
Erhan dan Nisa kembali ke mansion ketika hari menjelang petang. Lelah itulah yang di rasakan keduanya saat ini. Namun senyuman sang mama yang menyambut anaknya pulang membuat rasa lelah yang mendera mereka berdua hilang seketika.
"Kalian sudah pulang. " sambut mama Aylin yang langsung memeluk menantu ny itu.
"Ma,.. sebenarnya anak mama Erhan apa Nisa sih? kenapa yang dipeluk duluan Nisa? " Erhan pura-pura merajuk.
Mama Aylin dan Nisa yang mendengar Erhan merajuk pun tekekeh geli. Lalu mereka melepaskan pelukannya dan mama Aylin langsung memeluk anak nakalnya itu.
"Sudah mama peluk, sekarang bersihkan tubuh kalian, setelah itu kita makan malam bersama. "
Mereka berdua berjalan menuju kamarnya, meninggalkan mama Aylin yang tengah tersenyum memandang punggung mereka berdua.
"Pa... andai kau masih hidup, kau pasti akan menyukai istri Erhan. Dia wanita yang baik dan memiliki banyak kelebihan, Karena itu, Erhan sangat mencintainya. Begitu pula dengan mama yang sudah jatuh cinta padanya ketika kami bertemu pertama kali. Aku seperti memiliki anak perempuan sekarang, seperti yang kita inginkan dulu. Dia juga sedikit manja sama seperti Erhan. " Mama Aylin lagi-lagi bermonolog, menceritakan menantunya itu kepada foto suaminya.
Mama Aylin begitu mencintai suaminya, karena itu dia sangat terpukul ketika suaminya meninggal karena sakit. Dia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga suaminya dengan baik, sehingga Tuhan mengambilnya begitu saja.
Di kamar.
"Mama sekarang sayangnya sama kamu, yang." protes Erhan kepada istrinya.
"Masa yang dipeluk pertama kali itu kamu bukan aku. " Erhan terus mengomel saat berada di kamar.
Nisa hanya menanggapinya dengan terkekeh. Ternyata benar kata orang, sifat pasangan kita akan benar-benar terlihat ketika kita sudah menikahinya . Dan itu terbukti sekarang. Erhan yang menurut Nisa orang yang dewasa dan berwibawa ternyata punya sifat manja yang luar biasa saat berada di dekat mamanya, dan sekarang dia memiliki tempat bermanja kedua, yaitu istrinya. (Otor juga mau dong, jadi tempat bermanja babang Erhan yang ke-3).
Setelah membersihkan diri dan terlihat lebih segar, Erhan dan Nisa menuju ruang makan. Disana sudah ada mama Aylin yang menunggunya.
"Ayo kita makan, setelah ini ada yang ingin mama bicarakan dengan kalian. " ujar Mama sebelum memulai makannya.
Nisa dan Erhan menurut, dan mereka langsung menyantap makan malam mereka dengan tenang.
Setelah makan malam selesai mereka bertiga berkumpul di ruang keluarga, dengan ditemani secangkir teh dan cemilan yang disiapkan pelayan.
"Apa yang ingin mama katakan kepada kami." Erhan mulai angkat bicara.
"Ini tentang resepsi pernikahan kalian. " kata mama Aylin.
"Apa mama sudah menentukan tanggalnya? " tanya Erhan.
"Iya, mama sudah menentukan tanggalnya. Resepsi Pernikahan kalian disini akan di adakan tiga bulan lagi, agar semua persiapan berjalan dengan matang. "
"Aku nurut aja sama mama, benar kan sayang. "
"Iya, mama pasti melakukan yang terbaik untuk kita. "
Mama Aylin tersenyum menatap kedua anaknya itu.
"Terimakasih, sayang. Untuk gaun pernikahan, aku ingin Nisa memakai gaun yang aku beli Dubai. "
Uhuk... uhuk... Nisa tersedak makanan saat mama Aylin mengatakan gaun pernikahan.
"Kenapa sayang kok sampai tersedak? " Erhan menepuk punggung Nisa dengan lembut.
Mama Aylin yang melihat itu tersenyum.
"Apa mama serius? " tanya Nisa tanpa memperdulikan suaminya.
Mama Aylin mengangguk, yakin.
"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan, gaun pengantin yang mana? " tanya Erhan yang tidak tau apa-apa tentang gaun pengantin nya.
