
📩 "Kita akan sarapan pukul delapan. " sebuah notifikasi pesan masuk di ponsel Erhan. Pesan yang dikirim oleh Kemal, asisten pribadinya.
✉️ "Okey. "
Erhan menunggu Nisa yang sedang bersiap. Dia melihat pantulan wajah Nisa dari cermin. Sungguh dia tidak menyangka akan memperistri seorang Nisa, wanita asing yang baru di kenalnya tapi sudah bisa menjungkir balikkan kehidupannya. Bahkan dalam semalam mereka juga sudah menjadi sepasang suami istri seutuhnya. Takdir Tuhan memang luar biasa.
Nisa yang merasa diperhatikan pun berbalik menghadap Erhan.
"Ada apa? "
"Tidak apa-apa, aku hanya sedang memandangi istriku yang cantik. "
Mendengar itu Nisa tersipu dan kembali membalikkan tubuhnya menghadap cermin. Erhan tersenyum melihat tingkah Nisa yang selalu malu-malu itu padahal mereka kan sudah menjadi pasangan suami istri.
"Aku baru mendapat pesan dari Kemal kita akan sarapan pukul delapan. "
"Kenapa tidak bilang dari tadi. Kita akan terlambat ini. " Kata Nisa sambil cemberut.
"Idih, cantik banget istriku kalau lagi cemberut. pengen aku makan aja itu bibirnya. " kata Erhan berjalan menghampiri Nisa.
Nisa langsung menutup rapat bibirnya karena menganggap ucapan Erhan serius. Erhan yang melihatnya langsung tertawa lepas melihat kekonyolan istri itu.
"Tidak apa-apa kita terlambat, mereka akan mengerti. Kita kan pengantin baru. "
"Apa maksudmu? " tanya Nisa polos.
"Sudahlah, ayo. Katanya nanti kita terlambat. " Erhan menarik tangan Nisa agar berdiri dan menempel di tubuhnya.
Cup
Satu kecupan singkat mendarat di bibir Nisa, membuat Nisa membelalakkan matanya karena terkejut.
"Morning kiss, sayang. " Erhan tersenyum lebar melihat Nisa yang terkejut.
Nisa mencubit perut Erhan berkali-kali, "Memang bener ya kata mama Aylin. Kamu memang nakal. Bikin kaget orang aja. " kata Nisa masih mencubit Erhan.
"Ampun... ampun... " Erhan tertawa sambil menghindar, bukan karena cubitan Nisa yang sakit melainkan karena rasa geli.
Erhan akhirnya berhasil menangkap tangan Nisa, lalu menggenggamnya erat.
"Sudah cukup Nisa, aku geli. Ayo kita pergi, sebelum kita makin terlambat. " Mereka berdua akhirnya keluar kamar dan menuju restoran tempat mereka berkumpul untuk sarapan.
Di restoran, semua orang sudah berkumpul. Hanya menunggu pasangan pengantin baru yang belum datang dan mereka memakluminya. Makanan dan minuman sudah di hidangkan, namun mereka tidak segera menyantapnya. Mereka semua sedang asik mengobrol satu sama lain. Hingga suara bariton menyapa mereka semua.
"Selamat pagi. "
Semua mata tertuju pada Erhan yang tampak lebih segar dan berseri yang sedang menggenggam tangan Nisa.
"Seger banget, kayaknya ular cobra udah ketemu pawangnya. " celetuk Kemal yang menggoda pengantin baru itu.
Begitu juga dengan Arkan yang ikut menggoda adiknya. "Gandengan terus, kayak mau nyebrang aja. "
Godaan dari dua orang itu membuat pipi Nisa merona karena malu, sedangkan Erhan hanya cuek tak menanggapi. Dia menarik kursi dan menyuruh Nisa duduk, sedangkan dia sendiri duduk di sebelah Nisa.
"Sudah jangan digoda terus, kasihan kan. " Ibu Aisyah menyuruh semuanya diam dan mengelus punggung Nisa.
