
Melihat Erhan yang tidak mau melepas genggaman tangannya pada Nisa, akhirnya dokterpun mengalah. Dia mengambil sisi Erhan yang lain untuk memeriksa keadaanya. Mama Aylin dan Kemal juga tidak habis pikir dengan apa yang mereka lihat didepan mata mereka.
Sepasang pasangan bucin. Mereka sampai menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak habis pikir dengan keposesifan Erhan kepada istrinya.
"Sepertinya keadaan tuan Erhan sudah membaik. Tekanan darahnya sudah normal. Mungkin harus menginap selama beberapa hari agar lukanya membaik dan memulihkannya agar segera tertutup dan jangan sampai infeksi. " ujar dokter setelah memeriksa keadaan Erhan.
Semua orang mengangguk mengerti.
"Terimakasih dokter. " kata Nisa dan mama Aylin.
Dokter hanya mengangguk dan permisi undur diri.
Setelah kepergian dokter, mama Aylin dan Kemal mendekati Erhan.
"Bagaimana perasaanmu saat ini, sayang? " tanya mama Aylin kepada putranya itu.
"Aku baik, ma. Mama tidak perlu khawatir." kata Erhan dengan suara yang sudah normal.
"Alhamdulillah." ucapan syukur itu terucap dari bibir mama Aylin karena senang anaknya itu sudah baik-baik saja.
"Bro, aku tinggal dulu ya. Aku mau ke kantor polisi untuk mengajukan laporan buat Shofi. Aku akan meminta penegak hukum untuk memberinya hukuman seberat-beratnya. karena percobaan pembunuhan. " Kemal meminta ijin untuk pergi
Erhan mengangguk.
"Tunggu, mama juga mau ikut. Mama ingin memberikan pelajaran untuk anak sialan itu." ujar mama Aylin dengan geram..
"Nisa, kamu jaga Erhan ya. Mama ikut Kemal dulu sekalian mengambil beberpa keperluan di rumah. Kalau butuh apa-apa ada Lisa dan Ana yang berjaga diluar. Dan kalau ada apa-apa segera hubungi mama atau Kemal. " ujar mama Aylin yang memberikan pesan panjangnya
"Iya ma, aku mengerti. "
"Baiklah, Erhan. Kamu istirahat, dijaga istrimu dulu ya. Mama pergi dulu. "
Setelah berpamitan kepada sepasang suami istri itu, mama Aylin bergegas mengikuti Kemal ke kantor polisi.
"Yang, aku laper. Bolehkah aku minta makan? " kata Erhan dengan menggoyang-goyangkan baju Nisa.
"Kamu laper? Tunggu, aku akan tanya kedokter makanan apa yang boleh dan tidak boleh kamu makan. " kata Nisa hendak beranjak pergi, namun tangannya dicekal Erhan lagi.
"Kamu jangan kemana-mana. Kamu suruh Lisa atau Ana saja yang menanyakannya. " perintah Erhan.
Dan perintah dari yang mulia ini tidak boleh diganggu gugat, akhirnya Nisa memanggil Ana ataupun Lisa yang berjaga di luar. Lalu Nisa meminta Ana untuk menyakan perihal makanan apa saja yang harus di konsumsi Erhan kepada dokter. Dan dengan patuh kali ini Ana yang pergi, sedangkan Lisa berjaga.
__ADS_1
Semangkok bubur ayam pun sudah siap dan akan jadi santapan makan malam Erhan. Nisa menyuapi Erhan dengan telaten, seperti seorang ibu yang menyuapi bayinya. Sungguh di saat seperti ini, Erhan seperti dimanjakan istrinya. Setelah makanan habis, Nisa menyuruh Erhan agar segera tidur agar kondisinya segera pulih. Sedangkan Nisa akan tidur di kursi.
"Yang, tidur di sini sebelah aku. Masih muat kok. "
"Enggak mas, aku takut nanti nyenggol lukamu. Itu luka masih basah, kesenggol dikit bisa terbuka lagi. Enggak ah, pokoknya. Aku pengen kamu cepet sembuh. Nanti kalau sudah agak mendingan baru tidur bareng kamu. " Nisa memberi alasan.
"Yaahh, aku nggak bisa tidur, sayang. " kata Erhan dengan wajah memelas.
Nisa mendekat lalu duduk di samping ranjang, dia lalu membelai puncak kepala Erhan dengan lembut. Dan menepuk-nepuk tangannya, persis seperti seperti orang ibu yang sedang nina boboin bayinya.
"Sekarang tidurlah, Aku nggak pernah menyangka kalau akan punya suami semanja ini. " Nisa terkekeh dengan pemikirannya sendiri.
**************
Di kantor polisi, Kemal, mama Aylin dan beberapa pengacara keluarga Erhan datang untuk memberi laporan dan bukti-bukti yang akan memberatkan Shofi. Rekaman CCTV di ruangan Erhan pun di berikan Kemal kepada pihak yang berwajib, dengan memotong kekerasan yang dilakukan Nisa pada Shofi.
"Kami minta tersangka di hukum seberat-beratnya atas kasus percobaan pembunuhan terhadap klien kami, apalagi klien kami adalah orang yang sangat sangat berpengaruh di sini. " ujar pengacara kepada polisi.
"Tentu, pak kami akan melakukan tugas kami dengan baik. "
"Apakah kami boleh bertemu dengan tersangka? Ibu korban ingin bertemu dengan nya. Beliau sekaligus bibi tersangka. " pinta pengacara.
