
Hari ini, Erhan akan mengantarkan Nisa kemanapun dia pergi, karena besok Erhan akan memboyong Nisa ke Turki. Jika kalian bertanya apakah mereka melakukan sesuatu yang enak semalam, maka jawaban nya adalah tidak. Karena pada siang harinya, Nisa sudah kedatangan tamunya. Dan itu Artinya, Erhan harus berpuasa kurang lebih satu minggu lagi untuk acara unboxing keduanya.
"Sabar ya Erhan? "
Tujuan Nisa saat ini adalah butik, karena di sini lah tempat Nisa mencari rejeki dan memiliki banyak teman. Sebelum berangkat ke butik Nisa meminta Erhan mengantarnya ke restoran ayahnya dan meminta kepada karyawan ayahnya itu untuk menyiapkan makan siang di butiknya nanti. Setelah pemesanan selesai kini Erhan dan Nisa melanjutkan perjalanan mereka ke butik.
Kedatangan Nisa di butik membuat heboh orang yang ada disana. Mereka tidak mengira, kalau owner mereka yang masih pengantin baru sudah masuk kerja, di antar suaminya lagi. Pemandangan itu tidak mereka sia-siakan, kapan lagi ketemu suami sang owner yang kadar ketampanannya diatas rata-rata produk lokal. Aura pengantin baru masih terasa ketika melihat mereka berdua, karena mereka terlihat sangat bahagia.
"Alima kemana? " tanya Nisa kepada salah seorang pegawainya.
"Mbak Alima sedang ke kamar mandi, mbak. " jawab pegawai tadi.
"Oh, ya sudah. nanti kalau sudah selesai sueuh Alima datang ke ruanganku ya. "
"Oke mbak. "
Nisa dan Erhan masuk ke dalam ruang kerja Nisa. Erhan langsung duduk di kursi panjang yang ada di sana memainkan ponselnya dan memeriksa beberapa pesan yang masuk. Sedangkan Nisa duduk di kursi kerjanya Dia memeriksa beberapa berkas yang belum di periksa. Karena beberapa hari lalu dia disibukkan dengan persiapan pernikahannya.
Tak lama, pintu ruangan di ketuk. Setelah mendapat ijin masuk, pintu terbuka dan Alima masuk dengan membawa berkas ditangannya. Dia menyapa Erhan disana dengan menundukkan kepalanya, lalu berjalan mendekati meja kerja Nisa dan mereka duduk berhadapan.
"Udah masuk aja ini pengantin baru. " goda Alima kepada sahabat nya itu
"Apaan sih, " Nisa kemudian mengambil berkas yang dibawa Alima dan memeriksanya.
"Kirain mau libur beberapa hari gitu, sekalian honeymoon. "
"Ga, ada. Kerjaan dulu aja." Kata Nisa sambil memeriksa berkas ditangannya. "Nanti ada yang mau aku omongin sama kamu, ma. Jadi sebaiknya kira selesaikan ini dulu. "
"Oke."
Mereka berdua akhirnya serius mengerjakan laporan yang ada di hadapan mereka. Setelah beberapa saat akhirnya mereka selesai dan Nisa merasa lega karena sudah tidak ada pesanan untuk beberapa hari kedepan. Nisa akhirnya mengajak Alima duduk santai di kursi yang tersedia di sana. Nisa duduk di sebelah Erhan, dan Alima duduk di kursi single sebelah Nisa.
"Mau ngomong apa sih, kelihatanya serius amat. "
kata Alima yang sudah tak sabaran.
"Ma, besok aku besok dan Erhan akan terbang ke Turki. "
"Apa! " Alima seolah tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
Nisa mengangguk.
"Haruskah secepat itu. ? "
"Erhan memikiki tanggung jawab besar disana dan aku sebagai istrinya sekarang harus ikut kemanapun dia pergi. "
"Lalu bagaimana dengan butik? "
__ADS_1
"ini yang akan aku bicarakan padamu." Nisa menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan.