"Bagaimana semalam tidurnya, apa kamu tidur dengan nyenyak? "
"Uhuk.. uhuk.. uhuk.. "
__ADS_1
Nisa yang sedang minum air untuk menghilangkan kegugupannya kini makin tersedak setelah mendengar ucapan ibunya, membuat semburat merah di wajah Nisa makin terlihat. Erhan dengan reflek langsung menepuk-nepuk punggung Nisa dengan pelan dan mengambilkannya tisu.
Semua orang yang ada di sana, tertawa lebar karena puas menggoda pengantin baru itu.
"Sudah-sudah.... ayo sekarang kita makan, ayah sudah lapar ini. " Akhirnya pak Ibnu yang menghentikan celetukan semua orang yang sedang menggoda Nisa.
Mereka semua makan dengan tenang, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang mengiringi sarapan mereka.
Setelah selesai makan, mama Aylin mulai membuka percakapan.
"Erhan, mama akan kembali pukul sebelas nanti. Asisten mama sudah menyiapkan semuanya. "
"Baiklah ma, nanti Erhan dan Nisa akan mengantar mama ke bandara. "
Mama Aylin mengangguk.
"Besan, maaf kami tidak bisa mengantar. Kami selalu berdoa semoga anda bisa sampai tujuan dengan selamat. " kata Pak Ibnu yang merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa pak, saya mengerti. Saya hanya ingin menitipkan Erhan selama berada di sini. Jika dia nakal, anda bisa menjewer telinganya. "
"Mama... iihhh... bikin malu aja."
Semua orang tertawa melihat interaksi ibu dan anak itu.
"Nanti mama meninggalkan dua orang bodyguard untukmu Erhan, agar bisa menemanimu disini. Jika ada apa-apa kamu tinggal panggil mereka. "
"Ga usah ma, aku akan baik-baik saja di sini. "
"No, tidak ada bantahan. "
"Terserah mama deh. Memangnya siapa yang akan tinggal. "
"Si kembar itu? "
Mama Aylin mengangguk.
"Baiklah. "
Semua orang terdiam mendengarkan percakapan ibu dan anak itu. Mereka berpikir 'Apakah seperti ini kehidupan orang kaya, yang kemana-mana harus dijaga bodyguard? '
"Baiklah Erhan, Nisa, besan. Kami pamit pulang dulu. Terimakasih atas segala yang telah anda lakukan untuk kelancaran acara anak kita. "
"Sama-sama Pak Ibnu, ini sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai orang tua untuk memberikan yang terbaik untuk anak kita. "
Mereka akhirnya berpisah di lobby hotel, Ayah ibnu dan keluarganya yang kembali ke rumah sedangkan Erhan, Nisa dan mamanya kembali ke kamar hotel untuk bersiap.
Setelah beberapa saat mereka kembali bertemu di lobby hotel dengan menyeret koper di tangan mereka masing-masing, dan segera menuju bandara.
"Erhan, mama mengambil penerbangan apa? " tanya Nisa saat mereka berada di mobil.
"Oh, mama naik jet pribadi, kau tak perlu khawatir."
Mulut Nisa menganga mendengar ucapan Erhan barusan. Apa katanya tadi? Jet pribadi? apa Nisa tidak salah dengar? tapi sepertinya tidak.
"Kamu punya jet pribadi? " tanya Nisa yang masih tak percaya.
Erhan mengangguk dan tersenyum ke arah Nisa. Erhan tau kalau Nisa pasti terkejut mendengar kalau dia memiliki Jet pribadi. 'dan ini masih belum seberapa, aku akan membuatmu terkejut lebih banyak lagi, Nisa. ' batin Erhan.
Nisa terdiam setelah mendapat jawaban dari Erhan. Kini dia kembali mencerna, seberapa kaya seorang Erhan Farhat suaminya ini? kemarin dia memberikan barang-barang brended untuk seserahan, lalu pernikahan dadakan yang mewah walau hanya acara ijab qobul, mahar yang mencapai 15M dan sekarang ini... jet pribadi...
