
Nisa membuka matanya, dan ingin menggeliatkan tubuhnya. Tapi gerakannya tertahan karena pelukan posesif seseorang. Nisa sangat mengenali tangan kekar siapa yang sedang melingkar di perutnya, dia tersenyum bahagia karena saat membuka mata orang yang pertama kali dia lihat adalah suaminya. Dia lalu membelai wajah suaminya dengan lembut, mulai dari kening turun ke mata lalu kepipi.
"Pemilik wajah tampan ini adalah suamiku, " gumamnya. Nisa terus memandangi wajah tampan suaminya itu, hingga suara pemilik wajah tampan itu membuyarkan hayalannya.
"Aku memang tampan, dan pria tampan ini adalah suamimu. " kata Erhan dengan mata yang masih terpejam.
"Ih, kamu suka banget ngagetin aku, mas. Untung aku ga punya penyakit jantung. " Nisa reflek memukul tangan Erhan yang masih melingkar di perutnya.
Erhan terkekeh mendengar omelan istrinya yang sedang kesal itu. Lalu dia mengecup singkat bibir yang sering mengomel itu.
"Sudahkan istirahat nya, Ayo bersiaplah, kita akan ke butik. " ajak Erhan setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sekarang? ' tanya Nisa tak percaya.
"Iya, aku hanya ingin mengenalkan mu kepada para pegawai butikku, sebelum kamu bekerja. Agar tidak canggung nanti. " Erhan menjelaskan.
"Baiklah." dengan langkah gontai Nisa masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh mukanya, lalu memoles wajahnya dengan sedikit bedak dan lipstik.
Erhan melihat istrinya yang keluar dari kamar mandi dengan tampilan yang sudah segar. Dia pun tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk Nisa genggam.
"Gandengan aja, bang kayak truk gandeng aja. " kekeh Nisa.
Erhan hanya menggelengkan kepalanya mendengar candaan Nisa. "Aku hanya tidak ingin istriku ini lepas dari tanganku. " ujar Erhan memberi alasan.
Nisa tersenyum jail mendengar alasan Erhan. Lalu Ergan menunjukkan kalau mau keluar ruangan tombol mana yang harus Nisa sentuh.
"Kalau kamu mau keluar, pencet tombol ini. Dan kalau kamu mau masuk, kamu pencet yang ini. " Erhan menunjukkan tombol-tombol agar Nisa tau cara masuk dan keluar dari ruang pribadinya.
"Baiklah, suamiku aku akan mengingatnya. "
Mereka akhirnya keluar dari perusahaan dengan tatapan memuja dari para karyawan. Meski sudah menikah mereka tidak akan mengurangi rasa kekagumannya pada CEO mereka.
Kini mereka sudah berada di butik milik Erhan, butik dengan nama Farhat boutique itu terpampang dengan sangat jelas, karena terukir sangat besar di depan butik.
"Apakah ini butiknya?" tanya Nisa setelah memperhatikan butik yang lumayan besar di depan matanya.
"Iya, ayo kita masuk. " Erhan lalu menggandeng tangan Nisa dan membawanya masuk ke dalam butik.
Miss Julia sudah bersiap menyambut tuan dan nyonya baru mereka.
"Tuan, Nyonya selamat datang. " sapa Julia saat mereka sudah masuk ke dalam butik.
Erhan berhenti dan diikuti Nisa yang juga ikut berhenti dihadapan Julia.
"Sayang, kenalkan dia adalah Julia, asistenku di butik ini. Dia yang mengurus butik selama aku tidak datang. " Erhan mengenal kan Julia kepada istrinya.
__ADS_1
Nisa lalu Mengulurkan tangannya kepada Miss Julia, dan Julia menyambutnya dengan senang hati.
"Senang bertemu dengan anda Miss Julia, nama saya Nisa. " Nisa tersenyum manis memperkenalkan diri kepada Julia.
"Saya yang seharusnya senang bisa berkenalan dan bertemu secara langsung dengan anda nona Nisa. " kata Julia dengan tersenyum malu.
"Julia temui aku di ruangan, setelah semua sudah siap. " Erhan lalu menuju ruangannya dengan masih menggenggam erat tangan Nisa. Membuat semua mata terperangah melihat perlakuan owner mereka yang sangat posesif dengan istrinya.
"Miss, apakah wanita tadi istrinya tuan Erhan? " tanyaa salah satu pegawai butik yang merasa penasaran dengan kedatangan bosnya.
"Iya, dia adalah istri tuan Erhan, yang akan menjadi pimpinan di butik ini. " kata Julia, menjelaskan kepada pamegawainya itu. Lalu dia pun berjalan meakukan apa yang diperintahkan Erhan
Erhan yang sudah berada diruangannya langsung menuju ke meja kerjanya, disana ia langsung melihat berkas yang harus dia periksa. Sedangkan Nisa, dia sedang memperhatikan setiap sudut ruangan Erhan dengan seksama. Tidak ada yang terlewatkan dari pandangan mata Nisa.