"Tentu... " lalu polisi memanggil salah satu petugas untuk mengantarkan mama Aylin menemui Shofi.
"Hallo Shofi. " sapa mama Aylin kepada keponakan suaminya itu.
"Tante... aku mohon maafkan aku bebaskan aku, aku ingin bertemu dengan Erhan, tante. " Shofi terus memohon kepada mama Aylin, padahal mama Aylin belum mengatakan sepatah katapun.
"Apa? membebaskanmu, setelah apa yang kau lakukan pada anakku, sekarang kamu minta aku membebaskanmu? hahahaha... dalam mimpimu, Shofi. " kata mama Aylin dengan tawa jahatnya yang tak pernah dia tunjukkan kepada orang lain.
"Andai aku bisa, aku ingin membunuhmu dengan tanganku sendiri. Berani-beraninya kamu mengusik rumah tangga anakku. Padahal aku bersikap baik padamu. Dan perlu kau tau, aku tak sebaik yang kamu pikir. " kata mama Aylin lagi dengan geramnya.
Shofi terdiam, dia tidak pernah menyangka, tante yang selama ini dia kenal dengan sikap dan sifat baiknya bisa berubah drastis menjadi sangat mengerikan.
"Tapi tante... aku sangat mencintai Erhan. Erhan hanya pantas untukku. " teriak Shofi pada akhirnya.
Plak... sebuah tamparan keras mendarat di pipi Shofi yang sudah tak berbentuk itu.
"Apa kamu bilang?hanya kamu yang pantas?Semoga tamparan ini bisa menyadarkanmu, wanita ja" ang sepertimu sama sekali tidak pantas untuk anakku walau hanya seujung kukumu itu. Anakku tidak akan pernah mau barang bekas sepertimu. Kami sudah tau sepak terjangmu diluar sana, walau kau sudah menutupinya dengan rapat. " kata mama Aylin menyadarkan Shofi
Shofi langsung terdiam dan tak bisa berkata apa-apa lagi. Ternyata kebusukannya selama ini sudah diketahui oleh keluarga Erhan, maka dari itu meski shofi melakukan berbagai cara, Erhan tetap menolaknya.
__ADS_1
"Lebih baik kamu berkaca, sebelum mencintai putraku.Sekarang nikmatilah kehidupan mu di penjara. " sebuah kalimat penutup yang diberikan mama Aylin sebelum pergi meninggalkan Shofi yang sedang larut dalam pikirannya
"Ayo Kemal kita pergi dari sini. "
Kemal yang dari tadi berdiri di belakang mama Aylin pun terkejut dengan ajakan mama Aylin. Karena dari tadi dia memasang wajah berubah-ubah melihat mama Aylin yang berada di depannya. Hanya satu kata yang terlintas di pikiran Kemal. "Mengerikan."
Mereka akhirnya kembali ke rumah sakit tempat Erhan di rawat. Setelah mampir ke rumah sebentar untuk mengambil beberapa pakaian ganti. Ketika masuk ke kamar rawat Erhan terlihat pemandangan yang sangat manis. Nisa tertidur di kursi dengan kepala yang diatas ranjang pasien dan tangan yang berada di kepala Erhan, begitu pula tangan Erhan yang berada di wajah Nisa.
"Kau lihat Kemal, bukankah mereka sangat manis? Sebaiknya kau segera menikah, agar bisa seperti mereka. " kata mama Aylin yang sudah ke mode lembutnya lagi.
"Tidak tante, walau aku menikah. Aku tidak akan seperti mereka. Mereka berdua terlalu bucin. Itu sangat menggelikan. " kata Kemal sambil bergidik.
Mama Aylin langsung memukul tangan Kemal.
"Apa Kamu bilang? mereka menggelikan? " kata mama Aylin tak terima.
"Mereka itu sangat manis Kemal, mereka saling mencintai dan menyayangi satu sama lain. " kata mama Aylin dengan gemas.
"Oh iya, minta kepada pihak rumah sakit untuk memberi satu tambahan ranjang untuk yang menjaga pasien. Dan suruh Ana dan Lisa untuk pulang istirahat. Kirim dua bodyguard laki-laki kalau malam, Ana dan Lisa siang sampai sore. agar mereka tidak kelelahan " perintah mama Aylin pada asisten sekaligus sahabat anaknya itu.
"Baik ma, sekalian aku istirahat juga ya. Besok pagi aku kesini lagi sebelum ke kantor. " kata Kemal mohon diri
"Baiklah. istirahatlah. Terimakasih untuk hari ini. "
"Sama-sama ma, sudah tugasku. "
Setelah kepergian Kemal, mama Aylin mendekati Nisa dan membangunkannya agar pindah tidur.
"Bangun Nisa," bisik mama Aylin di telinga Nisa.
"Mama sudah pulang? " Nisa terbangun dengan suara serak khas bangun tidur.
"Pindah tidur sana, biar kamu nggak ikutan sakit. " perintah mama Aylin.
"Mas Erhan nggak mau di tinggal ma? " kata Nisa dengan memelas.
"Dasar anak nakal, bisa-bisanya nyusahin istri. " mama Aylin ngedumel melihat ke arah anaknya.
"Sudah nggak apa-apa, sana tidur di kursi. besok kamu akan kualahan menghadapi anak nakal ini. Sebaiknya kamu tidur dengan benar. " kata mama Aylin yang tidak mau di bantah.
Akhirnya Nisa mau menuruti permintaan mama Aylin. Karena dia sendiri merasa sangat lelah hari ini.
__ADS_1
Bersambung,
Terimakasih sudah membaca.