"Aku titipkan butik padamu ya? Nanti ada mbak Alina dan ibu yang akan datang untuk melihat butik. Mereka pasti membutuhkan bantuanmu. Hanya kalian bertiga yang aku percaya untuk mengurus butik ini. Kau tau sendiri, butik ini adalah impianku sejak dulu. Dan kita memulainya dari awal, jadi hanya kau dan aku yang tau perkembangan butik ini. "
Alima mengerti.
"Hanya kau, ibu dan mbak Alina yang aku percaya. Aku tidak akan menyerahkan butik ini ke sembarang orang. "
Alima langsung memeluk Nisa. "Aku pasti merindukanmu, Nis." Alima terisak di pelukan Nisa.
"Aku juga pasti merindukanmu mu, Ma. "
Mereka akhirnya melepaskan pelukan. Dan saling mengusap airmata satu sama lain.
"Kalau kau ingin bersamaku terus ada satu cara sih, ma. " kata Nisa kemudian.
"Apa? " tanya Alima penasaran.
"Menikahlah dengan Kemal. " Nisa lalu tertawa meledek.
"Cih.. " Alima membalasnya dengan decihan.
"Ya sudah, aku minta tolong padamu, siapkan tempat untuk makan siang. kita akan makan siang bersama hari ini. Tutup butik selama makan siang, setelah itu, terserah kalian mau lanjut buka apa tutup. Aku juga mengundang Nayra. "
"Baiklah, Nayra pasti juga akan sedih, Nis. " Alima lalu berdiri dan meninggakkan mereka berdua di dalam ruangan.
Nisa berbalik menghadap Erhan, Erhan dengan spontan merentangkan tangannya. Dan Nisa langsung berhambur masuk kedalam pelukan Erhan. Saat ini Nisa memang butuh pelukan hangat dari seseorang dan Erhan memberikannya kehangatan itu.
"Ada acara apa ini, Nis tumben." tanya Nayra yang penasaran.
"Ah, mbak Nayra masak ga tau. Mbak Nisa kan baru menikah, jadi mungkin ini syukurannya mbak Nisa." Celetuk salah satu pegawai yang sok tau.
"Beneran? " tanya Nayra kepada Nisa.
Nisa hanya tersenyum menanggapinya.
"Ayo, semua silahkan dimakan. Dihabiskan ya, kalau ga habis nanti bisa di bungkus dan di bawa pulang deh, biar ga mubadzir. " Nisa menyuruh semua orang untuk menyantap makanannya.
Dan tanpa sungkan lagi mereka segera mengambil makanan. Nisa yang melihat itu merasa bahagia. Nisa tidak akan mengatakan maksudnya untuk mengumpulkan semua orang sebelum mereka selesai makan. Karena Nisa tidak ingin mereka kehilangan selera makan setelah mendengar berita yang akan diberikan Nisa. Erhan yang melihat wajah sendu istrinya pun langsung merangkulnya dari samping dengan satu tangan, dan tangan satunya dipakai untuk menggenggam tangan Nisa. Nisa yang melihat perlakuan suaminya yang manis itu menoleh dan tersenyum padanya. Lalu merebahkan kepalanya di pundak suaminya, kenyamanan dirasakan Nisa setiap kali Erhan bersikap manis padanya.
Perlakuan manis Erhan itu tak luput dari pandangan Alima. Dia ikut bahagia, karena sahabatnya itu mendapatkan suami yang luar biasa dan menyayangi Nisa dengan tulus.
Setelah acara makan siang selesai, mereka masih asik ngobrol santai antara satu sama lain, hingga ucapan Nisa menghentikan semuanya.
"Maaf teman-teman semua ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepada kalian semua. " kata Nisa setelah melihat semua orang tenang.
Semua orang terdiam menunggu apa yang ingin Nisa sampaikan, kecuali Alima. Dia memasang wajah sendu kearah Nisa.
