Jodoh Dari Situs Online

Jodoh Dari Situs Online
Kedatangan Keluarga Nisa.


__ADS_3

Persiapan menuju resepsi pernikahan antara Erhan dan Nisa sudah 90%, bahkan orangtua Nisa dan kakaknya sudah berada di kediaman Erhan saat ini. Mereka dijemput Erhan menggunakan pesawat pribadinya beberapa hari lalu. Kini semua keluarga Nisa sudah berada di mansion Erhan. Betapa terkejutnya ayah dan ibu Nisa saat melihat kemegahan kediaman Erhan. Sama seperti Nisa saat baru pertama kali menginjakkan kaki di rumah Erhan, kedua orang tua Nisa pun merasa tidak percaya diri. Tapi pikiran mereka akhirnya dibuyarkan dengan teriakan Nisa yang memanggil kedua orang tuanya.


"Ayah, Ibu... " pekik Nisa saat melihat kedua orang tuanya sedang mengagumi mansion keluarga Erhan.


Nisa mendekat ke arah kedua orang tuanya dan langsung memeluk mereka. Ibu Nisa pun membalas pelukan anaknya itu dengan deraian air mata karena sangat merindukan putri semata wayangnya itu.


"Ibu kangen, Nis? "


"Nisa juga kangen ibu. " mereka berdua saling berpelukan untuk mengobati kerinduannya.


Semua orang yang melihat kedua orang ibu dan anak itu juga ikut terharu. Erhan lalu mendekat dan menyalami ayah Ibnu, lalu memeluk Arkan dan menyalami Alina. Nisa kemudian mengurai pelukannya dari ibunya, lalu beralih memeluk ayahnya, lalu berpindah ke abangnya dan seterusnya.


Mereka semua akhirnya masuk ke dalam mansion dan di sambut oleh mama Aylin dan kemudian saling berpelukan.


"Besan.akhirnya kita bertemu lagi. " kata bu Aisyah.


"Iya, senang bisa bertemu dengan anda lagi ibu Aisyah. " kata mama Aylin.


Semua orang berkumpul di ruang keluarga, Ruangan yang sangat luas setara dengan rumah mereka di Indonesia. Keluarga Nisa masih mengagumi interior di mansion itu. Mereka sama sekali tidak menyangka anaknya akan menikah dengan dengan seorang Sultan.


"Apakah kalian ingin langsung istirahat? kami tau, perjalanan kalian pasti sangat melelahkan. " Kata Nisa kepada keluarganya.


"Iya Nisa, capek banget. tapi seneng sih. Akhirnya kita bisa naik pesawat jet. " kata Alina sambil tekekeh.


"Ya sudah kalau gitu ayah, ibu, bang Arkan dan mbak Alina bisa istirahat dulu. Ayo aku antarkan ke kamar. "


Nisa meminta tolong beberapa pelayang untuk memasukkan barang bawaan keluarganya ke dalam kamar tamu. Dia juga minta ijin kepada Erhan kalau ingin bicara dulu dengan orang tuanya. Dan Erhan pun memberikan ijin.


"Nanti kalau mencariku, aku ada di ruang kerja. Ada beberapa berkas yang harus aku periksa. " kata Erhan kemudian mengecup kening Nisa dan beranjak ke ruangannya.


"Erhan mau kemana, Nis? " tanya bu Aisyah sambil berjalan menuju kamar tamu.


"Ke ruang kerja, bu. Dia mau memeriksa beberapa pekerjaan dulu. "


Sesampainya di kamar mereka juga dibuat takjub, kamar tamu aja seluas ini, apalagi kamar utama, pikir mereka semua. Lalu Nisa menunjukkan kamar mandi dan lemari pakaian untuk menyimpan pakaian mereka.


"Abang istirahat dulu, ya. Aku antar ibu dan ayah ke kamarnya. " kata Nisa setelah mengantar abangnya


"Nis, ada yang ingin abang bicarakan denganmu. " Arkan meraih tangan Nisa agar tidak pergi dulu.


"Bentar ya bang, Nisa antar ibu sama ayah ke kamarnya dulu. Nanti aku kesini lagi. "

__ADS_1


"Baiklah, abang tunggu. Ada yang ingin abang bicarakan denganmu. " kata Arkan dengan serius.


"Baik, bang. "


Nisa akhirnya mengantarkan ayah dan ibunya ke kamar yang sudah di siapkan.


"Nisa... apa kamu bahagia dengan pernikahan mu nak? " tanya ibu Aisyah kepada anaknya saat mereka duduk berdua di tepi ranjang. Sedangkan ayah Ibnu hanya menyimak sambil memperhatikan detail kamar itu.


"Alhamdulillah, Nisa sangat bahagia, bu. Mama Aylin sangat sayang sama Nisa. Udah kayak ibu sendiri. Erhan juga sangat baik, dia menyayangi Nisa dan menghargai Nisa sebagai istrinya. Pokoknya Nisa sangat bahagia. Para pelayan di sini juga menghormati Nisa sebagai majikannya sama seperti pada Mama dan Erhan. " ujar Nisa dengan sangat antusias dan mata yang penuh binar kebahagiaan.


"Alhamdulillah... " sebuah ucapan syukur terucap dari ibu Aisyah.


"Ibu sangat senang mendengarnya nak, mengingat kamu dan Erhan adalah dua orang asing yang tidak pernah bertemu atau mengenal sebelumnya. Bagi ibu, kebahagiaan mu adalah kebahagiaan kami juga." kata bu Aisyah dengan tangis bahagianya.


