Jodoh Dari Situs Online

Jodoh Dari Situs Online
Sore Yang Panas


__ADS_3

Erhan mendudukkan Nisa di atas tempat tidurnya, lalu mereka duduk saling berhadapan. Erhan rupanya ingin bicara serius dengan Nisa kali ini. Karena istrinya ini tergolong wanita yang masih polos dan belum pernah ternodai dengan sesuatu yang menyimpang. Lalu dia mulai bicara.


"Sayang, dalam hubungan suami istri tidak melulu kita melakukan hubungan badan sebagai bentuk hak dan kewajiban. Tapi ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuk bersenang-senang dengan pasangan kita. Apalagi bila si istri sedang dalam keadaan berhalangan, seperti dirimu saat ini. Apabila seorang suami butuh pelepasan, maka istri harus bisa memanjakannya dengan cara lain. Agar si suami tidak jajan diluar. " jelas Erhan.


"Caranya? " Nisa yang sejak tadi mendengarkan Erhan pun mulai bertanya karena rasa penasarannya.


"Dengan Ini. " Erhan mengangkat tangan Nisa. "Kau bisa memuaskan suamimu ini dengan jari-jarimu ini. " ujar Erhan dengan tersenyum


"Maksudmu, aku harus melakukan itu? senam lima jari? " tanya Nisa yang merasa sangat shock.


Erhan mengangguk.


"Tapi, bukankah itu tidak boleh? " tanya Nisa polos sekaligus takut.


"Itu tidak boleh bila dilakukan seorang diri, untuk memuaskan dirinya sendiri. Tapi, itu akan berpahala bila kau melakukannya untuk menyenangkan hati suamimu. Karena kau tidak bisa di gauli, jadi mengambil cara ini. Maka itu boleh dilakukan. " Jelas Erhan.


"Bagaimana? apa kau mau melakukannya untukku? Karena aku sudah sangat merindukanmu. " kata Erhan dengan pandangan mata yang sudah berkabut.


Glek... Nisa menelan salivanya dengan susah payah. Dia membayangkan betapa panjang dan besarnya sosis berurat milik Erhan. Tiba-tiba Nisa menggeleng kuat untuk mengenyahkan bayangan itu. Erhan yang melihatnya pun terlihat kecewa.


"Jadi kau tidak mau, ya? " kata Erhan dengan nada kecewa.


"Bu... bukan... bukan maksudku... " kata-kata Nisa terpotong.


"Tidak apa-apa.... " Erhan ingin beranjak dari tempat dia duduk, namun Nisa segera menarik tangannya. Hingga membuat Erhan terduduk kembali.


"Apa.... " kata-kata Erhan terputus karena Nisa langsung mencium bibir Erhan.


Erhan merasa sangat terkejut dengan apa yang dilakukan istrinya itu. Nisa bersikap agresif, karena melihat Erhan merasa kecewa tadi. Nisa yang memang masih amatir pun, akhirnya kualahan dan sekarang Erhan yang mengambil kendali atas ciuman panas sore itu. Tangan Nisa pun tak ambil diam, dia mulai membuka kancing celana Erhan membuat Erhan membelalakkan matanya.


"Apa yang akan kau lakukan, sayang. " tanya Erhan setelah melepaskan ciuman mereka.


"Bukankah junior ingin dimanjakan? " ujar Nisa tanpa rasa bersalah.


"Kau mau melakukannya? " tanya Erhan.


Nisa mengangguk sebagai jawaban.


"Yes." Erhan terpekik senang karena Nisa akan memanjakannya kali ini.


Erhan segera membuka kaos dan celananya. Sekarang hanya tersisa kain penutup, yang menutupi alat tempurnya. Itupun sudah tidak sempurna, karena kepala junior sudah menyembul memperlihatkan kepala botaknya disela-sela penutup itu.


Nisa yang baru kedua kalinya melihat tubuh berotot dan junior Erhan pun langsung memalingkan wajahnya. Karena wajahnya terasa memanas.


"Kenapa? " tanya Erhan yang melihat sikap aneh istrinya.


