
Malam harinya, di mansion Khan.
Erhan sedang makan malam bersama istri dan mamanya. Di selingi dengan obrolan ringan dan candaan membuat suasana makan malam menjadi hangat. Erhan yang masih setia dengan suapan dari sang istri, dengan menggunakan alasan sakitnya Erhan memanfaatkan hal itu. Padahal walau tidak sakit Nisa akan senang hati menyuapi bayi besarnya itu jika dia memintanya.
Mama Aylin yang melihat tingkah anaknya itu hanya menggeleng kan kepalanya. Beruntungnya Erhan memiliki istri yang sabar dan perhatian seperti Nisa. Jadi sangat enak untuk diajak bermanja.
"Ma, tadi siang Kemal mengirimiku pesan. tentang keadaan Shofi. " kata Erhan disela-sela makannya
"Kenapa lagi dia? " tanya mama Aylin dengan ketus. Dia sangat tidak suka membahas Shofi lagi.
"Semalam katanya Shofi melakukan percobaan bunuh diri dengan meminum cairan pembersih. " lanjut Erhan dengan masih mengunyah makanannya.
"Apa? lalu bagaimana keadaannya sekarang? " rasa kesal mama Aylin berubah khawatir.
"Tadi masih di ruangan intensif, kalau sekarang tidak tau. " Erhan menjelaskan apa yang dia tau.
Nisa hanya mendengarkan pembicaraan ibu dan anak itu, sambil sesekali menyuapi suaminya.
"Lalu Kemal juga mengatakan kemungkinan besar orangtua Shofi akan datang kemari dan meminta kepada kita untuk mencabut tuntutannya. " terang Erhan lagi.
"Kemungkinan besar begitu. Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang. " Mama Aylin mulai pusing memikirkan hal ini, karena dia tidak pernah berfikir kalau Shofi akan bertindak nekat seperti ini.
"Aku dan Nisa sudah memikirkan nya ma. Mama tak perlu khawatir. " Erhan menenangkan mama nya agar tak perlu khawatir.
"Baiklah mama serahkan pada kalian. " putus mama Aylin pada akhirnya.
Mereka selesai makan malam, dan berkumpul di ruang keluarga untuk ngobrol santai dan menonton televisi. Walau sebenarnya televisi hanya pelengkap saja. Karena di antara mereka tidak ada yang benar-benar menonton televisi. mereka bertiga hanya fokus membicarakan masalah pernikahan yang kurang dari satu bulan lagi dan tentang luka Erhan yang apakah sudah sembuh saat resepsi nanti berlangsung.
Sedang asik mengobrol tiba-tiba seorang pelayan menghampiri Mama Aylin dan mengatakan kalau ada tamu yang datang ingin bertemu dengan mama Aylin dan Erhan. Mama aylin menemui tamu itu terlebih dahulu, untuk mengetahui siapa yang datang. Dan seperti dugaan mereka tadi, yang datang adalah orang tua Shofi.
"Selamat malam kakak ipar. " kata Ibu Shofi sambil berdiri saat melihat mama Aylin datang.
"Malam, Duduklah. " mama Aylin mempersilahkan tamunya itu untuk duduk.
"Tumben, Ada apa kalian datang kemari. " kata mama Aylin seolah tak tau apa-apa.
"Erhan mana? kami ingin melihat keadaan Erhan. " tanya Ibu Shofi yang tidak melihat kedatangan Erhan setelah beberapa saat mama Aylin datang.
__ADS_1
"Erhan sedang istirahat, dia harus banyak istirahat agar lukanya cepat pulih. " kata mama Aylin dengan ketus.
Ibu Shofi tiba-tiba bangkit dan duduk bersimpuh di hadapan mama Aylin. Membuat mama Aylin terkejut begitu juga dengan ayah Shofi. Erhan yang baru datang dengan di tuntun Nisa pun ikut terkejut dengan apa yang dilakukan tantenya itu.
