
Bulan ini memasuki bulan ke tujuh kehamilan Nisa. Selama kehamilan Nisa tidak mengalami ngidam yang aneh-aneh, dan semua berjalan lancar tidak ada kendala sama sekali juga tidak merepotkan calon daddy. Nisa menjalani hari-harinya seperti biasa yang berbeda hanya bentuk perut Nisa yang semakin membuncit dan beberapa bagian tubuh Nisa yang sedikit membesar dan padat. Itu membuat Erhan sang calon daddy semakin tergila-gila dengan istrinya itu
Jika di Indonesia, tiap tujuh bulan orang hamil akan diadakan acara tujuh bulanan. Sedangkan di Turki tidak ada acara seperti itu. Nisa ingin sekali melakukan acara tujuh bulanan itu disini. Dia berencana akan mengatakan keinginannya itu kepada suaminya nanti malam. Dengan harapan suaminya itu mengabulkan keinginannya.
Dan disinilah mereka berada. Di ranjang berdua, saling berpelukan setelah memadu kasih malam ini.
"Mas,"
"Hmmm.... "
"Ada yang ingin aku katakan. "
Erhan langsung melepas pelukannya, dan memandang wajah istrinya itu. Mungkin ada sesuatu yang serius, yang ingin katakan istrinya itu.
"Ada apa sayang, katakanlah. Apa ada yang kau inginkan? " tanyanya kemudian.
Nisa mengangguk.
"Aku ingin meminta sesuatu." kata Nisa ragu.
"Katakanlah."
Biasanya, di negaraku ada tradisi tujuh bulanan saat kehamilan memasuki bulan ke tujuh. "
"Lalu? "
"Aku ingin melakukan tradisi itu disini. "
"Caranya? "
"Tidak harus sama persis dengan yang di Indonesia, aku hanya ingin mengundang beberapa anak yatim di rumah ini, atau kita pergi ke panti asuhan untuk memberikan makanan, mainan dan sedikit uang kepada mereka. Aku ingin mendapatkan doa kebaikan dari anak-anak itu, untuk anak kita. Dan agar aku diberi kelancaran dalam melahirkan nanti. " jelas Nisa panjang lebar.
Erhan mengangguk mengerti.
"Baiklah sesuai keinginanmu, sayang. Besok kita akan bicarakan masalah ini dengan mama. Aku yakin mama akan setuju, dan pasti akan sangat bahagia. Mama mungkin juga punya rekomendasi panti asuhan yang bisa kita datangi. Karena mama adalah salah satu donatur di beberapa panti asuhan. " Erhan menjelaskan pula.
__ADS_1
"Benarkah? Kebetulan sekali kalau begitu. "
Erhan yang melihat kebahagiaan istrinya itu juga bisa merasakan kebahagiaan yang sama.
"Sekarang, tidurlah. Besok kita bicarkan lagi dengan mama. Mama pasti punya solusi. "
Nisa mengangguk dan mulai memeluk suaminya lagi dan mencari tempat ternyaman nya untuk dirinya dan sang babby.
*
*
Keesokan paginya saat sarapan Erhan menyampaikan keinginan istrinya itu kepada mama Aylin. Dan mendapatkan sambutan baik dari mama Aylin.
"Itu sangat bagus, nak. Kapan akan kita lakukan? " tanya Mama Aylin dengan antusias.
"Kita harus mengetahui berapa jumlah anak yang harus kita santuni ma. Setelah itu Kita harus memesan makanan untuk mereka, terus membeli mainan juga. Lalu menyiapkan uang yang harus kita bagikan kepada mereka. " Nisa juga sangat antusias dengan rencananya itu.
Erhan yang melihat kedua orang yang dicintainya saling mendukung satu sama lainpun merasa sangat bahagia. Tidak ada kebahagiaan lain yang Erhan rasakan saat ini, selain melihat ibu dan istrinya itu rukun dan kompak.
Nisa yang sadar pun ikut berdiri. Dan mengantar suaminya itu sampai ke mobil.
"Lakukanlah apa yang kamu inginkan, sayang. Jika itu memang terbaik untukmu dan anak kita. Cukup kabari aku, jika semua sudah siap dan jika kau membutuhkanku. Okey. "
Nisa mengangguk dan langsung mencium tangan suaminya dengan takzim. Dibalas kecupan dalam di kening dan perut buncit Nisa. Setelah itu Erhan berangkat bekerja.
Nisa masuk ke dalam rumahnya kembali dengan perasaan bahagia. Dia melihat sang mama mertua sedang menghubungi seseorang. Jika di dengar sekilas, sepertinya mamanya itu sedang menghubungi salah satu panti asuhan.
"Baguslah, lebih cepat lebih baik. " pikir Nisa.
Nisa mendekat, lalu memberi isyarat kepada mama mertua nya itu, untuk naik ke atas dan bersiap. Selama ini Nisa masih bekerja di butik nya, tapi tidak terlalu sering. Hanya sesekali jika ada orang yang ingin membeli gaun pengantin dengan disain Nisa sendiri atau gaun yang sudah tersedia. Butik Nisa kini lebih di kenal dengan butik gaun pengantin, setelah Nisa menggunakan gaun pengantin rancangannya di acara resepsi pernikahannya. Sebuah gaun pengantin yang sederhana namun terkesan mewah dengan sentuhan ajaib Nisa.
