
Saat ini kedua keluarga sedang makan malam di restoran hotel. Karena acara sudah selesai dari tadi sore. Mereka memutuskan untuk menginap di hotel malam ini, karena sudah merasa lelah jika harus kembali ke rumah.
"Erhan, besok mama akan kembali ke Turki. " ucapan mama Aylin sontak mengalihkan pandangan semua orang kepadanya.
"Kenapa cepat sekali ma? " tanya Erhan seolah tidak rela jika mamanya akan segera pergi.
"Tugas mama disini sudah selesai, lagi pula mama juga harus memeriksa perusahaan dan butikmu. " terang mama Aylin.
Erhan langsung menepuk keningnya seolah dia melupakan perusahaannya sesaat.
"Maaf ma, aku lupa. Untuk sementara aku minta tolong mama untuk menghendle perusahaan, besok biar Kemal pulang bersama mama. Agar bisa membantu."
"Baiklah. "
Kemal yang mendengar kalau dia besok harus ikut pulang bersama mama Aylin seolah tidak terima. Karena dia belum mengungkapkan perasaannya pada Alima. Tapi mau bagaimana lagi, dia adalah salah satu pegawai Erhan, jadi dia harus mematuhi perintah atasannya itu
"Aku akan pulang dalam beberapa hari, setelah menyelesaikan semua urusan Nisa di sini. " kata Erhan kemudian.
Ayah dan Ibu Nisa saling berpandangan. Sepertinya mereka harus bersiap untuk melepaskan kepergian Nisa yang akan ikut kemanapun suaminya pergi.
"Baik mama akan menunggu kedatangan menantu mama. " mama Aylin tersenyum lalu menggenggam tangan Nisa dengan lembut, Nisa pun membalasnya dengan senyuman.
Bagaimana pun, Nisa sudah memikirkan jauh hari setelah acara lamaran. Kalau ini pasti akan terjadi, dia akan berpisah dengan keluarganya dan mengikuti kemanapun suaminya akan pergi.
Setelah makan malam mereka kembali ke kamar masing-masing, Alima yang masih berada di hotel, kini tidur di kamar yang semalam dia tempati bersama dengan Nisa sendirian, sedangkan Nisa sendiri kini sudah berada di kamar pengantin bersama Erhan.
Drrt... drtt..
Ponsel Alima bergetar, tanda panggilan masuk, dia melihat siapa yang menghubungi malam-malam begini.
"Kemal." Alima langsung mengangkat panggilan dari Kemal.
"Hallo, Assalamu'alaikum. "
"Waalaikum salam. Alima bisa kita bertemu? "
"Ada apa? "
"Aku ingin mengatkan sesuatu padamu. "
deg... deg.. deg... Jantung Alima berdetak kencang saat Kemal mengatakannya.
"Me... mengatakan apa? " tanya Alima penasaran dengan suara gugup.
"Aku tidak bisa mengatakannya di telpon, bisa kita bertemu? Aku akan menunggumu di lobby. "
__ADS_1
"Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan bersiap. " Alima mematikan ponselnya dan segera bersiap.
Sebenarnya Alima sendiri sedikit terkejut saat Erhan menyuruhnya kembali bersama mama Aylin besok. Dan dia tau posisi Kemal yang tidak mungkin membantah perintah atasan. Karena dia sadar Kemal dan dirinya hanyalah seorang asisten yang tidak bisa berbuat seenaknya. Mereka harus mematuhi perintah atasan karena itu adalah konsekuensi nya.
Tak lama, mereka berdua akhirnya bertemu di lobby hotel. Kemal mengajak Alima ke kafe yang berada di seberang hotel, agar mereka bisa ngobrol dengan santai. Sesampainya di kafe, suasana telihat sedikit sepi karena waktu hampir larut malam. Mereka memesan makanan dan minuman hanya untuk teman ngobrol.
Hening terasa saat mereka berdua belum ada yang angkat bicara.
"Alima, ada yang ingin ku katakan kepadamu sebelum aku kembali ke Turki besok. " kata Kemal memecah keheningan diantara mereka.
Alima menunduk sambil mengaduk-ngaduk minumannya, tidak berani menatap wajah Kemal.
"Katakanlah, apa yang ingin kamu katakan. "
"Aku mencintaimu Alima. " Kemal mengungkapkan perasaan nya dengan pasti.
Alima langsung mengangkat wajahnya saat mendengar ungkapan cinta dari Kemal, dan menatapnya lekat.
"Jangan bercanda Kemal. "
"Aku tidak bercanda, aku serius. "
"Kita baru bertemu bagaimana mungkin kau yakin dengan perasaanmu. " Alima seolah meremehkan perasaan Kemal.
"Apa kau percaya akan cinta pada pandangan pertama? "
"Kau salah itu nyata, dan sudah dibuktikan oleh sahabatku Erhan. "
"Deg... " lagi-lagi Alima lupa kalau sahabat mereka sudah membuktikan kalau cinta pada pandangan pertama itu memang ada.
"Dan kini aku merasakannya. " lanjut Kemal. "Awalnya aku juga meremehkan perasaan sahabatku itu, yang tertarik setelah melihat foto profil Nisa. Hingga dia nekat terbang ke Dubai untuk menemuinya, dan datang ke Indonesia untuk mendengarkan jawaban dari Nisa. " Aku menganggap semua perbuatannya itu konyol.