__ADS_1
Nisa rasanya ingin pingsan jika mengingat semua itu. Apa lagi yang tidak dia ketahui tentang Erhan. Pria yang penuh kejutan, yang sudah menjadi suaminya ini. pikir Nisa.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam lebih, akhirnya mereka sampai di bandara. mereka tidak perlu antri karena mobil mereka langsung masuk ke dalam dan menuju pesawat jet yang sudah dipersiapkan.
Lagi-lagi Nisa menganga melihat penampakan burung terbang pribadi milik keluarga Erhan. Membuat Erhan yang melihatnya merasa geli sendiri.
"Nanti jika kita kembali ke Turki kita akan menaikinya." bisik Erhan ditelinga Nisa.
Nisa akhirnya tersadar dari rasa terpana nya, hingga membuatnya malu.
"kampungan banget sih aku. " batin Nisa yang menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kamu kenapa sayang? " tanya mama Aylin ketika melihat Nisa salah tingkah. Sedangkan Erhan hanya tersenyum melihat tingkah konyol Nisa.
"Tidak apa-apa, ma. " jawab Nisa gugup.
"Erhan, segera kembali ya, rumah terasa sepi jika tidak ada kamu, nak. " ujar mama Aylin kepada anaknya lalu memeluknya.
"Iya ma, setelah urusan Nisa disini selesai aku akan segera pulang." Erhan membalas pelukan mama Aylin.
"Nisa, titip Erhan ya. Segera selesaikan semuanya di sini, dan ikut Erhan pulang. Kau sekarang adalah istri Erhan, yang juga anak mama. " Mama Aylin sambil memeluk Nisa.
"Iya ma. " jawab Nisa singkat dan membalas pelukan mama Aylin.
"Mal, sementara aku titip perusahaan dulu padamu. Sampai aku kembali." ucap Erhan pada asistennya Kemal.
"Jangan khawatir, serahkan padaku. Dan segeralah kembali. " jawab Kemal.
"Oke."
Mereka pun berpelukan. Lalu mama Aylin masuk ke dalam pesawat di ikuti Kemal. Asisten Mama Aylin dan dua bodyguard membungkuk memberi hormat kepada Erhan, lalu ikut masuk ke dalam pesawat.
Erhan dan Nisa kembali ke dalam mobil dan pergi dari bandara bersama dua bodyguard yang tersisa.
"Nis, apa yang akan kau lakukan setelah ini. " tanya Erhan ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Aku akan membicarakan masalah butik dengan ayah dan Ibu. Bagaimanapun butik itu adalah salah satu impianku, Erhan. "
"Kau bisa mengelola butikku saat di sana nanti. Karena aku akan sibuk dengan urusan perusahaan. "
"Kenapa kau bisa memiliki butik, sedangkan kau sudah punya perusahaan sendiri. "
"Karena aku hobby mendisain, dan aku curahkan hobby ku itu dengan membuka butik. "
Satu lagi yang tidak Nisa tahu dari Erhan. Mereka memiliki hobby yang sama ternyata.
"Kau bisa membuka butik lagi di sana, bersama dengan butikku, Nanti stok kita akan kita kirim kemari. Sehingga kualitasmu tetap ada, pelangganmu juga bisa memesan pakaian kepadamu lewat email atau apa saja. Sekarang jarak bukan masalah lagi? "
"Kau benar, kenapa tidak terpikirkan olehku. Ternyata kalau bicara bisnis denganmu pasti akan mendapatkan solusi, ya. "
"Tentu saja. " jawab Erhan dengan sombong.
Dan itu membuat Nisa gemas hingga dia mencubit Erhan lagi. Membuat Erhan tertawa terbahak-bahak karena geli.
Kedua bodyguard yang melihat tingkah tuannya itu merasa tidak percaya, karena selama ini Erhan yang mereka kenal adalah seorang yang dingin.
Bersambung.
Terimakasih sudah membaca.
__ADS_1