Jodoh Dari Situs Online

Jodoh Dari Situs Online
DPD


__ADS_3

"Aku pernah berada di posisi yang sama denganmu saat ini. " Arkan.


"Maksudmu."


Flashback


Dulu saat Arkan masih duduk di bangku SMA dan Nisa duduk di bangku SMP. Mereka yang selalu bersama disekolah akhirnya berpisah karena perbedaan jenjang pendidikan. Nisa semakin posesif pada kakaknya karena Nisa merasa kakaknya adalah miliknya, orang yang selalu menjaganya, melindunginya dan menyayanginya setelah kedua orang tuanya.


Karena sikap posesif Nisa ini, Arkan kesulitan mendapatkan seorang kekasih. Hingga ada seorang wanita yang menyukai Arkan dan nekat mendekatinya. Dia tidak peduli sama sekali dengan keberadaan Nisa yang saat itu duduk berhadapan dengan Arkan. Dengan seenak nya gadis itu memeluk Arkan dari samping dan mencoba merayunya.


Arkan jadi salah tingkah mendapat perlakuan dari wanita di sampingnya ini, apalagi ada adiknya yang berada di hadapannya. Nisa menatap wanita itu dengan sengit, lalu dia berdiri dan mendekati wanita itu. Ditariknya rambut wanita itu dengan kuat, lalu dibenturkan nya ke meja. Membuat semua orang yang berada disana memandang tak percaya ke arah Nisa.


Gadis yang lemah lembut, dan manja itu bisa berubah 180° ketika miliknya di usik. Arkan yang melihat itu bukan menolong wanita itu malah mendekati adiknya.


"Dek, apa yang kau lakukan? " kata Arkan menenangkan Nisa. Karena Nisa yang ia lihat saat ini bukanlah Nisa yang biasanya.


"Aku nggak mau abang deket-deket wanita itu. "


"Iya... iya... abang nggak akan deket wanita manapun. Oke...sekarang kamu tenang ya. " Arkan terus memeluk adiknya itu sampai tenang. Dia meminta temannya yang lain untuk menolong wanita tadi yang sudah mengeluarkan darah dari hidung dan kepalanya benjol.


"Kamu ikut abang sekarang ya? " Dengan terpaksa Arkan membawa adiknya itu ke rumah sakit dan berkonsultasi dengan seorang psikolog.


Dari sana Arkan tau kalau Nisa memiliki DPD (Dependent Personality Disorder)


Sebuah kelainan tentang ketakutan berlebih tentang suatu perpisahan, selalu ingin di jaga dan tidak percaya diri. ini semua sering terjadi pada seorang wanita yang menginjak remaja dari pada pria.


Setelah Arkan dan Nisa tau tentang apa yang di alami Nisa. Mereka memutuskan akan terus melakukan terapi psikologi kepada Nisa tanpa diketahui orang lain bahkan orang tua mereka sampai saat ini. Arkan pikir Nisa sudah sembuh. Karena selama ini dia hidup baik-baik saja memiliki karir yang bagus dan mengijinkannya menikah dengan Alina.


Flashback end


"Jadi begitu ceritanya. Nisa memang anak yang patuh dan lembut sejak kecil. Tapi dia tidak suka miliknya di usik. Aku harap kau mau menerima kekurangan Nisa ini, Erhan. " pinta Arkan dengan menarik nafasnya dalam-dalam.


"Nisa mungkin sangat mencintaimu, dan sudah menandaimu sebagai miliknya. Dan apa yang menjadi miliknya tidak boleh di usik siapapun. Bagiku hal itu wajar karena kau adalah suaminya sekaligus cinta pertama Nisa." lanjutnya


"Jika kau tidak bisa menerima keadaan dan kekurangan Nisa. Seperti kata ayah, Kau bisa mengembalikannya kepada kami secara baik-baik." kata Arkan dengan menghembuskan nafasnya perlahan.


"Kau ini bicara apa, Arkan. ? Aku sangat mencintai adikmu, bagaimana mungkin aku akan mengembalikannya pada kalian. Satu kekurangannya tidak akan menutupi semua kelebihan dan kebaikannya. Bukankah setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. " Erhan mengatakannya agar Arkan bisa tenang. Dia tidak ingin kakak iparnya itu merasa cemas.


"Aku hanya ingin tau, apa yang tidak aku ketahui tentang Nisa. Aku akan selalu menjaganya dan menutupi semua kekurangannya. Percayalah padaku. " kata Erhan meyakinkan.


"Baiklah, terimakasih Erhan, jaga Nisa baik-baik. Kalau terjadi sesuatu, segera hubungi aku. " ujar Arkan kemudian.


Panggilan akhirnya terputus.

__ADS_1


Erhan lalu mendekati istrinya yang masih terlelap dan memandangi wajahnya dengan lekat. Wajah yang bisa berubah jika miliknya di ganggu.


"Aku tidak tau, kalau kau begitu mencintaiku dan menandai diriku sebagai milikmu. Mulai sekarang aku akan selalu menjadi milikmu, kamu jangan pernah khawatir aku tak akan melepasmu demi wanita lain. Tidak akan pernah sayang. " Lirih Erhan sambil merapikan anak rambut Nisa yang menutupi wajahnya lalu mengecup kening Nisa dalam


Erhan kemudian keluar dari kamarnya untuk menemui asisten Kemal. Karena waktu sudah hampir siang. Erhan akan menyuruh Kemal untuk bekerja sendiri hari ini, dan dia akan menyusul nanti setelah Nisa bangun.