__ADS_1
"Besok, aku akan ikut suamiku pulang ke Turki. Dan kemungkinan akan menetap di sana. "
Sebuah berita yang membuat semua orang saling berpandangan setelah Nisa menyampaikannya.
"Serius... secepat itu? " tanya Nayra yang masih tidak percaya.
Nisa mengangguk, lalu mengatakan alasanannya untuk pergi ikut suaminya. Dan butik akan tetap berjalan dibawah tanggung jawab Alima dan kakak iparnya. Itulah yang di sampaikan Nisa hari ini. Membuat semua orang yang awalnya bahagia berubah menjadi sedih, karena akan ditinggal owner yang mereka sayangi.
Setelah menjelaskan semuanya, satu persatu pegawai Nisa memberikan pelukan kepada Nisa, begitu pula dengan kedua sahabat Nisa yang sudah dianggap saudara sendiri.
Erhan yang menyaksikan itu semua merasa terharu, ternyata istrinya itu sangat di sayangi dan dihormati semua orang. Dia berjanji pada dirinya sendiri akan menyayangi Nisa dengan penuh limpahan cinta dan kasih sayang. Dan akan membuat semua orang menghormatinya sebagaimana semua orang menghormatinya sebagai pemimpin.
Setelah acara perpisahan itu selesai, Nisa mengajak Erhan untuk pulang. Karena dia juga harus berkemas untuk keberangkatannya besok. Erhan mengiyakan keinginan Nisa iti. Toh, mau dipaksa jalanpun dia tidak akan mau, karena suasana hati Nisa yang kurang baik.
Sesampainya di rumah, mereka berdua langsung menuju kamar. Dan seperti biasa Nisa akan langsung pergi kekamar mandi. Erhan menggelengkan kepalanya jika melihat kebiasaan istrinya itu, sungguh kebiassan yang tidak bisa diganggu gugat. Erhan merebahkan dirinya di atas tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Tak lama Dia melihat Nisa keluar menggunakan bathrobe.
Erhan meneguk salivanya kasar melihat leher jenjang Nisa yang dihiasi rambut-rambut halus. Erhan lalu bangkit dan menghampiri Nisa yang sedang mengambil pakaian di lemari. Dua tangan Erhan langsung memeluk pinggang ramping Nisa dari belakang dan itu membuat Nisa terpekik kaget.
"Mas, iiihhh... " teriak Nisa spontan dan memukul tangan Erhan yang melingkar di perutnya. Nisa sudah memutuskan saat ini akan memanggil Erhan dengan sebutan Mas. Entah besok, kalau dia mau menggantinya lagi. Dan Erhan setuju-setuju saja dengan panggilan itu.
Erhan tersenyum dan menciumi leher Nisa yang sangat harum, membuat Nisa kegelian.
"Mas, geli... " ujar Nisa manja dan berusaha melepaskan diri.
"Aku kangen... " balas Erhan tak kalah manja.
"Kan dari tadi kita sama-sama terus? " kata Nisa tak mengerti.
"Dari tadi aku hanya menyaksikan drama para wanita. "
Nisa langsung melotot mendengar ucapan Erhan, dia tak terima dibilang drama sama suaminya. Akhirnya tangan Nisa yang bebas pun mencubit tangan kekar Erhan.
"Aduh, sakit, yang. " Erhan mengaduh tapi tidak mau melepaskan pekukannya.
"Orang lagi, sedih karena berpisah kok dibilang drama. " kesal Nisa.
"Iya, iya... ga drama deh. " Erhan mengalah.
"Yang, aku kangen nih... " kata Erhan menempelkan tubuhnya ke tubuh Nisa.
Nisa bisa merasakan sesuatu yang mengeras di bawah sana.
"Tapi aku lagi dapet, mas? " Kata Nisa yang merasa tak enak.
"Kau bisa melakukan dengan cara lain. " kata Erhan dengan tersenyum devil melihat kepolosan istrinya.
"Caranya....? "
__ADS_1
Bersambung.
Terimakasih sudah membaca.