"Kak, aku mohon maafkan kesalahan Shofi. Shofi telah berbuat salah padamu, terutama pada Erhan. Shofi melakukannya karena dia sangat mencintai Erhan. Aku mohon maafkan Shofi. Dan ayo kita bina hubungan baru diantara kita. " kata Ibu Shofi dengan menangis dan memohon agar mau memaafkan Anaknya dan berharap bisa menjalin hubungan.
"Apa aku tidak salah dengar? " bukannya iba, mama Aylin bertambah kesal dengan perkataan ibu Shofi.
Begitu juga Erhan yang ikut kesal mendengarnya. Nisa yang melihat kekesalan di wajah suaminya itu mulai menenangkan dan mendudukkan Erhan di kursi, sedangkan Nisa berdiri di samping Erhan memperhatikan drama apa lagi yang akan terjadi selanjutnya.
Ibu Shofi yang melihat Erhan duduk di sana, langsung menuju ke arah Erhan dan mulai memohon.
"Erhan, tante mohon, maafkan Shofi. Shofi melakukan nya karena dia sangat mencintaimu. Tidak adakah sedikit saja rasa cintamu pada Shofi? " mohon ibu Shofi masih dengan muka temboknya, berharap dia bisa menjual kesedihannya.
Tapi ternyata dia salah, Erhan sama sekali tak bergeming. Lalu pandangan ibu Shofi beralih kepada Nisa yang berdiri di samping suaminya.
"Apa karena wanita ini kamu tidak bisa menerima cinta Shofi? " kata Ibu Shofi lagi, dan kini menunjuk wajah Nisa.
"Apa hebatnya dia, dia sama sekali tak sebanding dengan Shofi, apa kalian buta? " Ibu Shofi mulai tak terkendali, dan akhirnya ayah Shofi lah yang menenangkan nya.
"Jaga bicaramu Amanda (nama ibu Shofi). Yang tidak sebanding dengan menantuku adalah anakmu. Dia tidak lebih dari wanita murahan yang mengharapkan seorang pangeran. Itu hanya ada dalam mimpinya. " Mama Aylin sudah tidak bisa lagi membendung kekecewaan nya kepada keluarga iparnya itu yang telah menghina menantu kesayangannya, dan membandingkan nya dengan Shofi. Sangat tidak sebanding walaupun seujung kuku.
"Jaga bicaramu kakak. " Kini giliran ayah Shofi yang angkat bicara.
"Jangan menjelek-jelekkan anakku dihadapan kami. Kalau kamu tidak punya bukti. " kata Ayah Shofi lagi yang masih tak terima seseorang menghina anaknya.
"Kalian mau bukti, Oke.! "
Mama Aylin pun menuju kamarnya untuk mengambil sesuatu. Begitu juga dengan Erhan yang menyuruh pelayan mengambil ponselnya yang tergeletak di meja ruang keluarga. Membuat Ayah dan ibu Shofi mulai berfikir apa yang sebenarnya terjadi.
Mama Aylin sudah kembali dengan sebuah map di tangannya. Begitu pula dengan Erhan yang sudah membawa ponselnya dan mengotak-atik ponselnya itu.
"Buka dan lihat dengan mata kepala kalian sendiri, kelakuan anakmu diluaran sana. Jangan cuma bisanya menyalahkan orang lain yang tak bersalah. " Mama Aylin membela Nisa kali ini.
Ibu Shofi membuka map yang ada di hadapannya itu dengan tangan gemetar. Sedangkan ayah Shofi melihat ponselnya yang dari tadi seperti menerima pesan masuk. Dari Erhan, mata ayah Shofi memicing kenapa keponakannya itu mengirim beberapa pesan kepadanya.
Mata Ibu Shofi terbelalak tak percaya saat melihat foto-foto yang ada di dalam map itu. Foto Shofi yang menggunakan pakaian mini, dengan beberapa pria yang sedang berciuman dan dengan senang hati menggerayangi tubuhnya. Dan beberapa foto Shofi yang sedang meminum alkohol. Mata ibu Shofi tiba-tiba memanas melihat foto-foto anaknya yang tidak tau malu itu.
