nisa. Erhan tidak ingin istrinya itu merasa kelelahan dan akan berakibat fatal.
Semua orang memaklumi perlakuan posesif Erhan itu, karena bagi mereka yang sudah menikah pasti pernah merasakan hal yang sama. Jadi, mereka tidak masalah menghadiri pernikahan tanpa sang tuan rumah. Karena masih ada mama Aylin dan Kemal di sana dan beberapa petinggi perusahaan yang datang untuk menyambut para tamu yang hadir.
Di kamarnya, Erhan memperlakukan Nisa seperti seorang ratu. Dia yang sudah merasakan perhatian suaminya selama ini bertambah di buat pusing dengan keposesifan sang suami yang terlalu berlebihan menjaganya.
Mereka berdua berbaring di ranjang, setelah membersihkan diri. Erhan memeluk istrinya dari belakang sambil mengelus perut Nisa yang masih rata namun sudah sedikit keras.
"Sejak kapan kamu tau kalau ada junior di sini, sayang?" tanya Erhan yang masih mengelus perut Nisa.
"Baru tadi pagi sih, mas"
"Haaah....beneran?" tanya Erhan tak percaya.
"Sebanarnya aku sudah merasa curiga sejak kemarin sebelum aku tidur siang. Ingatkan?" yesha mengingatkan
Erhan mengangguk.
"Kemarin aku merasa pusing banget, terus aku minta ijin ke kamar....."
Nisa mulai menceritakan kecurigaannya kemarin hingga minta bantuan kepada Lisa dan Ana untuk membelikan alat tes kehamilan dan beberapa pernak-pernik untuk kejutan hari ini. Kalaupun Nisa tidak hamil, dia bisa menyimpan kotak hadiah dan kaos kaki bayi untuk lain kali.
"Teruss...?" tanya Erhan penasaran.
"Aku baru melakukan tesnya pagi ini. Karena katanya air seni pagi hari bagus untuk melakukan tes kehamilan. Dan itu semua terbukti kan. Aku dapat garis dua di hari bahagia kita." kata Nisa dengan penuh bahagia.
"Kau benar ini adalah kebahagiaan yang sungguh tak terkira. Penerusku ada di sini." Erhan terus mengusap perut Nisa.
"Itu artinya kamu belum memeriksakan anak kita dong?" tanya Erhan kemudian.
"Belum," jawab Nisa singkat. Karena dia sendiri sudah sangat mengantuk.
"Baiklah besok setelah sarapan kita akan langsung ke dokter."
Nisa hanya menganggukkan kepalanya di dalam pelukan suaminya, dan tak lama terdengar suara dengkuran halus dari bibir mungil Nisa.
Erhan terkekeh melihat tingkah istrinya itu yang mudah sekali tertidur,padahal baru saja mereka sedang mengobrol. Malam ini tidak ada ritual suami istri yang mereka lakukan. Erhan tidak akan menyentuh istrinya sebelum dia berkonsultasi dengan dokter besok. Dia akan menahan diri demi istri dan calon anaknya.
Pagi harinya kedua keluarga telah berkumpul di restoran untuk sarapan, begitu pula dengan Erhan dan Nisa. Mereka tidak terlambat lagi untuk sarapan kali ini. Disana juga ada Alima yang duduk bersebelahan dengan Kemal.
"Alima, kapan kamu akan menikah dengan Kemal." Celetuk Nisa kepada sahabatnya itu. Membuat semua pandangan beralih ke arah KEmal dan Alima.
__ADS_1
"Doakan saja secepatnya nyusul kalian." Ujar Kemal dengan santai, tapi tidak dengan Alima dia menjadi salah tingkah dan merasa sangat malu.
"Kalian berdua beneran pacaran?" pertanyaan itu keluar dari Alina, istri Arkan.
ALima hanya mengangguk mendengar pertanyaan Alina.
"Aahhhh, syukurlah. Kalau kalian beneran mau menikah itu artinya Nisa tidak akan kesepian di sini." kata Alina yang baru di sadari semua orang.
"Benar juga katamu." Arkan menimpali.
Dan mereka pun melanjutkan makannya dengan tenang.
"Ma...aku dan Nisa tidak pulang bersama kalian. Karena aku akan memeriksakan kandungan Nisa dulu." kata Erhan setelah mereka selesai makan.
"Jadi belum di periksakan, Nis?" tanya bu Aisyah kepada anaknya itu.
"Belum, bu. Baru sekedar testpack aja." kata Nisa dengan wajah malu.
"Iya, baru ketahuan kemarin pagi sebelum acara katanya, bu." Sekarang Erhan yang menimpali.
"Ya, sudah kalau begitu. Kalian segera ke rumah sakit dan periksakan keadaan calon anak kalian. Mama dan keluarga Nisa akan segera kembali ke mansion." sekarang giliran mama Aylin yang bicara.
Nisa dan Akhirnya meminta ijin terlebih dahulu untuk segera ke rumah sakit dengan di antarakan seorang sopir.