Hari ini pun Nisa akan bersiap ke butik dulu untuk menyerahkan beberapa disain kepada Julia, dan setelah itu dia akan berbelanja dengan sang mama mertua untuk acara tujuh bulanan anaknya
Setelah siap Nisa segera turun menggunakan lift di rumah itu. Tidak seperti drama wanita hamil lainnya, ketika sudah hamil besar makan akan berpindah kamar di lantai bawah. Erhan tidak mau itu. Kamar utama nya dengan istrinya itu berada di lantai dua, jadi mereka tetap berada di lantai dua. Mereka menggunakan Lift untuk mempermudah Nisa naik turun. Jadi, satu masalah telah terselesaikan. Kamar untuk Erhan junior juga sudahbdi siapkan di lantai dua. Lantai dua memang di khususkan untuk keperluan pribadi Erhan, bahkan di sana juga ada ruang gym dan kolam renang pribadi di sebelah kamar Erhan. Erhan tidak ingin privasinya dilihat orang lain. Karena itu, dia mengklaim kalau lantai dua adalah rumah pribadinya, dan itu sudah disepakati dengan almarhum Papanya dulu dan disetujui mama Aylin. Bagaimanapun, Erhan adalah anak satu-satunya di rumah ini. Jadi Mereka tidak ingin Erhan meninggalkan rumah mereka.
__ADS_1
Dibawah, mama Aylin juga sudah bersiap, dengan senyum yang selalu merekah menyambut menantunya itu. Mereka berdua segera pergi menuju butik, lalu menuju mall untuk membeli keperluan yang akan dibawa ke panti asuhan.
"Kamu sudan siap? " tanya mama Aylin saat Nisa sudah mendekat.
"Sudah ma, Ayo. " Ajak Nisa ke mama mertuanya itu.
Mereka akhirnya berangkat menuju butik terlebih dahulu, dengan diikuti Ana dan Lisa yang masih setia mendampingi Nisa kemanapun pergi.
Setelah memberikan desainnya kepada Jullia Nisa segera berangkat ke salah satu mall di sana. Mama Aylin dan Nisa merasa sangat bahagia membeli mainan-mainan itu. sepertinya mereka berdua kalap berbelanja.
"Nisa, kapan kamu akan membeli baju untuk junior?" tanya mama Aylin kepada menantunya itu. Karena yang dia tau baik Erhan ataupun Nisa, belum membeli apapun untuk keperluan junior.
Junior adalah panggilan yang diberikan semua orang untuk anak pertama Erhan dan Nisa.
"Nanti ma, setelah acara tujuh bulanan ini aku akan segera belanja semua keperluan junior
Itu adalah pesan ibu. Kalau belum tujuh bulan nggak boleh beli apa-apa dulu. Baru kalau setelah tujuh bulan kita bisa membeli apapun keperluan junior." kata Nisa menjelaskan alasan dia belum mempersiapkan apapun untuk junior mereka.
Mama Aylin hanya manggut-manggut mendengar penjelasan dari Nisa. Kini dia mengerti, alasan Nisa belum membeli apapun untuk calon bayi mereka.
"Baiklah mama menghormati tradisi di negara mu, Nis. Nanti kalau kamu ingin membeli perlengkapan Junior, ajak mama juga ya? Mama juga ingin ikut partisipasi untuk membeli pakaian junior.
" Baik, ma. Tentu saja Bagaimana kalau akhir pekan saja? Mas Erhan kan libur, kita ajak dia untuk ikut berbelanja juga. Lumayan ma, bisa untuk mendorong troli kita nanti. "Kata Nisa sambil terkekeh membayangkan suaminya mendorong troli belanjaan yang penuh dengan perlengkapan babby junior.
" Ih gemes. " ucapnya tanpa sadar.
Mama Aylin ikut tertawa mendengar ocehan menantunya itu. Apa katanya tadi, anaknya Erhan di suruh mendorong troli belanjaan? Hanya Nisa yang mampu melakukan nya.
Setelah puas berbelanja pakaian dan mainan untuk anak panti, Nisa dan mama Aylin segera kembali. Mereka membawa sangat banyak barang hingga mobil mereka terisi penuh. Tidak ada istilah secukupnya jika wanita sudah berbelanja. Yang ada adalah sepuasnya.
"Kita tinggal membeli makanan saja ma. " ujar Nisa kepada mama Aylin ketika berada di dalam mobil. Itu sudah diatut sayang, besok makanan akan sampai di panti ketika kita datang nanti.
"Baguslah kalau begitu. Mama emang yang terbaik. " ucap Nisa sambil memeluk sang mama mertua.
Di kantor, Erhan terbelalak melihat laporan yang sejak tadi masuk ke ponselnya. Dia hanya tersenyum menggeleng kan kepalanya saat melihat berapa jumlah uang yang telah di gunakan.
__ADS_1
"It's Okey sayang, asal kamu dan mama bahagia. "