"Tidak apa-apa. " kata Nisa masih memalingkan wajahnya.


"Apa kau malu? "

__ADS_1


Nisa mengangguk.


Erhan langsung menarik Nisa, dan jatuh kepelukannya. Lalu mendudukkan Nisa di atas pangkuannya.


"Sekarang aku adalah suamimu sayang, kau tidak perlu malu. Semua yang ada pada diriku sudah halal kau sentuh. Dan apa yang ada pada dirimu juga sudah halal ku sentuh. Jadi, kau tidak perlu malu. " Kaga Erhan sambil menyentuh lembut pipi Nisa.


Setelah mendengar itu, Nisa lalu mulai mengangkat tangannya dan memegang dada Erhan yang bidang lalu turun ke perutnya yang berbentuk seperti tahu sumedang. Erhan memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan dari tangan Nisa. Tubuhnya seperti tersengat aliran listrik, setelah mendapatkan sentuhan dari istrinya.


"Sebenarnya dari malam pertama kita, aku ingin menyentuh ini. " Kata Nisa sambil menyentuh perut Erhan yang seperti tahu sumedang itu. "tapi aku malu waktu itu. " kata Nisa kemudian, dengan tangan yang masih memegang tonjolan-tonjolan diperut Erhan.


"Sekarang kau tak perlu malu lagi, sayang. Karena tubuhku sudah menjadi milikmu. " kata Erhan menyelipkan anak rambut di telinga Nisa.


Nisa mengangguk. Lalu dia mendorong Erhan dengan kuat, hingga Erhan jatuh terlentang dinatas tempat tidur. Lalu Nisa menindih nya dari samping, tangannya masih menggerayangi perut Erhan. Membuat Erhan tak bisa berucap lagi, dan sesekali menghembuskan napas berat. Tangan Nisa semakin nakal, dan semakin turun ke bawah membuka penutup junior. Membuat junior lepas dari sangkarnya, dan berdiri tegak menantang.


"Glek." lagi-lagi Nisa susah payah menelan salivanya. Dia tidak percaya kalau benda sebesar itu bisa memasukinya.


"Apa yang kaulihat sayang, segera lakukan. " kata Erhan yang ingin segera dimanjakan.


"I... iya... " Nisa akhirnya memegang sosis panjang besar dan berurat milik Erhan dengan tangannya, dan menggerakkannya naik turun. Membuat Erhan di atas sana merasakan sensasi yang berbeda, dia menikmatinya.


Lalu Erhan memposisikan dirinya setengah duduk dan mengangkat wajah Nisa untuk menghadap ke arahnya lalu tanpa aba-aba Erhan mencium Nisa dengan rakus. Membuat Nisa kewalahan.


"Faster... "


Nisa mempercepat gerakannya, dengan bibir yang masih dalam kendali Erhan. Dan akhirnya junior memuntahkan mayonaise nya. Terasa hangat ditangan Nisa, yang tidak tahu kalau suaminya itu akan keluar. Setelah semua keluar, Erhan melepaskan pagutannya, dan mencium kening Nisa lama.


"Terimakasih sayang. "


Di kamar mandi, Nisa juga bergidik melihat tangannya yang penuh dengan mayonaise Erhan. Dia juga tidak menyangka akan melakukan hal itu pada suaminya. Mungkin mulai sekarang, dia akan belajar hal-hal baru agar bisa menyenangkan hati suaminya. Nisa tidak ingin suaminya yang tampan itu, digoda pelakor. Karena itu, dia akan belajar banyak untuk menyenangkan hati suaminya. Melalui mama Aylin atau tanya di mbah google nanti.


Nisa keluar dari kamar mandi. Dilihat nya Erhan sudah mengenakan bathrobe.


"Kau mau mandi? " tanya Nisa.


"Iya, sekalian. Lagipula ini sudah sore. "


"Baiklah, aku akan mulai bersiap untuk kepergian kita besok. "


Erhan mengangguk dan melenggang masuk ke kamar mandi.


Nisa membersihkan tempat tidur yang berantakan itu,lalu mulai mengepak pakaian yang akan dia bawa ke Turki besok.


