Jodoh Dari Situs Online

Jodoh Dari Situs Online
Baik-baik Saja


__ADS_3

"Apa? apa yang terjadi pada Erhan? "


"Aku nggak bisa jelaskan di telpon ma. Sebaiknya mama cepat kesini. " ujar Kemal


"Baiklah, segera kirim alamat nya. "


Mama Aylin yang sebenarnya akan pulang dari arisan pun langsung menuju ke alamat rumah sakit yang diberikan Kemal. Dia benar-benar merasa cemas saat ini, takut terjadi apa-apa pada anaknya itu.


Nisa... bagaimana dengan Nisa. Kenapa baru terpikirkan sekarang tentang menantunya itu? apakah Nisa sudah tau tentang apa yang terjadi pada Erhan? Lima belas menit perjalanan dilalui mama Aylin dengan penuh kecemasan.


Sesampainya di rumah sakit, mama Aylin langsung menghubungi Kemal menanyakan keberadaannya saat ini. Setelah tau dimana Erhan di rawat, mama Aylin langsung menuju ruang IGD. Disana terlihat ada Kemal dan Lisa.


"Dimana Nisa? " pikirnya dengan perasaan kalut.


Kemal yang melihat kedatangan mama Aylin langsung berdiri, menyambutnya.


"Apa yang terjadi pada Erhan? " tanyanya langsung kepada Kemal.


"Tenanglah mama, sekarang ayo duduk dulu. " Kemal menuntun mama Aylin untuk duduk.


"Lisa belikan air minum untuk kami. " perintah Kemal kepada Lisa.


"Baik tuan. " Lisa kemudian pergi meninggalkan mereka berdua untuk membeli air minum.


"Sekarang katakan padaku, apa yang terjadi pada Erhan. Dimana dia? Nisa di mana? " Mama Aylin memberikan pertanyaan bertubi-tubi kepada Kemal.


"Sabar, ma. Satu-satu ya jawabnya. " Kemal akhirnya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


Kemal akhirnya menceritakan apa yang terjadi mulai tadi pagi di rumah. Kekacauan yang disebabkan oleh Shofi yang mencari gara-gara dengan Nisa di rumah sampai kedatangannya di di kantor dengan tidak tau malunya, hingga penusukan yang dilakukannya pada Erhan. Nisa yang mengamuk dan shock melihat Erhan hingga harus diberi suntikan penenang.


Mama Aylin sudah tidak kuat lagi membendung air matanya. Kebodohan nya menampung Shofi berakibat fatal, sekarang anaknya yang harus menjadi korban obsesi Shofi. Sungguh mama Aylin benar-benar merasa bersalah kepada anak dan menantunya.


"Sekarang dimana Erhan dan Nisa? " tanya mama Aylin kemudian


"Erhan masih di ruang IGD karena masih melakukan transfusi darah, mungkin beberapa saat lagi akan di pindahkan ke kamar VVIP sesuai permintaanku. Sedangkan Nisa, ada di ruangan itu. " Kemal menunjuk sebuah ruangan tempat Nisa istirahat.


"Nisa masih tak sadarkan diri karena efek obat penenang yang diberikan dokter tadi. "


Mama Aylin langsung berjalan ke kamar pasien tempat menantunya berada, disana hanya ada Ana yang sedang menjaga. Melihat kedatangan mama Aylin, Ana langsung berdiri memberikan tempat untuk majikannya itu.


Mama Aylin langsung duduk di kursi yang berada di samping brankar, lalu menggenggam tangan Nisa erat.


"Maafkan mama, mama sudah bersalah kepada kalian. Maafkan mama. " terus saja mama Aylin menangis dan meminta maaf kepada Nisa yang sedang tidur dalam pengaruh obat penenang. Hingga Kemal masuk dan meminta mama Aylin ikut dengan nya. Karena Erhan akan dipindahkan ke ruang rawat.


"Ana, Lisa. Kalian berdua jaga Nisa sampai dia sadar. Jangan biarkan dia sendiri saat bangun. Lalu antarkan ke ruangan Erhan nanti. " mama Aykin memberi pesan kepada kedua pengawal menantunya itu.


