
Semua keluarga Nisa dan Erhan masih berkumpul di rumah sakit. Tak ada satupun yang ingin pergi dari rumah sakit, Mereka masih menunggui Nisa dan kedua baby kembarnya itu. Hingga Murad mulai rewel, Padahal sudah diberi makan tadi.
"Mungkin Murad haus, Nis. Apa kamu bisa memberinya Asi? " kata ibu Aisyah mendekat ke arah Nisa sambil menggendong Murad.
"Bisa bu... kemarikan. " Nisa meminta pada ibunya untuk memberikan Murad.
"Jangan di pangku, kamu baring aja hadap sana, Biar Murad minumnya sambil tiduran. Murad Udah besar, kalau kamu gendong nanti akan bermasalah dengan luka di kandunganmu. " Ibu Aisyah memberi saran.
Nisa menurut, dan tidur membelakangi pintu, Lalu ibu Aisyah membantu menidurkan Murad disisi Nisa. Erhan yang melihat itupun langsung membantu ibu mertuanya menidurkan Murad. Karena anak pertamanya itu, sedang aktif-aktifnya dan tak bisa diam.
Hingga Murad mendapat sumber kehidupannya, akhirnya dia bisa tenang dan mulai memejamkan mata. Sepertinya Murad rewel karena sudah mengantuk. Erhan menunggui istri dan anaknya itu sambil duduk di kursi samping ranjang, sambil menepuk-nepuk bokong Murad.
"Mama tidak pulang? " Tanya Erhan pada mamanya yang menengok Murad yang tertidur sambil meminum Asi mommynya.
"Nanti saja, mama masih ingin di sini. "
"Baiklah, terserah mama saja. Tapi nanti kalau mama lelah mama harus segera pulang dan istirahat." ucap Erhan yang merasa kasihan kepada mamanya, karena mungkin semalam kurang tidur.
"Iya, nanti mama akan pulang. Apa kamu tidak kerja hari ini. "
"Tidak ma. Hari ini tidak ada rapat penting. Mungkin besok aku akan bekerja setengah hari saja. Kasihan istriku jika disini sendiri. "
"Tidak apa-apa, besok mama dan ibu mertuamu akan menjaga Nisa jika kamu mau kerja. Kamu jangan khawatir. "
"Baiklah ma. Kita lihat besok saja. "
Mama Aylin kembali melihat kedua cucu kembarnya, Lagi-lagi dia tersenyum bahagia melihat keturunannya itu. Erhan bisa melihat dan merasakan kebahagiaan mamanya itu lewat senyum yang selalu terpancar di bibir mamanya .
Tak lama, Pintu di ketuk, Pak Ibnu yang berada dekat dengan pintu pun langsung membukakan pintu, melihat siapa yang datang. Sepasang pengantin baru langsung memasuki ruangan Nisa dirawat. Kemal yang ingin berteriak pun langsung mendapat tatapan tajam dari Erhan dan mama Aylin. Mereka berdua sudah tau kebiasaan Kemal saat menerima kabar bahagia. Membuat Kemal langsung membungkam mulutnya.
"Duh pengantin baru, kok udah keluar dari hotel? " tanya bu Aisyah pada Alima yang tersipu.
Alima yang mengekor di belakan Kemal pun langsung menyalami pak Ibnu, bu Aisyah dan mama Aylin.
"Iya tadi dapat telpon dari adik Alima, bu. Katanya ayah dan ibu ke rumah sakit karena Nisa melahirkan. Jadi aku ngajak Kemal untuk kemari. " ujar Alima jujur.
"Oohh, jadi adikmu yang ngabari. "
Alima mengangguk, "Kenapa nggak ngabari Alima, sih, bu? "
__ADS_1
"Ya nggak enak lah, lha wong kamu baru nikah, pasti lagi ngelakuin ritual malam pertama. Masa kita harus mengganggu malam pertamamu. " Bu Aisyah memberi alasan sekaligus godaan.
"Blus, "
Seketika wajah Alima langsung merah mendengar sindiran dari ibu Aisyah yang sudah di anggapnya ibu sendiri.
"Itu anaknya Nisa, masih dalam inkubator. cuma dikeluarkan kalau sedang haus aja. " kata Bu Aisyah menunjukkan dua box inkubator di dekat ranjang Nisa.
Alima mendekat ke arah box bayi itu. Dilihatnya dua bayi mungil yang sangat lucu. Kemal menyusul Alima melihat anak-anak Erhan dan Nisa. Dia jadi terharu dan ingin memiliki seperti mereka atau seperti Murad yang sangat menggemaskan.
"Semoga kamu segera menyusul ya. " bisik Kemal di telinga Alima.
