
Dua Hari Nisa di rawat di rumah sakit, Dan kini saatnya dia pulang. Karena keadaannya sudah lebih baik. Semua barang-barang yang akan dibawa pulang sudah disiapkan, dengan dibantu Ana dan Lisa yang selalu siap siaga di sampingnya.
"Sudah siap sayang? " tanya Erhan yang baru masuk ke dalam ruangan setelah membayar semua biaya administrasi.
"Sudah, ayo kita pulang. Aku sudah merindukan kasur empuk ku. " kata Nisa dengan manja.
"Baiklah, ayo. " Erhan lalu membantu istrinya turun dari brankar rumah sakit dengan hati-hati.
"Ana Lisa, kalian boleh duluan ke mobil, dan bawa barang-barang ini. " utus Erhan kepada dua penjaga istrinya itu.
"Baik tuan. " Mereka berdua keluar dari kamar dengan menenteng tas dan beberapa barang milik majikan nya.
Erhan menggendong baby boy di tangan kirinya, dan tangan kanannya di rangkul sang istri. Mereka pun keluar dari rumah sakit tempat Nisa dirawat. Sepanjang jalan, mereka menjadi pusat perhatian. Ada yang iri melihat kebahagiaan mereka ada juga yang merasa ikut bahagia dengan kebahagiaan mereka. Sungguh mereka bertiga mencerminkan rumah tangga yang harmonis.
Mobil yang di kendarai Ana sudah masuk ke dalam mansion. Mama Aylin yang sudah menunggu dari tadi kedatangan cucunya itupun langsung keluar saat terdengar suara mobil berhenti. Dia langsung mendekat ke mobil yang baru saja terparkir.
"Sini baby boy nya mama gendong,kamu bawa Nisa ke dalam kamar biar istirahat. Nanti kalau baby boy menangis aku akan memberikannya kepada Nisa untuk di beri Asi. " kata mama Aylin yang langsung menggendong baby boy lalu membawanya masuk ke dalam mansion.
Erhan dan Nisa hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah mama Aylin kepada cucunya itu. Mereka berdua juga memaklumi sikap mama Aylin yang sangat menyayangi baby boy.
Nisa segera keluar dari mobil, dan dengan tangan yang melingkari di tangan Erhan, Nisa berjalan perlahan.
"Pelan-pelan saja, sayang. Apakah masih sakit bekas jahitannya? " Tanya Erhan saat memapah istrinya ke dalam kamar.
"Lumayan mas. " jawab Nisa singkat.
"Apa perlu aku gendong? tanya Erhan lagi.
" Tidak perlu, aku jalan perlahan saja, mas. Sekalian olahraga. " Kata Nisa sambil berjalan perlahan.
Sebenernya Erhan tidak tega melihat istrinya jalan tertatih seperti itu, tapi bagaimana lagi. Istrinya sendiri yang meminta seperti itu. Padahal kalau Nisa mau di gendong dengan senang hati Erhan akan menggendongnya.
Mereka berdua akhirnya sampai di kamarnya, seperti biasa Nisa akan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Kali ini dia tidak lupa, seperti saat hami kemarin. Setelah membersihkan dirinya, Nisa langsung menuju ke tempat suami berada, yaitu diatas ranjang dan ikut merebahkan dirinya di ranjang yang sama dengan suaminya.
"Apa kau bahagia?" tanya Nisa saat mereka tidur berhadapan.
" Kenapa kau tanyakan itu lagi? tentu saja aku sangat bahagia, sayang. Kau dsn baby boy adalah kebahagiaanku. "Kata Erhan sambil memeluk istrinya.
__ADS_1
" Apa kau sudah menyiapkan nama untuk anak kita? " tanya Nisa yang dari kemarin belum tau nama anaknya itu.
"Sudah, nanti akan aku umumkan nam anak kita, saat makan malam. Sekarang istirahatlah dulu, mumpung baby ada di tangan mama. " ujar Erhan kepada Istrinua itu.
Nisa menurut lalu memejamkan matanya. Setelah dirasa istrinya itu terlelap. Erhan lalu keluar dari kamar, dia tidak tenang jika belum melihat baby boynya. Erhan takut mamanya kelelahan menjaga baby. Jadi, dia berniat melihatnya.
Erhan mencari mamanya itu kemana-mana, tapi tidak di temukan. Bahkan dia sudah mencari mamanya di kamar juga tidak ada. Akhirnya, Erhan mencari mamanya itu di taman, dan benar saja sang mama sedang bersama baby dan para asisten rumah tangganya sedang bercengkrama. Melihat tuan mudanya datang para pelayan pun membubarkan diri, yang tersisa hanya mama Aylin dan baby.
"Ada apa, nak? " tanya mam Aylin saat anaknya itu sudah mendekat.
"Aku hanya ingin melihat baby, ma. Apakah dia rewel atau tidak. " Kata Erhan memperhatikan anaknya yang masih terlelap itu.
"Kau lihat sendiri, baby sangat tenang. Bagaimana Nisa?"
"Dia sedang tidur, ma. "
"Baguslah, di fase seperti ini kamu harus memberinya perhatian lebih kepadanya. Jangan sampai dia mengalami baby blues. Jangan pernah mengomentari penampilannya. Karena jika bentuk badannya berubah, itu semua semata-mata karena dia sudah melahirkan anakmu. Jangan pernah membuatnya berkecil hati. " Mama Aylin memberikan pesan kepada anaknya itu, agar tidak bersikap sembrono setelah istrinya melahirkan.