"Baik, nyonya. "


Setelah itu, mama Aylin dan Kemal meninggalkan Nisa dan segera menuju tempat Erhan akan di rawat. Selama perjalanan tak Henti-hentinya mama Aylin menangis melihat keadaan anaknya yang tak berdaya itu.

__ADS_1


"Maafkan mama, nak... maafkan mama. " lagi-lagi sebuah kata itu terus terucap dari mulut mama Aylin.


Kemal terus memeluk mama Aylin dari samping, untuk menenangkan nya. Dia juga tidaak bisa berkata apa-apa lagi.


Akhirnya mereka sampai di ruangan VVIP tempat Erhan akan di rawat. Sebelum dokter dan perawat pergi mama Aylin memastikan keadaan Anaknya itu kepada mereka.


"Dokter, apa anak saya sudah baik-baik saja?"


"Tuan Erhan baik-baik saja nyonya. Beliau sedang dalam pengaruh obat bius, mungkin akan sadar beberapa jam lagi. Lukanya juga tidak terlalu dalam, karena mungkin pelaku menggunakan pisau yang sedikit tumpul jadi tidak sampai melukai oragn vital di dalamnya.Jadi kami hanya menjahitnya saja. " Dokter itu menjelaskan keadaan Erhan kepada mama Aylin.


Mendengar penjelasan dokter, mama Aylin merasa lega. Ternyata anaknya baik-baik saja, tidak terluka parah.


"Kalau begitu kami permisi dulu. " dokter itu undur diri.


"Terimakasih dokter. "


Mama Aylin mendekati brankar Erhan, dilihatnya wajah teduh anaknya itu dengan seksama. Wajah yang selalu menghormatinya dan selalu melakukan apapun yang diperintahkan nya. Dia merasa benar-benar bersalah saat ini.


*************


Satu jam kemudian, terdengar lenguhan kecil keluar dari bibir Nisa, Nisa membuka matanya dan merasa bingung melihat sekelilingnya.


"Dimana aku. "


Ana dan Lusi yang mendengar suara Nisa langsung menghampiri.


"Kalian,,,, aku dimana? " tanyanya kepada kedua pengawalnya.


"Anda ada di rumah sakit nona. " jawab Lisa.


Mendengar kata rumah sakit, Nisa langsung terduduk dan hendak bangun. Namun ditahan oleh Ana dan Lisa.


"Lepaskan aku, aku ingin melihat suamiku. Bagaimana keadaannya. " teriak Nisa histeris karena ditahan dua pengawalnya.


"Tenanglah nona, tuan Erhan baik-baik saja. Beliau sekarang sudah di ruang rawat. Ada nyonya aylin juga. Apakah anda akan menemui tuan Erhan dan nyonya Aylin dengan keadaan seperti ini? " Lisa berbisik ke telinga Nisa agar Nisa tenang.


Dan itu berhasil, akhirnya Nisa tenang dan tidak meronta-ronta lagi. Benar kata Lisa, dia harus tampil lebih baik di hadapan Erhan. Erhan tidak boleh melihatnya dalam keadaan berantakan.


Akhirnya, Nisa menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya yang ada bekas darah Erhan, lalu mengganti pakaian dengan pakaian yang disiapkan Lisa tadi.


Ana tadi sempat menyuruh Lisa menghubungi mansion untuk mengirimkan beberapa pakaian Nisa ke rumah sakit dan untunglah sebelum Nisa bangun pakaian itu sudah sampai.


Nisa keluar dengan penampilan yang sudah segar. Membuat Ana dan Lisa tersenyum senang.


"Ayo antarkan aku menemui suamiku. " ajak Nisa kepada kedua pengawal cantiknya itu.


Mereka bertiga berjalan beriringan menuju ruang rawat Erhan yang berada diruang VVIP. Sebelumya Lusi juga sudah menghubungi Kemal, kalau Nisa sudah sadar dan memintanya membersihkan diri dulu, baru setelah itu akan ke ruangan Erhan. Kemal mengerti, dan memberi tahu informasi itu kepada mama Aylin.