"Apa suamiku tidak tau ma? " Nisa balik tanya kepada mama Aylin.
"Tidak, dia tidak tau apa-apa. Karena mama tidak mengatakan apapun kepadanya.
__ADS_1
" Oh, ayolah, kenapa kalian mengabaikanku. Seseorang, tolong jawab pertanyaan ku. " Erhan merasa kesal sendiri dengan dua orang wanita yang di sayangi nya, karena tidak ada yang menanggapinya.
Mama Aylin dan Nisa tertawa lepas melihat tingkah Erhan yang kebingungan. Akhirnya mama Aylin menjelaskan.
"Kau ingat, saat kau pergi ke Dubai? "
"Iya, aku ingat, aku kesana karena ingin menemui Nisa. "
"Bukan itu, tapi apa yang kau lakukan dipertunjukan Nisa yang terakhir. " tanya mama Aylin lagi.
Erhan mengetuk-ngetuk dagunya, seolah dia sedang berpikir.
"Aku membantu Nisa menjadi modelnya karena modelnya tidak datang waktu itu. Memang kenapa ma? "
"Lalu konsep apa yang kalian kenakan waktu itu. "
Mata Erhan langsung membulat saat mengingat semuanya. "Jadi maksudmu yang membeli gaun pengantinmu adalah mama, sayang? " tanya Erhan kepada Nisa.
Nisa tersenyum dan mengangguk kan kepala.
"Kenapa tidak bilang padaku? "
"Waktu itu aku mana tau kalau nyonya Lin adalah mamamu? Dan waktu itu kita juga masih dalam masa pendekatan. " terang Nisa.
"Ah, kau benar. kenapa aku bisa lupa. " kata Erhan menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Lalu maksud mama apa membeli gaun pengantin Nisa. "
"Mama ingin Nisa menjadi menantu mama sejak awal. Karena mama sudah merasa cocok dengan Nisa. " kata mama Aylin.
"Jika kau tidak berhasil melamar Nisa waktu itu, maka mama sendiri yang akan datang langsung dan meminta kepada orangtua Nisa untuk menjadikannya istrimu dan menantu mama." kata mama Aylin menggebu.
"Tapi pada akhirnya, aku kan yang mendapatkan Nisa. Pesonaku memang tidak bisa dibandingkan dengan siapapun. " ujar Erhan menyombongkan dirinya sambil merangkuk pundak Nisa.
"Cih... " kedua wanita itu kangsubg berdecih mendengar kesombongan pria satu-satunya di rumah itu.
"Ma, jangan cincin lagi, cincin Nisa sudah banyak. Lihatlah " kata Nisa menunjukkan tiga cincin di jari-jarinya.
"Ini waktu dilamar Erhan, ini waktu acara lamaran dengan mama, dan ini waktu ijab qobul. Aku rasa sudah cukup ma. " ujar Nisa yang keberatan dengan cincin yang akan diberikan lagi padanya.
"Baiklah. terserah padamu sayang. " akhirnya mama Aylin yang menyerah.
Mereka terus membicarakan tentang konsep resepsi pernikahan yang terbaik. Mama Aylin benar-benar akan melakukan semuanya dengan baik dan terkonsep dengan matang untuk anak-anak yang ia sayangi. Hingga suara Kemal memecah obrolan mereka tentang resepsi pernikahan Erhan dan Nisa.
"Selamat malam, maaf mengganggu. " Kemal datang dengan cengiran khasnya.
"Ada apa? " tanya Erhan.
"Ini aku membawakan pesananmu tadi siang. ' kata Kemal sambil menunjukkan berkas-berkas yang dia bawa.
" Ayo ke ruang kerja. " Erhan mengajak Kemal ke ruang kerjanya. "Aku kerja dulu ya sayang, kamu temani mama ngobrol dulu, kalau sudah ngantuk kamu bisa tidur dulu. jangan menungguku, aku takut nanti kemalaman. " Erhan lalu mengecup kening Nisa dan beranjak dari sana.
"Erhan bagaimana menurutmu, sayang? " tanya Mama Aylin yang ingin mengetahui bagaimana pendapatnya tentang putra nya itu.
"Sejauh ini di baik, ma. Perhatian dan sayang sama aku. " jawab Nisa dengan malu-malu.
"Kau benar, dia memang anak yang baik, perhatian dan menyayangi orang-orang di sekitarnya. Tapi dia juga bisa kejam kepada orang-orang yang mengganggu orang-orang yang dicintainya. Sifatnya sama persis dengan papa mertuamu. " kata mama Aylin sambil memandang foto suaminya.