"Ruangan ini sangat berbeda dengan ruangan di perusahaan. " gumamnya yang masih bisa didengar Erhan.
"Tentu saja, disini aku bikin terlihat lebih santai, kalau di perusahaan terlalu formal. " jelas Erhan.
"Mas, Miss Julia itu sudah menikah belum. " tanya Nisa dengan penasaran.
"Kenapa kau ingin tau. "
"Tidak apa-apa, aku hanya takut kalau dia masih single, otomatis dia juga memiliki perasaan padamu. Dan aku ga mau, ada pihak ke-tiga diantara kita. " jelas Nisa.
"Apa kau cemburu? " tanya Erhan saat melihat istrinya itu sedikit cemburu.
"Tentu saja. " kata Nisa dengan bersedekap dada.
Erhan lalu berjalan mendekat. Setelah berada di depan Nisa dia berhenti, lalu memegang kedua bahu Nisa.
"Kau tidak perlu khawatir, Julia itu sudah menikah, dia juga salah satu orang kepercayaan mama, jadi dia tidak akan macam-macam. " terang Erhan
"Hah, syukurlah. " Nisa bernapas lega.
Sikap Nisa itu Membuat Erhan tidak tahan untuk mencium bibir Nisa yang sedikit terbuka. Akhirnya mereka saling berciuman tanpa melihat tempat, dan lagi-lagi aksi mereka dipergoki asisten Erhan kali ini Julia yang melihat kemesuman owner nya.
"Maaf. " Julia langsung berbalik badan.
Nisa yang dari tadi dibuat malu sama ulah suaminya pun akhirnya mencubit perut Erhan bekali-kali.
"Ampun... ampun... sayang... " pekik Erhan karena merasa geli dan sakit secara bersamaan.
Julia masih memalingkan wajahnya, sebelum Erhan memanggilnya.
"Kemarilah Julia, " Erhan akhirnya menyuruh Julia duduk di hadapannya, dan Julia menurut.
__ADS_1
"Bagimana? " tanya Erhan
"Sudah siap tuan. " jawab Julia.
"Baguslah kalau begitu. "
"Siapkan, aku akan keluar sebentar lagi. "
Nisa dan Erhan keluar dari ruangan, beberapa saat setelah Julia keluar. Nisa terkejut karena semua pintu dan jendela Sudah tertutup rapat. Pandangan nya menyapu semua ruangan butik dan pandangan berhenti saat semua pegawai butik berkumpul di satu meja.
"Ayo kita kesana. " ajak Erhan kepada istrinya yang terlihat bingung.
"Halo semua," sapa Erhan kepada semua pegawainya. Lalu mendudukkan dirinya di kursi kosong yang tersedia.
"Aku ingin mengenalkan Istriku kepada kalian semua." ujar Erhan kepada semuanya.
"Perkenalkan, dia adalah Anisa Humaira istriku. Dia yang akan mengambil alih pimpinan butik ini. Karena aku sudah menyerahkan tanggung jawab butikku kepada istriku. Jadi aku harap, kalian bisa bekerja sama dengan istriku. Dan hormati dia, seperti kalian menghormati ku. " Erhan mengenalkan istrinya itu sebagai owner baru di Farhat butik.
"Baik tuan. " jawab mereka serempak.
"Kalian nanti bisa kenalan dengan istriku saat santai. Dia adalah orang yang sangat bajk dan humble. Sekarang, ayo kita makan dulu. " Erhan lalu mempersilahkan karyawan nya untuk menikmati makanan yang sudah tersedia.
"Tuan, kapan Nona Nisa akan mulai masuk kerja? " tanya salah seorang pegawai kepada Erhan.
"Kamu, mau masuk kapan, sayang? " Erhan bertanya balik kepada istrinya yang sedang menikmati makanan nya.
"Entahlah, aku belum memikirkannya. Karena aku harus mengenal beberapa hal dulu disini. " jawab Nisa asal, karena dia memang harus mengenal tempat barunya ini.
"Kalian dengar. Nanti kalau istriku sudah siap, maka dia akan langsung datang kemari untuk bekerja. "
Tidak ada lagi yang berani bertanya setelah itu.
"Oh iya sayang, apa aku boleh mendisain baju pengantin? " celetuk Nisa di tengah keheningan yang baru saja tercipta.
"Terserah kamu sayang. Butik ini milikmu sekarang. Mau kau buat seperti apapun itu sudah jadi tanggung jawabmu. Jadi buatlah senyaman mungkin untukmu bekerja" jawab Erhan enteng.
"Terimakasih,sayang." Nisa langsung mengecup pipi Erhan, tanpa memperdulikan orang yang ada disana.
Semua orang yang ada disana terperangah dengan kejadian sesaat yang mereka saksikan.
Tuh, kan mereka jadi baper melihat kebucinan kedua sejoli ini.
Bersambung.
Terimakasih sudah membaca.
__ADS_1