Sungguh Lisa hanya mengingat perkataan Nisa kapan hari, kalau dia harus selalu tampil cantik di hadapan suaminya atau mertuanya. Karena itu Lisa mengingatkan hal itu kepada Nisa tadi. Lisa juga tidak ingin melihat nonanya itu tampil berantakan di hadapan suami dan mertuanya nanti, karena akan menambah kecemasan mereka.

__ADS_1


Akhirnya mereka sampai di ruang Erhan dirawat, dengan mengucapkan salam, Nisa langsung masuk ke dalam ruangan Erhan disambut dengan senyumam dari mama Aylin. Nisa langsung berhambur memeluk mama Aylin yang sudah di anggap mamanya sendiri.


"Ma... suamiku." lirihnya dipelukan mama Aylin.


"Tenanglah, nak. Erhan baik-baik saja. Dia masih dalam pengaruh obat, jadi masih belum sadar. " mama Aylin mencoba menenangkan menantunya itu.


Nisa menguraikan pelukannya, lalu mendekat ke arah suaminya yang sedang lelap tertidur. Dia duduk di kursi samping brankar. lalu menggenggam erat tangan suaminya yang selama ini selalu menggenggam erat tangannya.


Melihat itu, Kemal dan mama Aylin segera keluar. Mereka ingin memberikan waktu untuk Nisa dan Erhan berdua.


"Mas, bangunlah. tadi kamu udah janji sama aku nggak akan ninggalin aku kan? Sekarang ayo bangun. " kata Nisa sambil terus menggenggam tangan suaminya itu. Tapi Erhan masih setia dengan lelapnya.


Tangan Nisa beralih meraba wajah Erhan yang sudah ditumbuhi bulu-bulu halus. Hatinya menghangat menyentuh wajah suaminya yang selalu terlihat tampan walau dalam keadaan tertidur.


Tiba-tiba dia teringat dengan Shofi, yang berhasil menorehkan luka sayatan di perut suaminya itu. Dia merasa geram dan mengepalkan tangannya erat. Lalu segera beranjak dari kursinya, hendak menemui Kemal. Namun, sebelum dia bergerak, sebuah tangan hangat tiba-tiba mencekalnya.


"Jangan pergi.... jangan kemana-mana. " kiant itu terlontar dari bibir Erhan dengan terbata-bata.


Nisa menoleh ke arah Erhan, dilihatnya suaminya itu sudah membuka matanya. Nisa kembali duduk di samping ranjang suaminya itu.


"Kamu sudah sadar, mas? "


Erhan mengangguk sebagai jawaban.


"Alhamdulillah... "


"Mi... num... " lagi suara Erhan masih terbata. Mungkn dia masih merasakan nyeri di perutnya.


Dengan segera Nisa memberikan minuman kepada Erhan, dengan mengangkat sedikit kepala Erhan dan memasukkan sedikit demi sedikit air mineral ke dalam mulut Erhan.


Nisa lalu memencet tombol untuk memanggil dokter ke ruangannya.


Tak lama, beberpa dokter berjalan keruangan Erhan, melihat itu kemal dan Mama Aylin merasa khawatir kalau terjadi sesuatu pada Erhan. Jadi mereka berdua ikut masuk ke dalam kamar bersama dengan dokter.


"Ada apa nyonya?" tanya salah satu dokter kepada Nisa yang berada di sana.


"Suami saya sudah sadar dokter. " ujar Nisa dengan wajah berbinar.


"Baiklah, biar saya periksa dulu. Apakah anda bisa minggir sebentar? " kata seorang dokter yang akan memerikaa Erhan, tapi dia melihat Nisa tidak mau bergerak dari tempatnya.


"Maaf Nona? "


"Saya juga ingin menyingkir dokter, tapi tangan saya.... " Nisa memperlihatkan tangannya yang di genggam Erhan dengan sangat erat.


Membuat semua orang disana menghela napasnya... "Haaaaahhhhh...... "


Bersambung


Terimakasih Sudah membaca.

__ADS_1


__ADS_2