"Aku akan membawa sebagian saja barangku. Nanti disana aku akan membeli yang baru." pikir Nisa.


Ketika Nisa tengah sibuk dengan pakaiannya, Erhan keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang sangat segar. Dia melihat istrinya itu sedang bingung memilih pakaian mana yang harus di bawa.


"Tidak perlu Banyak-banyak, tinggalkan saja disini sebagian. Nanti aku akan memberikanmu yang baru di sana. " ujar Erhan.


"Iya, aku juga berpikir seperti itu. Suamiku kan kaya, apa salahnya jika aku memanfaatkan kekayaannya untuk belanja. " Nisa terkekeh.

__ADS_1


Erhan menggelengkan kepalanya mendengarkan celotehan Nisa.


"Aku akan memberikan apapun yang kau minta sayang. " kata Erhan sambil memeluk Nisa dari belakang.


Nisa tersenyum menanggapi ucapan Erhan.


"Cepatlah berganti pakaian, nanti kau masuk angin. " kata Nisa tanpa berusaha melepaskan pelukan suaminya. Dia sudah merasa sangat nyaman jika berada di pelukan Erhan.


"Baiklah. " Akhirnya Erhan melepaskan pelukannya, dan memakai pakaian ganti yang sudan disiapkan istrinya.


Mereka berdua turun setelah menyiapkan semuanya dan Erhan sudah melakukan sholat maghrib. Ayah Ibnu dan Ibu Aisyah sudah menunggu mereka untuk makan malam.


"Kalian baru turun? " tanya ibu Aisyah saat melihat anak dan menantu nya yang berjalan mendekat.


"Iya, bu. Nisa baru selesai menyiapkan barang bawaan Nisa untuk besok. "


Mendengar itu, ibu Aisyah berubah sendu. Erhan yang melihat ibu mertuanya yang akan bersedih pun segera menyenggol lengan Istrinya. Nisa yang mengertipun langsung memeluk ibunya dari belakang.


"Ibu jangan sedih. Aku tiap hari akan telpon ibu, jika aku lupa telpon ibu yang telpon aku, ya. ' kata Nisa mencoba menghibur ibunya.


Ibu Aisyah hanya mengangguk menanggapinya.


" Bu, jika ibu sedih. Perjalan mereka akan tersendat nantinya. Sebaiknya ibu ikhlaskan Nisa untuk pergi bersama suaminya. " ujar ayah Ibnu.


"Iya, yah. Ibu sebenarnya sudah ikhlas. Tapi ibu masih sedih aja gitu. kalau mikirin Nisa pergi. Rumah ini akan sepi, dan cuma tinggal kita berdua. "


"Kata siapa ayah dan ibu akan tinggal berdua. Kan ada aku, Alina dan juga Alan. Kami akan tinggal disini bersama kalian. " suara Arkan yang baru datang terdengar lantang.


"Benarkah? " tanya Nisa tak percaya.


Arkan mengangguk cepat. "Aku dan Alina sudah memutuskan untuk tinggal disini, menemani ayah dan Ibu. "


Nisa langsung berlari benghambur ke pelukan kakaknya, dan dibalas Arkan dengan tepukan di punggung Nisa.


"Kau bisa tenang sekarang, kan? " kata Arkan berbisik ditelinga Nisa.


Nisa mengangguk. "Terimakasih, bang. "


Mereka akhirnya melepaskan pelukannya. dan berkumpul di meja makan.


"Apa benar yang kau katakan itu, Arkan? ' tanya Ibu Aisyah yang masih belum percaya.


" Iya bu. " jawab Arkan singkat.


"Lalu bagaimana dengan rumahmu? " ganti Ayah Ibnu yang bertanya.


"Rumah kami akan kami kontrakkan, yah. "


Sebuah solusi yang di ambil Arkan untuk mengobati kesepian yang akan terjadi di rumah ini setelah kepergian si bungsu kesayangan mereka. Akhirnya, ayah Ibnu, ibu Aisyah dan Nisa bisa bernapas lega.

__ADS_1


Bersambung.


Terimakasih sudah membaca.


__ADS_2