Mereka berdua telah sampai di sebuah rumah sakit besar di sana. Erhan juga sudah mengambil antrian untuk istrinya. Sebenarnya Erhan bisa langsung masuk untuk segera memeriksakan kandungan istrinya itu. Namun Nisa melarang, karena itu baginya tidak sopan Dan jadilah dia disini seorang CEO besar sekelas Erhan harus mengantri dan menjadi pusat perhatian banyak orang hanya untuk menuruti keinginan istrinya ini.
"Selamat pagi, nona Nisa dan tuan Erhan sekarang ada keluhan apa anda kemari? " kata dokter Florence yang masih menahan senyumnya jika berhadapan dengan mereka berdua.
"Dokter bisa nggak jangan menertawakan kami seperti itu? " kata Erhan yang merasa kesal dengan dokter Flo.
"Maaf tuan Erhan. " dokter Flo menetralkan keadaanya dulu sebelum berucapa lagi.
"Ada yang bisa saya bantu nona? " tanyanya kemudian.
Nisa lalu merogoh tas nya, lalu memberikan alat tes kehamilan kepada dokter Flo. Dan diterima oleh dokter.
"Garis dua yang artinya positif. Kapan terakhir kali anda menstruasi? " tanya dokter Flo sambil mencatat keterangan dari Nisa.
"Sekitar tiga bulan yang lalu, setelah pernikahan kami, dan setelah kami melakukan malam pertama. Dan paginya aku mendapat tamu bulanan. hingga sampai saat ini aku belum dapat tamu bulanan dokter. " Nisa memberikan keterangan nya.
"Apa ada keluhan selama ini, mual muntah barangkali atau apa? " tanya dokter flo lagi.
"Tidak dokter, aku tidak merasakan apapun selama kehamikanku. Aku juga tidak menginginkan Apa-apa selama ini. Hanya tiap malam dini hari sering terbangun karena lapar. Itupun aku hanya bisa makan buah atau roti dan susu. Untuk makanan lain ga bisa masuk, dok. ' kata Nisa memberikan keterangan nya lagi.
__ADS_1
"Baiklah silahkan rebahan di ranjang itu. " Dokter Flo menunjukan sebuah brangkar pasien yang terdapat monitor di sebelahnya.
Nisa menuju brangkar itu, dan dibantu Erhan untuk berbaring di atasnya. Dokter akhirnya mengoleskan gel di perut bagian bawah Nisa dan menggerakkan alat yang dipegangnya.
"Keadaan bayi bagus ya, sehat. " kata dokter sambil memperhatikan monitor.
"Yang mana dokter?" kini Erhan yang penasaran.
"Ini... " kata dokter yang menunjukkan sebuah janin yang sudah sedikit berbentuk .
"Perkiraaan usianya sembilan minggu, nona, tuan. Untung segera ketahuan kalau hamil. Takutnya keadaan ibu yang lemah atau bayinya yang lemah." dokter Fio menjelaskan keadaan yang mungkin terjadi saat kehamialan awal, atau trimester pertama.
"Tapi karena adek bayinya menempel dengan kuat di rahim sang mama membuat bayi ini bertahan dan tumbuh dengan baik. "
"Alhamdulillah... " sebuah kata yang terucap dari mereka berdua.
"Kalau jenis kelaminnya sudah kelihatan dok? " tanya Erhan dengan antusias.
"Belum, tuan Erhan. Nanti di usia kandungan lima bulan ke atas kita baru bisa melihat jenis kelamin anak anda. " jelas dokter Flo dengan sabar.
Setelah membersihkan gel di perut Nisa mereka kembali duduk berhadapan dengan dokter.
Dokter menjelaskan apa saja yang boleh di konsumsi dan tidak boleh di konsumsi ibu hamil. Hormon yang membuat mood ibu hamil gampang berubah, dan ngidam yang mungkin akan terjadi selama kehamilan. Dokter Flo menjelaskan semua dengan detail sehingga bisa di mengerti kedua pasangan calon orang tua itu.
"Ada lagi yang ingin di tanyakan? " tanya Dokter Flo setelah memberikan penjelasan.
"Aku mau tanya dokter. " Erhan akhirnya angkat bicara, saat istrinya tidak bertanya lagi.
"Silahkan tuan. "
"Bolehkah kami melakukan hubungan suami istri selama kehamilan istriku. " tanya Erhan tanpa tau malu.
Blush... wajah Nisa langsung memerah dan dia langsung tertunduk.
Melihat respon Nisa dokter Flo hanya tersenyum. Biasa kalau suami yang tanya, pasti tidak jauh-jauh dari urusan ranjang.
"Boleh tuan, apalagi nona Nisa sudah memasuki trimester ke dua. tapi tetap durasinya dikurangi ya? Agar calon ibu tidak kelelahan dan tidak terjadi kontraksi dengan janin. Kecuali nanti saat trimester tiga, boleh melakukan sesering mungkin untuk membuka jalan lahir untuk calon bayi. " terang dokter Flo.
"Baik, dokter. Terimakasih atas semua informasi nya. "
"Sama-sama tuan dan nona Erhan. "
Erhan dan Nisa akhirnya bernapas lega. Ternyata calon bayi mereka sudah tiga bulan berada di perut Nisa tanpa mereka ketahui.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih sudah membaca.