"Iya bu, sekarang ayah dan ibu tidak perlu mengkhawatirkan Nisa. Nisa baik-baik saja disini. Semua orang menghormati Nisa seperti mereka menghormati suami Nisa, bahkan semua karyawan Erhan juga menghormati Nisa sebagai nyonya Erhan. " kata Nisa lagi, agar orang tuanya tidak perlu mengkhawatirkannya lagi.


"Alhamdulillah... " kata itu keluar lagi dari Ibu Aisya, dan kali ini ayah Ibnu ikut mengucapkannya.


"Ya sudah, ibu dan ayah istirahat dulu. Nisa akan menemui bang Arkan dulu. " kata Nisa yang hendak beranjak.


"Baik lah... " kata bu Aisyah kemudian.


Nisa keluar dari kamar orang tuanya dan kini menemui Arkan di kamarnya.


Pintu di ketuk Nisa, dan tak lama Arkan membuka pintu lalu keluar kamar dan menutupnya lagi.


"Ada apa bang? " tanya Nisa yang penasaran setelah melihat wajah abangnya yang serius.


"Abang ingin bicara sama kamu dan Erhan. "


"Oh, ayo kalau begitu. " Nisa berjalan di depan Arkan menuju ruang kerja Erhan.


Lagi-lagi Nisa mengetuk pintu, setelah di perbolehkan masuk, Nisa dan Arkan masuk ke dalam ruang kerja Erhan. Erhan yang menyadari kalau yang datang tidak hanya istrinya, dia langsung menutup pekerjaannya dan menghampiri mereka.


"Ada apa, sayang? " tanya Erhan kepada istrinya yang sudah duduk bersama abangnya.


"Ini abang ingin bicara denganmu katanya, mas. "


Erhan lalu duduk di dekat Nisa. Sepertinya ada sesuatu yang ingin di sampaikan Arkan kepadanya.


"Bagaimana keadaanmu Erhan ? " tanya Arkan pada akhirnya.

__ADS_1


"Aku baik, seperti yang kau lihat. " jawab Erhan dengan santai.


"Aku ingin tau, sebenarnya apa yang terjadi sebulan lalu. Kenapa trauma adikku bisa kambuh? " tanya Arkan yang menginginkan sebuah jawaban tanpa ada yang ditutup-tutupi.


Erhan dan Nisa saling Berpandangan,dan akhirnya mengangguk. Mereka akan menceritakan apa yang terjadi sebulan lalu itu kepada Arkan. Bagaimana pun rahasia Nisa hanya Arkan yang mengetahui nya.


Nisa akhirnya menceritakan semuanya, mulai kedatangan Shofi yang mencari perhatian Erhan, dan menghina Nisa sehingga membuat Nisa marah, dan disitulah awal kambuh nya trauma Nisa. Hingga Nisa ingin ikut ke perusahaan dan Shofi datang meminta sesuatu yang tidak masuk akal untuk mereka berdua. Hingga akhirnya, penusukan itu terjadi.


"Lalu bagaiman wanita itu sekarang. " tanya Arkan yang sudah tampak geram setelah mendengar cerita Nisa.


"Awalnya dia kami jebloskan ke penjara, hingga orang tuanya datang kemari untuk meminta kami membebaskan anaknya. Mas Erhan dan mama yang masih memiliki ikatan saudara dengan mereka pun tidak tega, dan demi menjaga nama baik keluarga. Akhirnya kami membebaskannya, namun dengan sebuah perjanjian, bahwa dia akan pergi dari negara ini dan tidak mengganggu keluarga kami lagi. Akhinya wanita itu dibebaskan bersyarat. " Nisa menjelaskan dengan panjang lebar kasus Shofi.


"Lalu... maksudku kenapa kalian membebaskan nya sih dia itu wanita ular yang sangat berbahaya." ujar Arkan yang merasa tak terima.


"Nggak apa-apa bang bagaimanapun kami harus menjaga nama besar keluarga Erhan. Lagi pula setelah penandatanganan surat itu kami tidak mendengar lagi di mana Shofi berada sampai saat ini. " kata Nisa lagi.


"Syukurlah kalau begitu. Perut Erhan sudah sembuhkan? "


"Sudah bang. Suamiku juga sudah aktif kerja. Hari ini aja dia nggak kerja karena ingin menyambut kalian. " jelas Nisa.


"Alhamdulillah, bro. Terimakasih karena sudah menjaga Nisa dengan baik. " Kata Erhan akhirnya


"Jangan sungkan, dia adalah istriku, sudah kewajiban ku melindungi dan menjaga hati istriku. " kata Erhan dengan menggenggam lembut tangan Nisa.


"Baiklah, kalau begitu. Aku hanya ingin tau masalah ini. Sekarang aku akan kembali ke kamar ku. " kata Erhan yang kemudian meninggalkan ruangan kerja adik iparnya itu.


Setelah Arkan menutup pintunya kini hanya Nisa dan Erhan yang berada di ruangan itu.


"Apa kau bahagia. " tanya Erhan dengan memeluk perut istrinya dan menciumi tengkuk istrinya itu.


"Aku bahagia, sangat bahagia. Terimakasih sudah menjemput keluargaku dengan pesawat pribadimu. " Nisa terus tertawa geli saat mengatakannya karena keusilan Erhan.


"kalau kau sangat berterima kasih padaku, sekarang kamu harus memenuhi keinginanku. " kata Erhan dengan tersenyum jahat.


"Apa? " Nisa tak mengerti keinginan apa yang diinginkan Erhan.


Namun saat Erhn menempel tubuhnya kepada Nisa disitu dia merasakan sebuah benda keras tengah berdiri tegak dengan gagahnya.


"Glek.. " Nisa menelan salivanya kasar.


"Mati... aku... " bisik Nisa dalam hati.

__ADS_1


Bersambung.


Terimakasih sudah membaca.


__ADS_2