Jodoh Dari Situs Online

Jodoh Dari Situs Online
Insiden


__ADS_3

Siang itu, Nisa akhirnya ikut Erhan ke perusahaan. Semua orang menatap kedatangan sepasang suami istri dengan penuh kekaguman, tapi ada juga yang tidak suka dengan keberadaan Nisa di sisi Erhan mereka merasa iri akan keberuntungan Nisa yang mendapatkan pria tampan dan mapan seperti Erhan. Namun, Nisa tak peduli. yang penting sekarang Erhan adalah miliknya, dan tidak boleh ada yang mengusik itu.


Sekarang mereka berdua sudah berada di ruangan Erhan, diikuti Kemal yang sejak tadi menunggu kedatangan atasannya itu.


"Bagaimana keadaanmu Nis?" Kemal basa basi bertanya kepada Nisa, karena dia tau kalau keadaan Nisa terlihat sudah baik-baik saja.


"Aku baik, Terimakasih. "


"Sayang, masuklah ke kamar, atau kau mau menunggu ku disini? "


"Aku lebih baik menunggu di kamar saja, daripada di sini, aku tidak mengerti dengan apa yang kalian bicarakan. " kata Nisa sambil beranjak dari duduknya dan menuju ruangan pribadi Erhan. Tapi tak lama dia keluar lagi.


"Mas aku minta kertas sama pensil dan penghapus. "


Erhan mengernyit mendengar permintaan istrinya itu.


"Untuk apa, sayang? "


"Aku ingin menggambar beberapa desain baju, daripada berdiam diri. "


Mendengar itu Erhan tersenyum lalu mengambil benda yang di minta istrinya itu, lalu memberikannya.


cup...


"makasih mas? " sebuah kecupan di hadiahkan dipipi Erhan setelah Nisa menerima apa yang dia inginkan.


Sikap Nisa yang seperti ini membuat Erhan merasa senang, sepertinya Nisa sudah kembali seperti semula. Sedangkan Kemal yang melihat kejadian satu detik itu merasa tercengang. Sungguh mereka berdua memang tak terduga.


Setelah Nisa masuk ke dalam ruangan, Erhan dan Kemal melanjutkan pekerjaan mereka. Mereka sedang membahas proyek baru yang akan di kerjakan beberapa bulan lagi. Mungkin setelah pernikahan Erhan di adakan.


Sudah satu jam mereka berkutat dengan berkas dan komputer, saat bekerja mereka memang sangat profesional dan menjadi tim yang solid. Namun konsentrasi mereka buyar, saat pintu terbuka dengan paksa. Erhan dan Kemal sangat terkejut dengan kedatangan seseorang yang sangat mereka kenal dan sangat tidak menyangka dia akan datang ke perusahaan untuk menemuinya.


"Shofi.. " lirih Kemal dan Erhan saat melihat kedatangan Shofi yang tak terduga, dan dalam keadaan yang sangat kacau.


"Maaf tuan, nona ini memaksa masuk walau sudah kami melarang. " ujar seorang resepsionis sambil membungkukkan badannya karena merasa takut kepada CEO mereka.


"Kalian keluarlan. " titah Erhan kepada resepsionis dan seorang petugas keamanan.


Setelah mereka keluar, kini hanya ada tiga orang yang berada di dalam ruangan Erhan, sedangkan Nisa berada di kamar pribadi.


"Mau apa kau datang kemari, Shofi. "


"Erhan, tidak pernahkah kamu merasakan sedikit saja rasa cinta kepadaku? " tanya Shofi dengan tidak tau malunya.


"Tidak." jawaban tegas diberikan Erhan.

__ADS_1


"Kau jahat Erhan. " pekik Shofi seolah tidak terima, meski dia tau perasaannya itu tidak pernah terbalas.


"Maaf Shofi, aku tidak bisa memaksakan sebuah perasaan. Kau juga masih saudaraku, jadi tidak mungkin. " Erhan mencoba memberi pengertian


"Jadi karena status kita? "


"Bukan, tapi Karena aku memang tidak pernah memiliki rasa sedikitpun padamu. Hubungan kita cukup saudara saja. Aku tidak mau hubungan yang lain. " Erhan mempertegas lagi hubungan dan perasaannya pada Shofi, agar dia berhenti berharap dan berangan-angan.


"Baiklah aku mengerti. Aku akan menjauh dari hidupmu dan istrimu tapi bolehkah aku minta satu permintaan? "


Alis Erhan terangkat sebelah mendengar kata-kata Shofi.


"Apa yang kah minta. " Erhan merasa penasaran.


"Aku ingin memelukmu, sekali saja sebagai tanda perpisahan kita. Bolehkan? "


Kening Erhan mengernyit mendengar permintaan Shofi.


"Apa tidak bisa diganti dengan permintaan lainnya? "


Shofi menggeleng, "tidak, Aku hanya menginginkan satu pelukan darimu. "


Erhan menoleh kearah Kemal, meminta sebuah pendapat. Tapi Kemal malah menggedikkan bahunya.


"Maaf Shofi, aku tidak bisa. "


Erhan kemudian berjalan mendekati Shofi, dan berhadapan dengannya.


"Maaf Shofi, bukan aku tidak mau memelukmu, tapi ada hati yang harus aku jaga. Maafkan aku. "


Tanpa mereka sadari, dari tadi Nisa sudah mengintip dan mendengar percakapan mereka berdua dari balik pintu. Dia merasa bahagia, karena Erhan bisa menjaga hatinya dan tidak terpengaruh sama sekali dengan permohonan Shofi walau mengatas namakan saudara.


