
Dua Bulan telah berlalu, Dan besok adalah hari pernikahan Kemal dan Alima. Setelah melalui perdebatan panjang selama beberapa hari, karena Alima tidak mau merepotkan keluarga Nisa dan Erhan. Akhirnya Alima luluh juga setelah kedua orang tua Nisa dan Mama Aylin meyakinkannya, tapi pernikahan harus di undur dua bulan lagi karena mama Aylin harus mempersiapkan semuanya, baik itu dokumen pernikahan dua negara ataupun acara resepsi yang awalnya tidak akan di adakan, harus di adakan sesuai keinginan mama Aylin.
Alima sebenarnya tidak mau jika harus diperlakukan spesial seperti ini, tapi titah ibu negara tidak bisa di ganggu gugat. Bahkan Kemal sendiri tidak bisa membantah permintaan mama Aylin yang sudah dianggapnya sebagai ibunya sendiri.
Kedua orang tua Nisa dan Alima sudah berada di Turki sejak dua hari lalu setelah di jemput menggunakan pesawat pribadi milik Erhan. Mereka sangat bahagia bisa bertemu dengan baby Murad dan Nisa dengan perut besarnya. Tidak ada kebahagiaan lain lagi yang Nisa rasakan selain bertemu dengan kedua orang tuanya. Sedangkan kakaknya Arkan dan Alina tidak bisa datang, karena Alina juga sedang mengandung anak keduanya.
"Alima, aku tidak menyangka kamu akan menikah dengan Kemal. " kata Nisa saat mereka berada di kamar Alima,
Alima menginap di mansion Nisa dan Erhan bersama kedua orang tua Nisa. Sedangkan Kemal, tetap berada di apartemennya. Dia juga harus mengikuti tradisi pingitan walau hanya empat hari, karena besok adalah hari pernikahan mereka.
"Aku sendiri tidak tau Nisa. Kenapa aku bisa menerima Kemal. " kata Alima dengan tersipu malu.
"Idih, malu-malu neng. calon pengantin baru. " sindir Nisa saat melihat temannya itu terlihat malu
"Ceritain dong, kenapa sampe bisa nerima Kemal. Mulai dari kepergianku dari Indo, sepertinya hampir dua tahunan ya.?"
" Iya kamu ninggalin aku udah hampir dua tahun. Tapi aku baru nerima Kemal tepat sebelum hari resepsi mu Nis. "
"Benarkah? berarti waktu kamu ke kamarku waktu itu... " kata Nisa sambil menitup mulutnya.
Alima mengangguk.
"Wah... masih anget-angetnya ya. Alhamdulillah deh kalau begitu. Aku disini bakal punya temen ngobrol. " kata Nisa dengan senyum lebar.
Nisa tidak bertanya lagi bagaimana proses pendekatan mereka, dan apakah Alima sudah sembuh dari traumanya apa belum. Yang penting saat ini dia bisa melihat sahabatnya itu sudah membuka hati untuk orang asing.
Terdengar pintu di ketuk, dan suara orang yang paling Nisa cintai memanggilnya. Nisa bangkit dari duduknya dan membuka pintu.
"Ada apa, mas?" tanya Nisa saat melihat suaminya berada di depan pintu.
"Ini minum susu dulu, setelah itu istirahatlah. Mungkin Alima juga butuh istirahat karena besok adalah hari pernikahannya. " kata Erhan dengan lembut sambil menyerahkan segelas susu untuk istrinya itu.
"Maaf Alima, aku naik dulu ya. Buruan istirahat calon pengantin nggak boleh kelihatan kantong matanya. " Ejek Nisa sambil berlalu pergi.
Alima yang mendengar ejekan dari Nisa hanya menggelengkan kepalanya. Sudah lama rasanya dia tidak pernah melempar ejekan seperti ini dengan sahabatnya itu.
__ADS_1
Nisa dan Erhan lalu naik ke kamarnya, setelah menghabiskan susunya, dengan baby Murad yang sudah tertidur di gendongan daddynya.
Kedua orang tua Nisa dan mama Aylin ikut bahagia melihat keharmonisan keluarga anaknya itu, Erhan yang sangat menyayangi Nisa dan Nisa yang sangat patuh kepada suaminya itu.
*
*
Hari pernikahan akhirnya Tiba, Alima sudah siap dengan gaun pengantin yang Nisa disain dan ambil dari butiknya. Sangat pas di tubuh Alima yang ramping dan terlihat sangat cantik.
"Aku jadi insecure deh. " celetuk Nisa tiba-tiba saat mereka berdua berada di ruang khusus pengantin.
"Kenapa? " tanya Laina yang tidak mengerti dengan ucapan Nisa.
"Kamu terlihat sangat cantik, Alima. Seksi... sedangkan aku. " ujar Nisa sambil melihat bentuk badannya yang sudah tak seindah dulu.
Alima lalu mendekap sahabatnya itu.