Mereka terus ngobrol dan bertukar cerita. Sejauh ini Nisa merasakan kasih sayang mama Aylin sama dengan kasih sayang ibuny. Dia tidak menganggal Nisa sebagai menantu nya, tapi sebagai anaknya sendiri. Karena dia juga bercerita kalau dulu dia ingin sekali memiliki anak perempuan, tapi takdir berkata lain. Mereka hanya diberi Erhan sebagai satu-satunya putra mereka.
Malam semakin larut, Nisa sudah berkali-kali menguap. Dan mama Aylin mengerti kalau anak menantunya itu sudah mengantuk. Dia pun mengakhiri obrolannya dengan Nisa.
"Tidurlah, jika kau sudah mengantuk, tak perlu menunggu suamimu. Jika dia sudah bekerja, dia terkadang lupa waktu. " ujar mama Aylin.
__ADS_1
"Baik, ma. Nisa pergi ke kamar dulu ya? " pamit Nisa.
Mama Aylin mengangguk.
Di kamar, rasa kantuk yang sedari tadi menderanya mendadak hilang saat dia berada di kamar. Nisa hanya berguling-guling kesana kemari namun tetap tidak bisa tidur. Apa karena sudah terbiasa tidur disisi suaminya, sekarang Nisa tidak bisa tidur jika suaminya tidak bersamanya. Aaahhh, Nisa benar-benar kesal.
Dia lalu mengambil ponselnya, lalu mengirim pesan kepada Erhan.
✉️ "Masih lamakah? "
Erhan yang sedang bekerja, merasa terganggu dengan bunyi pesan masuk. Dilihatnya siapa yang mengirimi pesan malam-malam begini. Ternyata istrinya. Dia pun tersenyum dan membalas pesan dari istrinya.
✉️ "sebentar lagi. Jika kau ngantuk tidur lah dulu."
📩 " Jika sebentar lagi, aku akan menunggumu. "
✉️ "Tidurlah sayang... "
📩 "Aku juga ingin tidur, tapi aku tidak bisa. "
Membaca pesan terakhir dari Nisa Erhan pun tersenyum namun tidak membalasnya.
"Mal, untuk hari ini cukup sampai di sini dulu ya. Kita lanjutkan besok. " kata Erhan mengakhiri pekerjaannya.
"Tumben" Kemal juga penasaran dengan sikap Erhan, yang biasanya akan menyelesaikan pekerjaan sampai selesai, tapi ini dia menundanya lagi.
"Sudahlah, aku ngantuk. Ini juga sudah larut. Kamu bisa tidur di sini, dikamar biasanya. "
"Baiklah bos. "
Akhirnya Erhan keluar dari tempat kerjanya, dan menuju kamarnya. Dia akan menidurkan bayi besarnya yang manja.
Erhan membuka pintu kamarnya, dia disambut dengan senyuman lebar dari Nisa, yang menularkan senyuman itu padanya.
"Kenapa tidak bisa tidur? " tanya Erhan saat mereka sudah duduk bersama dalam satu ranjang.
"Entahlah, mungkin karena aku terbiasa tidur denganmu. Jadi membuatku tidak bisa tidur saat kau tidak ada di sampingku. "
Erhan menaikkan alisnya, "Begitu? "
Nisa mengangguk pasti.
"Baiklah, sekarang ayo kita tidur. " Erhan merebahkan dirinya di ranjang, di susul Nisa yang tidur di sebelahnya.
Erhan lalu memeluk Nisa agar istrinya itu cepat tidur. Tapi tangan jahilnya meraba alat sensitif Nisa.
"Ini kapan selesainya? "
Nisa terpekik dan lagi-lagi dia memukuk tangan Erhan.
"Geli, mas. "
Erhan tekekeh, lalu memindahkan tangannya melingkari perut Nisa.
"Jadi , kapan selesainya? " tanya Erhan lagi sambil mencium aroma rambut Nisa yang wangi.
"Nanti, kalau selesai juga tau. "
"Caranya? "
"Kalau aku sudah mengerjakan sholat, berarti aku sudah selesai, sayang"
"Ah kau benar juga. Sekarang aku hanya bisa tidur dengan memelukmu saja. " guman Erhan sebelum dia terbang ke alam mimpi.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih sudah membaca.