"Baiklah kalau begitu. Apa boleh buat. " Shofi menghapus air matanya kasar, lalu tersenyum sinis dia mengikis jarak dengan Erhan.


"Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak ada satupun yang bisa memilikimu. " ujarnya, tanpa mereka sadari, Shofi mengeluarkan sebuah pisau kecil yang dia sembunyikan di balik lengan panjang nya, lalu menusuk perut Erhan tanpa ampun.


Melihat itu Kemal terbelalak dan langsung mendorong tubuh Shofi menjauh darii Erhan hingga terjerembab ke lantai. Sedangkan Nisa yang juga terkejut dengan perbuatan Shofi langsung keluar dari persembunyian nya, dan langsung lari menghampiri Shofi, dan memukuli nya secara brutal hingga tak sadarkan diri. Lalu menghampiri Erhan yang sudah terkapar bersimbah darah dan menangis sejadi-jadinya.


"Mas... bangun mas... jangan seperti ini. " ujar Nisa ditengah tangisannya.


Erhan yang masih mendapat sedikit kesadaran menggerakkan tangannya untuk menyentuh wajah Nisa dsn mengahapus air matanya.


"Jangan menangis, " ujarnya terbata sebelum kehilangan kesadaran.


"Mas... kamu janji nggak akan ninggalin aku. Bangun... " Teriak Nisa histeris melihat suaminya tak sadarkan diri.

__ADS_1


Kemal langsung berteriak meminta bantuan untuk segera menolong sahabatnya itu. Beberapa orang termasuk Ana dan Lisa segera masuk ke dalam ruangan CEO dan melihat kekacauan yang terjadi disana. Kemal meminta bantuan untuk mengeluarkan Erhan dan segera memanggil ambulan. Sedangkan Nisa ditenangkan oleh dua bodyguard nya.


"Amankan wanita sialan ini. " geram Kemal, yang meminta seseorang untuk mengamankan Shofi yang sudah terkapar tak berdaya karena dihajar Nisa habis-habisan. Dalam tidak sadarnya Shofi masih sempat bergumam.


"Tidak ada satupun yang boleh memiliki Erhan, lebih baik dia mati. "


Semua orang yang mendengar gumaman shofipun menjadi geram. Mereka pun segera memanggil polisi untuk menangkap wanita gila ini.


Keadaan kantor tiba-tiba ricuh karena CEO mereka menjadi korban penusukan oleh wanita gila. Erhan segera dimasukkan ke dalam mobil ambulan ditemani Kemal dan segera dilarikan ke rumah sakit.


Nisa ingin ikut masuk ke dalam ambulan namun dilarang Kemal, sebaiknya Nisa masuk mobil lain, agar tidak membuat panik tenaga medis yang melakukan pertolongan untuk Erhan. Akhirnya Nisa pergi bersama Ana dan Lisa di mobil lain. Dengan Lisa yang masih memeluk erat Nisa. Dia takut nonanya ini hilang kontrol seperti tadi.


Sesampainya di rumah sakit tubuh Erhan yang sudah tak sadarkan diri segera dibawa ke IGD untuk mendapatkan pertolongan pertama, Nisa yang juga sudah sampai di ruang IGD ingin ikut masuk, namun segera di cegah oleh tenaga medis. Lagi-lagi Nisa tidak bisa mengendalikan dirinya karena sangat mengkhawatirkan keadaan suaminya itu, dia ingin memaksa masuk, namun Ana dan Lisa segera memeluknya dan meminta pertolongan dokter untuk memberikan suntikan penenang untuk nonanya ini. Dan disetujui Kemal.


Akhirnya dengan terpaksa Nisa diberi suntikan penenang, agar dia bisa tenang dan tidak hilang kontrol lagi. Nisa dibawa ke salah satu kamar pasien, dengan di temani Ana. Sedangkan Kemal dan Lisa masih menunggu di ruang IGD.


Tak berapa lama, dokter keluar. Kemal langsung menghampiri dokter yang menangani Erhan menanyakan keadaan sahabatnya itu.


"Bagaimana keadaan sahabat saya, dok. " tanya Kemal tak sabaran.


"Alhamdulillah, tuan Erhan bisa kami tangani dengan baik. Lukanya tidak begitu dalam sehingga tidak menembus organ vital di dalamnya, jadi kami hanya menutup luka dengan menjahit nya saja. Saat ini tuan Erhan masih belum sadar karena pengaruh obat bius dan harus transfusi darah, karena dia kehilangan banyak darah tadi yang membuat tubuhnya lemah. " Jelas dokter.


Mendengar penjelasan dokter, Kemal dan Lisa bernapas lega, karena tidak ada yang serius dengan keadaan Erhan.


"Apakah sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat dokter? " tanya Kemal lagi.


"Kami akan memindahkannya ke ruang rawat setelah transfusi darah selesai. Mungkin satu jam lagi. " ujar dokter kemudian.


Kemal mengangguk mengerti.


"Siapkan kamar VVIP untuknya dok. " kata Kemal kemudian.


Dokter mengangguk lalu permisi undur diri.


Kemal lupa mengabarkan kepada mama Aylin tentang keadaan Erhan saat ini. Akhirnya Kemal segera melakukan panggilan telpon kepada mama Aylin. Satu kali panggilan mama Aylin langsung mengangkat telponnya.


"Hallo Kemal ada apa? " cerocos mama Aylin dari seberang Telpon.


"Mama sebaiknya ke rumah sakit sekarang. "


"Kenapa? siapa yang sakit? " tanyanya dengan sedikit panik mendengar kata rumah sakit.


"Erhan, ma. "


"Apa? "

__ADS_1


Bersambung


Terimakasih sudah membaca.


__ADS_2