Semburat merah pun muncul lagi di kedua pipi Alima. Dia tidak membalas kata-kata Kemal, namun mengaminkannya dalam hati.
"Nisa baru tidur, barusan Murad rewel minta Asi, jadi Nisa ketiduran sambil memberikan Asi kepada Murad. " Bu Aisyaha yang sudah berada di samping Alima yang memandangi anak kembar sahabatnya itu.
"Biarkan dia istirahat, bu. Nanti juga bangun. " Alima lalu duduk berbincang dengan bu Aisyah disofa.
Erhan meminta mamanya untuk menunggui, Nisa dan Murad yang sedang tidur. Dia takut Murad banyak tingkah hingga bisa menyakiti mommynya atau bahkan terjatuh dari ranjang. Karena anak pertamanya itu terlalu banyak tingkah kalau tidur.
Erhan lalu berbincang di luar bersama Kemal, sepertinya, ada yang harus mereka bahas.
"Aku minta tolong padamu, besok untuk masuk kerja. " sebuah kalimat yang keluar dari Erhan, tapi sudah di duga oleh Kemal.
"Baiklah, aku akan masuk kerja besok. Tapi istriku mungkin akan ikut kemari untuk menjaga istrimu dan bayimu. Nanti pulang kerja aku akan menjemputnya. " kata Kemal
"Tentu saja. Mungkin dengan adanya Alima bisa menghibur Nisa. Kalau ada rapat jangan segan hubungi aku, kita rapat lewat zoom. " menyetujui usulan sahabatnya itu.
"Baiklah... "
"Bagaimana dengan adik Alima, apakah kau akan mencarikan universitas di sini. "
"Iya, kami akan mencarikan kampus yang dekat dengan apartemenku, jadi kami bisa mengawasinya. "
"Baguslah. Kalau begitu."
Mereka masih berbincang diluar ruangan rawat agar tidak mengganggu Nisa dan bayi-bayinya. Hingga panggilan dari ayah Ibnu, mengalihkan atensi mereka.
" Nak, Erhan. Nisa mencarimu. "
__ADS_1
Erhan langsung masuk ke dalam ruangan dan mendekat ke arah istrinya.
"Apa ada yang kau inginkan sayang. "
"Antarkan aku ke kamar mandi. "
Dengan sigap, Erhan langsung menggendong istrinya itu, dan membawanya ke kamar mandi.
Melihat itu Alima merasa terharu, dia ikut bahagia melihat sahabatnya bahagia. Apalagi sudah ada tiga anak diantara mereka.
"Tenanglah, aku juga akan melakukan hal itu padamu jika kau melahirkan nanti. " goda Kemal pada istrinya itu yang memperhatikan dua pasangan yang selalu terlihat bahagia dan harmonis itu.
"Kita akan menjalani rumah tangga seperti mereka. Rumah tangga yang bahagia. " kata Kemal lagi sambil menggenggam tangan istrinya
Alima mengangguk mengiyakan ucapan suaminya.
Nisa keluar dari kamar mandi masih di gendong suaminya, dan di duduk kan di ranjang. Terlihat Murad masih tertidur dengan lelap.
"Apakah kalian sudah menyiapkan nama untuk kedua bayi kalian? " tanya Ayah Ibnu yang akhirnya angkat bicara setelah sejak tadi sibuk dengan ponselnya karena harus membaca laporan dari Arkan.
"Sudah Ayah, kami berdua sudah menyiapkan nama untuk twins. " Nisa yang menjawab.
"Benarkah, kalau begitu siapa nama cucu-cucuku ini. " kata Mama Aylin yang ikut antusias ingin tau nama cucu-cucunya.
"Untuk baby boy namanya Zaydan Ar-Rayyan Khan dan baby girl Zoya Allura Khan. " Akhirnya Erhan mengumumkan nama keduababyu twins
"Nama yang bagus. " kata pak Ibnu sambil memandangi kedua cucunya.
"Benar nama yang Indah. Baby Zaydan dan Zoya. " ucap ibu Aisyah.
"Nama yang sangat bagus sayang. " kata Mama Aylin mengecup puncak kepala Nisa dan Erhan.
"Kami memberi nama mereka dengan mengandung arti kebaikan, karena sebuah nama mengandung doa dan harapan orang tua untuk anak-anaknya. " ucap Erhan.
Akhirnya kedua baby twins itu sudah memiliki nama yang akan tersemat dalam hidup mereka.
"Nanti setelah pulang dari rumah sakit, kita akan melakukan tasyakuran. " ujar ibu Aisyah kepada menantu dan anaknya.
Nisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Bersambung,
Terimaksih sudah membaca.