"Tapi Erhan membuktikannya, dan kamu bisa lihat sekarang. Kurang dari dua bulan mereka sudah menikah. Luar biasa kan? Kau pasti merasakan nya karena kita berdua adalah saksi perjalanan cinta mereka. " Kemal mencoba membuka mata Alima.
"Dan kini aku juga merasakan perasaan yang sama kepadamu Alima. Sejak pertama kau muncul di acara lamaran Nisa, aku merasakan jantungku tidak baik-baik saja. Mungkin ini karmaku karena pernah menyepelekan perasaan Erhan. " ungkapnya.
Alima terkekeh mendengarnya.
"Aku tidak tau Kemal. Aku masih belum punya perasaan lebih padamu,selain rasa nyaman. Maafkan aku karena belum bisa membalas perasaamu saat ini. " ujar Alima jujur. Bukankah lebih baik jujur dari pada berbohong dan membuat kecewa pada akhirnya.
"Tidak apa-apa Alima, aku sudah lega. Setidaknya aku sudah mengungkapkan perasaanku padamu saat ini. Dan aku bisa mengerti atas jawaban darimu. Memang kita tidak bisa memaksakan perasaan kita. Tapi aku berharap kita bisa berteman. Dan kau jangan melarangku untuk menghubungimu. " Kemal mengulurkan tangannya tanda mereka masih berteman, dia memaklumi perasaan Alima. Setidaknya dia tidak menanggung beban perasaan saat dia kembali ke Turki..
"Okey." Alima membalas jabatan tangan dari Kemal. "Sekali lagi maafkan aku. "
"Its Oke. Tapi aku masih berharap kau akan berubah pikiran. " kekehnya. " Jika kau sudah berubah pikiran, hubungi aku. Aku akan datang menjemputmu. "
__ADS_1
Alima mengangguk.
Mereka berdua menghabiskan waktu bersama di kafe itu malam ini. Hanya sekedar ngobrol santai. Karena sudah tidak ada kecanggungan lagi di antara mereka.
Kamar pengantin baru.
Erhan dan Nisa sedang duduk berdua di atas ranjang dengan canggung, karena mereka masih merasa malu dan gugup. Entahlah, Kenapa juga Erhan malam ini merasakan hal itu biasanya dia yang jahil dan bisa mencairkan suasana kini hanya terdiam. Dia masih tidak tau apa yang harus di lakukan, karena takut jika Nisa belum siap untuk melakukan kewajibannya.
"Erhan, " sebuah panggilan dari Nisa membuyarkan kegugupan nya, karena ini yang dia tunggu dari tadi.
"Iya, ada apa Nis? " kata Erhan menghadap kearah Nisa
"Bolehkah, kita menunda malam pertama kita? sejujurnya aku belum siap. " ungkap Nisa dengan takut.
Seperti dugaan Erhan, Nisa masih belum siap.
"Baiklah, tidak apa-apa. Aku akan menunggu sampai kau siap. " kata Erhan dengan menyentuh rambut hitam dan panjang Nisa yang terurai dan sudah tidak memakai jilbabnya.
"Maafkan aku, bagiku ini terlalu cepat. Bisakah kita lebih dekat dulu, sampai aku merasakan nyaman. "
"Tentu saja, aku akan membuatmu nyaman. Dan akan membuatmu memeberikan hakku dengan sendirinya. "
"Terima kasih Erhan, kau mau menunggu. "
"Iya, sekarang bolehkah aku memelukmu, jujur aku ingin memeluk mu dari tadi. Tapi aku takut kau marah. "
Nisa mengangguk sebagai jawaban.
Erhan mendekat, lalu memeluk Nisa dengan erat.
"Terimakasih, karena sudah mau menjadi istriku Nisa. Aku sangat bahagia hari ini karena sudah mempersunting mu menjadi istriku. "
Nisa membalas pelukan Erhan, dia mendapatkan kenyamanan disana. Kenyamanan yang belum pernah dia rasakan selama ini. Selain pelukan dari sang ayah, ibu dan kakaknya.
Erhan membaringkan Nisa dengan masih memeluknya, memberikan tangan nya untuk dijadikan bantalnya malam ini.
"Biarkan seperti ini, aku ingin dekat denganmu dan memelukmu dalam tidurku. " kata Erhan sambil mencium aroma sampo di rambut Nisa, lalu mencium kepala Nisa sekilas.
Nisa yang sejak tadi diam, mendongak ke atas setelah merasakan kepalanya di cium Erhan. Mata mereka saling bersibobok dalam waktu yang cukup lama. Erhan sudah tidak kuat menahannya lagi, dia akhirnya mencium kening Nisa cukup lama dan Nisa menikmati sentuhan bibir Erhan di keningnya dengan memejamkan mata.
Erhan melepaskan ciumannya dan tersenyum melihat Nisa menikmati. "Aku akan membutamu nyaman saat bersamaku Nisa. " batinnya.
"Sekarang tidurlah, " Kata Erhan masih memelui pinggang ramping Nisa.
Bersambung.
__ADS_1
Duh otor ga berani ngelanjutin nanti kebablasan masih puasa ini. takut batal puasanya.
Siap ga siapnya di lanjut nanti habis buka puasa ya? Pasti unboxing, tp nunggu buka puasa dulu🙈🙏