__ADS_1
Begitu juga dengan ayah Shofi, yang melihat foto-foto yang dikirim Erhan. Beberapa foto dan Video yang memperlihatkan Shofi yang sedang mabuk dan dibawa ke kamar hotel bersama dengan pria asing. Ayah Shofi menggenggam erat ponselnya, seolah tak terima melihat semua itu.
"Dari mana kalian mendapatkan foto ini. " Ayah Shofi angkat bicara pada akhirnya.
"Saat kalian menyatakan ingin berbesanan denganku, Aku langsung menyuruh orang untuk membuntuti Shofi dan menyelidiki pergaulannya diluar sana. Aku tidak akan langsung mengiyakan permintaan kalian sebelum aku tau wanita seperti apa yang akan menjadi istri anakku. Aku tidak akan menyerahkan anakku untuk wanita sembarangan. Dan kalian bisa lihat kelakuan anak kalian di luar sana. Yang aku yakin kalian sendiri tidak mengetahui nya. "sebuah perkataan yang menohok ke dalam hati orang tua Shofi.
" Jangan pernah berharap lebih, jika anakmu sendiri adalah wanita yang nggak bener. " kata mama Aylin lagi yang masih kesal.
Kedua orang tua, Shofi akhirnya terduduk lemas meratapi yang terjadi pada anaknya itu.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang, pa? " kata ibu Shofi kepada suaminya itu.
Mereka juga merasa kecewa dengan kelakuan anaknya itu.
"Entahlah, ma... " kata ayah Shofi yang sudah pasrah.
Melihat dua paruh baya di hadapannya ini, Erhan juga merasa tak tega, tapi mau bagaimana lagi Shofi memang bersalah dalam hal ini. Dan mereka tidak akan mentolerir sedikitpun.
"Erhan, bagaimanapun Shofi adalah anak tante, bisakah kamu memaafkan perbuatan Shofi dan membebaskan nya. Kami berjanji akan membawa Shofi jauh dari sini. Kami tidak akan tinggal di negara ini lagi. Kami mohon padamu. " Sebuah permohonan tulus dari seorang ibu yang walau hatinya kecewa dan terluka tapi tetap meminta kebebasan anaknya.
"Aku akan mendidik anakku lebih baik lagi, dan tidak mempermalukan keluarga seperti ini. Jujur saja, kami sangat malu saat ini kepada kalian. " sekarang giliran ayah Shofi yang memohon.
Mama Aylin, Erhan dan Nisa saling berpandangan. Sepertinya mereka tau diri tanpa Erhan minta.
"Baiklah, kami akan mecabut tuntutan kami, tapi kalian harus menandatangani perjanjian dengan kami, kalau Shofi tidak akan pernah mengganggu rumah tanggaku dengan istriku lagi. Jika dia mengingkarinya, maka aku akan langsung menjebloskan ke penjara. Dan tidak akan ada belas kasihan lagi untuknya." Tegas Erhan.
Mendengar hal itu, ibu dan Ayah Shofi merasa sangat bahagia dan seolah diberi kesempatan untuk memperbaiki akhlak anaknya yang sudah rusak itu menjadi lebih baik.
"Terimakasih Erhan... terimakasih banyak. " ujar kedua paruh baya itu, merasa bersyukur atas belas kasihan yang diberikan Erhan kepadanya.
"Besok, kalian bertemu dengan pengacaraku di kantor polisi. Aku tidak akan datang, karena keadaanku belum memungkinkan. " ujar Erhan untuk terakhir kalinya, sebelum meminta Nisa membawanya masuk ke dalam kamar.
"Sekarang kalian boleh pergi. Gunakan kesempatan yang diberikan anakku baik-baik, karena anakmu kelak adalah kunci surgamu. " Mama Aylin.
Bersambung.
Terimakasih sudah membaca.
__ADS_1