"Bagaimana keadaan Nisa? " tanya Kemal setelah melihat sahabatnya itu datang.


"Dia sudah tenang, sekarang dia sedang tidur. Kau sebaiknya berangkat kerja dulu. Aku akan menyusul nanti saat memastikan keadaan Nisa baik-baik saja. "


"Baiklah. Jaga istrimu baik-baik, aku akan pergi dulu. "


"Hmm... "


Setelah kepergian Kemal, Erhan lalu menemui Ana dan Lisa untuk mendengar kan penjelasan dari mereka.


"Bagaimana ini bisa terjadi? bukankah aku menyuruh kalian menjaganya? " tanya Erhan dengan sangat marah.


"Maafkan kami tuan, Nona Shofie tadi menghina nona Nisa, kami tadi hendak membantu nona, tapi nona mencegahnya. dan Kami tidak berani melawan nona tuan. " kata Ana sambil tertunduk ketakutan.


"Sudahlah, Tapi kerja bagus kau langsung menghubungiku dengan cepat. jadi aku tidak akan menghukum kalian kali ini. " ucap Erhan santai.


"Terimakasih tuan. " kedua bodyguard itu akhirnya bisa tersenyum lega.


"Lain kali apapun yang terjadi pada istriku kalian harus langsung melaporkannya padaku. " titah Erhan.


" Sekarang dimana wanita itu. " tanya Erhan yang sudah tidak melihat keberadaan Shofi.


"Nona Shofi langsung pergi tadi tuan setelah dirawat pelayan. " Ana yang menjawab.


"Baiklah, sekarang kalian boleh pergi. Aku akan menemani istriku. Ah, ya jangan lupa sampaikan pada Julia hari ini istriku tidak datang ke butik. "


"Baik tuan. "


Erhan kembali ke kamar untuk melihat keadaan istrinya, apakah sudah bangun apa belum. Erhan masuk ke dalam kamar, di lihat nya sang istri sudah terduduk di atas ranjang dan tersenyum sangat manis kepada suaminya.


"Kau sudah bangun? "


Nisa mengangguk. "Apa kau tidak kerja? " tanyanya.


"Tidak aku akan menunggumu di sini, sampai kau sudah merasa lebih baik. " jawab Erhan.


"Pergilah, aku sudah lebih baik sekarang. Apa wanita itu sudah pergi? " tanya Nisa dengan nada suara dingin.

__ADS_1


"Kata Ana sudah pergi, setelah diobati pelayan. Ternyata istriku ini sangat kuat ya. " kata Erhan mencoba menghibur istrinya itu.


"Selembut apapun wanita, jika ada orang yang menghinanya dan mengusik miliknya, maka dia akan melawan. " Hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari mulut Nisa saat ini.


Nisa sendiri merasa takut, kalau sakitnya yang dulu kambuh lagi, setelah melakukan semua itu kepada Shofi. Padahal hal itu sudah lama terjadi.


Erhan yang melihat kegelisahan diraut wajah sang istri, lalu memegang kedua bahunya.


"Tenanglah, aku sudah tau semua. Semua tentang masa lalumu. Tak ada yang perlu kau cemaskan aku akan selalu bersamamu apapun yang terjadi. " kata Erhan meyakinkan istrinya itu.


Deg... darimana Erhan tau?


"Darimana kau tau, mas? " tanya Nisa penasaran.


"Sebelum kamu terlelap tadi kamu menyebutkan satu nama, Arkan. " jawab Erhan.


Deg... abang.


"Jadi kau menghubungi abang? "


Erhan mengangguk.


"Dan dia sudah menceritakan semuanya. " Jawab Erhan masih memandangi wajah Nisa.


"Apa aku terlihat aneh... " kata Nisa menundukkan wajahnya.


Erhan menggamit dagu Nisa agar mengangkat wajahnya.


"Tidak, mau sangat sempurna dengan segala kelebihan dan kekurangan yang kau miliki. Kekuranganmu aku yang akan menutupi, kekuranganku kau yang akan menutupi. Kita akan saling menutupi kekurangan kita satu sama lain. Jangan khawatir, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, sayang. " kata Erhan dengan penuh keyakinan.


"Kau janji. " kata Nisa dengan menunjukkan jari kelingkingnya.


"Janji." mereka berdua melakukan janji kelingking seperti anak kecil


Dengan begitu, Nisa bisa merasa lega.


"Aku akan pergi ke kantor. Apa kau mau ikut?" tanya Erhan sambil bersiap.


"Aku ikut, hari ini aku ingin selalu bersamamu. " kata Nisa dengan wajah yang sudah kembali ceria.


"Baiklah segeralah bersiap. " perintah Erhan pada istrinya


Dan tanpa banyak bicara lagi Nisa segera membersihkan wajahnya, kemudian segera bersiap ikut kerja suaminya.

__ADS_1


Bersambung.


Terimakasih sudah membaca.


__ADS_2