"Kenapa mesti takut? Ini semua kan perbuatan suamimu. Lagipula, sudah kodrat seorang wanita untuk hamil, lalu melahirkan dan setelah itu menyusui. Kita harus bangga, karena dengan semua proses itu, kita mendapatkan pahala yang sangat besar. Nanti aku juga pasti akan mengalami fase sepertimu Nisa. Do'akan saja, supaya baby twins nanti dapat teman baru. " Alima membesarkan hati sahabatnya itu, walau dia harus mengatakan hal yang sepatutnya belum bisa dia katakan.
"Aamiin... semoga cepat nyusul ya? " kata Nisa melepas pelukannya.
Alima lalu duduk tak jauh dari prosesi ijab qobul. Sedangkan Nisa, sudah berada di samping suaminya yang sedang menggendong baby Murad. Pak Ibnu sebagai perwakilan dari Alima pun berada di samping Kemal.
Setelah kata "Sah" terdengar di seluruh penjuru ruangan, Maka Baik Kemal maupun Alima bisa bernapas dengan lega. Akhirnya mereka dipertemukan dan saling menautkan cincin di jari masing-masing. Alima yang mencium tangan Suaminya, dan Kemal yang mencium kening Alima. Semua terlihat sangat haru.
"Bagaimana? Apakah keinginan ngidam mu ini sudah terkabulkan sayang. " Bisik Erhan di telinga Nisa.
Nisa mengangguk dan tersenyum lebar.
"Terimakasih, sayang. Kau yang terbaik. " Bisik Nisa di telinga Erhan lalu memberiny kecupan singkat di pipinya.
"Kamu harus berterima kasih kepada mama, karena dialah yang telah berjasa besar untuk menuruti keinginanmu itu. " kata Erhan sambil menunjukkan dagunya kearah mamanya.
"Tentu saja, mama memang yang terbaik. "
__ADS_1
"Nanti malam, beri aku jatah dua ronde. Karena sejak kemarin kamu sibuk dengan Alima dan tidak memberiku jatah. Padahal di saat seperti ini seharusnya aku bisa melakukannya setiap hari. " goda Erhan pada istrinya. Dia tau sekarang Nisa sudah masuk trimester ke tiga, itu artinya sudah waktunya dia membuat jalan yang lebar untuk kedua anaknya itu.
"Mas, ihhh. " Nisa memukul lengan Erhan dengan manja sekaligus malu.
"Ya... ya... dua kali, nanti malam. Kita jangan kalah dengan pengantin baru. " lagi-lagi Erhan menggoda istrinya itu.
Sudah seperti apa wajah Nisa saat ini. Menahan malu dan kesal karena selalu di goda suaminya.
Hingga tiba waktunya Erhan dan Nisa naik ke pelaminan untuk memberikan selamat kepada kedua mempelai. Nisa dan Alima saling berpelukan dan mengucapkan selamat begitu juga dengan Erhan dan Kemal yang saling berpelukan dan memberikan selamat kepada kedua mempelai.
"Selamat ya? Semoga cepet nyusul diberi momongan. " ucap Nisa sambil mengelus perutnya
"Aamiin, Terimakasih. " jawab Alima dan kemal bersamaan
"Kompak banget. " sidir Erhan kepada sahabatnya itu.
Mereka berdua pun turun dari pelaminan, dan segera menemui mama Aylin dan Ibu Aisyah yang sedang menggendong baby Murad. Tadi saat Nisa dan Erhan akan naik pelaminan untuk memberi ucapan selamat, baby Murad di minta grandma nya untuk dikenalkan kepada teman-teman sosialitanya. Sekarang baby Murad sudah berada di gendongan nenek Aisyah.
"Ibu, kalau ibu capek, ibu bisa istirahat dulu. " kata Nisa kepada ibunya yang sedang menggendong Murad.
"Tidak, Nis. Ibu baik-baik saja. Ibu ingin menggendong cucu nenek ini. sejak lahir nenek belum menggendongnya sama sekali. " kata Ibu Aisyah yang menciumi cucunya itu dengan gemas.
"Maafkan ibu, waktu itu ibu tidak bisa melihatmu dan baby. Karena tiba-tiba keadaan ibu yang menurun. " kata ibu Aisyah lagi dengan penuh penyesalan.
"Nggak apa-apa bu. Nisa ngerti kok. '
" Ini kenapa bisa hamil lagi, padahal murad masih bayi. " kata ibu Aisyah dengan senyum penuh arti.
"Ih... ibu mahh... " Nisa tersipu mendengar candaan dari ibunya.
"Nggak apa-apa, anak adalah anugerah. Kamu harus bisa menjaga mereka bertiga dengan baik, selalu bersikap adil lah kepada anak-anak mu. Jangan sampai terucap dari bibir mereka kata-kata 'mommy pilih kasih' karena saat kita mendengar kalimat itu, kita akan tau, kalau salah satu dari anak kita sedang merasakan sakit hati karena perbuatan orang tuanya. " Bu Aisyah memberikan nasehat kepada anaknya itu.
" Iya bu, terimakasih."
Sejak tadi Erhan hanya memperhatikan kedua wanita beda usia di depannya itu dengan tersenyum, Dia bisa merasakan kebahagiaan yang dirasakan istrinya setelah lama tidak bertemu dengan orang uang sangat disayanginya iti.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih sudah membaca.