"Iya, ma. Aku paham. Jika mama ingin istirahat, biar baby aku gendong, atau mama taruh baby di ranjang. Mama nggak boleh kecapean. " Kata Erhan memperingatkan.
"Baiklah aku mengerti, ini gendong anak mu. " Mama Aylin kemudian memberikan cucunya itu kepada daddynya. Lalu mereka berdua masuk ke dalam mansion.
"Sudah ma, nanti aku beritahukan saat kita makan malan. Aku juga mengundang Kemal untuk makan malam di sini, ma. " kata Erhan, masih terus berjalan.
"Bagus itu, baiklah mama tunggu nama cucu mama nanti malam. Sekarang istirahatlah. "
"Baik ma. " Erhan kemudian menaiki tangga, dengan hati-hati.
Setelah sampai di dalam kamar, Erhan lalu meletakkan baby boy, ke dalam box bayi. Lalu dia ikut berbaring di samping istrinya.
*
*
Malam harinya, mereka semua sudah berkumpul di meja makan, tidak lupa baby boy juga ikut walau dia hanya tertidur di stroller. Kemal juga datang sesuai undangan Erhan. Begitu juga asisten mama Aylin yang juga datang. Mereka semua berada disatu meja.Ada Ana dan Lisa juga disana yang selalu setia kepada Erhan dan Nisa.
Para pelayan juga ingin di berikan kursi yang sama, tapi mereka menolak. Mereka cukup tau diri, siapalah mereka di rumah ini yang hanya seorang pelayan. Jadi mereka sepakat untuk menggelar tikar sedikit jauh dari para majikannya untuk acara makan malam, malam ini. Sebenarnya Erhan merasa tidak nyaman akan hal itu, tapi para pelanyannya menekankan bahwa, mereka tidak apa-apa. Jadi, akhirnya makan malam itupun di mulai.
__ADS_1
Sebelum di mulai, Erhan menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan Yanga Maha Esa karena telah diberi kepercayaan untuk menjadi orang tua. dan mengumumkan nama Anaknya, yang akan menjadi tuan muda berikutnya di rumah ini.
"Jadi, siapa namanya?" tanya Kemal yang sudah tidak sabaran. "
"Baiklah, perkenalkan, nama tuan muda kalian adalah Vedat Murad Khan. Vedat artinya Cinta dan Murad yang artinya harapan. " kata Erhan dengan lantang.
"Anak ini adalah hasil dari cinta kami, dan menjadi harapan kami baik saat ini ataupun di masa depan. " katanya lagi.
Semua orang bertepuk tangan, namun langsung diberi isyarat berhenti oleh Erhan. Karena takut baby Murad akan terbangun.
Kini mereka semua tau nama penerus keluarga Khan.
Setelah perkenalan nama anaknya, Erhan mempersilahkan semuanya untuk makan bersama. Tidak ada kecanggungan, malam ini mereka makan bersama, walau masih ada jarak antara majikan dan pelayan. Padahal Erhan tidak menginginkan hal itu. Tapi keras kepala para pelayannya tidak bisa di ganggu gugat. Jadi, ya mau bagaiman lagi.
Malam Semakin larut, setelah acara makan malam selesai Erhan dan Kemal, berbincang di ruang keluarga sedangkan semua orang sudah kembali ke kamar masing-masing, termasuk Nisa yang harus menidurkan babynya.
"Jad, kapan kau akan masuk kerja? " tanya Kemal setelah mereka ngobrol kesana-kemari.
"Kalau tidak besok, ya besok lusa. Aku akan tanyakan pada istriku, apakah dia bisa di tinggal. Karena sekarang kami punya bayi. "
"Kenapa tidak menggunakan jasa banysitter aja? kamu kan banyak uangnya. " kaga Kemal asal ceplos.
"Mama dan Nisa nggak mau menggunakan jasa Banysitter. Karena mereka ingin melihat tumbuh kembang baby Murad sendiri, tanpa campur tangan Orang lain. Lalu Aku bisa apa? Untungnya baby Murad nggak pernah rewel tiap malam. Jadi kami bisa bernapas lega. " curhat Erhan kepada sahabatnya itu.
"Baguslah, kamu memang beruntung mendapatkan Nisa. " kata Kemal yang tanpa sadar mengagumi soskk Nisa yang mandiri.
"Tentu saja, memilikinya adalah suatu kebanggaan bagiku. ' kata Erhan membanggakan dirinya dan sang istri
" Lalu bagaimana hubunganmu dengan Alima? Tanya Erhan penasaran.
"Alhamdulillah, semua berjalam dengan baik. Tinggal tunggu tanggal mainnya saja. " kata Krmal dengan senyum kebahagiaan yang terkembang.
"Baguslah kalau begitu. Kamu juga harus hati-hati karena Alima memiliki trauma kepada pria. "
"Tentu, aku tau itu. pada akhirnya, Alima sendiri yang cerita tanpa aku paksa. " kata Kemal menyombongkan diri.
"Aku doakan yang terbaik untukmu, bro. "
__ADS_1
Kemal lalu berpamitan kepada atasan sekaligus sahabatnya itu.
"Semoga kebahagiaanmu menular padaku." Gumam Kemal sebelum keluar dari masion. Gumaman yang hanya didengar eh dirinya sendiri.