Jodoh Dari Situs Online

Jodoh Dari Situs Online
Panggilan Sayang


__ADS_3

Nisa dan Erhan langsung menuju ke rumah orang tua Nisa, karena mereka tadi sudah membawa barang bawaan mereka dari hotel. Baik Erhan maupun Nisa sepertinya sudah tidak ada waktu kalau harus berlama-lama. Bukannya tidak ingin tinggal terlalu lama di Indonesia, tapi pekerjaan Erhan memang sudah menunggu. Karena dia telah meninggalkan pekerjaannya selama hampir dua minggu, di tambah lagi Kemal yang menyusulnya. Ah, entah apa yang akan terjadi dengan perusahaan nya itu. Semoga tetap baik-baik saja tanpa dirinya dan Kemal.


Nisa yang juga mengerti akan kegundahan suaminya itu pun berusaha menenangkan. Karena itu, dia akan segera menyelesaikan semua urusannya secepatnya.


Sesampainya di rumah, ternyata rumah sudah dalam keadaan bersih dan sepi. Kemana semua orang? pertanyaan itu muncul di benak Nisa maupun Erhan. Akhirnya, mereka berdua masuk ke dalam rumah yang tidak terkunci. Dilihatnya abangnya sedang bermain dengan Alan, sedangkan Alina sedang asik nonton televisi.


"Assalamu'alaikum."


Ucapan salam dari Nisa membuat semua orang yang ada disana mengalihkan pandangannya kepada Nisa.


"Wa'alaikum salam. Eh, pengantin baru sudah datang. " lagi-lagi Arkan menggoda adiknya itu.


"Abang, ihhh, apaan sih. " gerutu Nisa sambil terus melangkah keruang keluarga diikuti Erhan dibelakangnya.


"Ayah sama ibu mana bang. "


"Lagi istirahat. Kalian sudah makan belum? "


"Belum, tadi dari bandara langsung kemari. Erhan sudah ngajak makan tadi, tapi aku ga mau. Karena masih kenyang. "


"Ya udah, sana makan. Kasihan Erhan belum makan. Sama ajak juga kedua bodyguard nya itu. " parintah Arkan pada adiknya.


"Kamu udah lapar? " tanya Erhan pada Nisa.


"Lumayan.. " jawab Erhan menyembunyikan rasa laparnya.


"Tuh, udah lapar dia. Buruan suruh makan, entar di kira anak orang ga di kasih makan lagi. " Arkan segera menyuruh Nisa menyiapkan makan untuk Erhan.


"Yang, bantuin Nisa nyiapin makanan buat suaminya gih. " Arkan juga menyuruh istrinya untuk membantu Nisa, Alina pun menuruti perintah suaminya.


Di dapur.


"Gimana rasanya nikah, Nis? " Alina menggoda adik iparnya itu.


"Apaan sih, mbak. Mbak kan sudah tau rasanya nikah sama abang. " ucap Nisa malu menanggapi pertanyaan kakak iparnya itu.


"Eh, ngomong-ngomong, Erhan orangnya kaya banget ya? mas kawinnya aja pake dolar, itu kalau dirupiahkan berapa ya, Nis? "


"Aku juga ga tau mbak. Tapi bersyukur aja, mbak. Mungkin ini salah satu doa ayah dan ibu yang terkabul untuk Nisa. "


"Aamiin, ya udah gih, panggil Erhan kesini suruh makan dulu. Sama bodyguard nya itu. Ngomong-ngomong bodyguard nya ganteng-ganteng ya. " kekeh Alina.


"Mbaak.... inget udah punya abang sama Alan. " Nisa jadi kesal sendiri mendengar ocehan Alina.


"Iya... iya..." kata alina mengangkat dua jarinya membentuk huruf V


Nisa memanggil Erhan dan kedua bodyguard nya Mario dan Omar, tapi keduanya tidak mau makan bersama majikannya. Karena mereka merasa tidak pantas.


"Ya, sudah Nis, ga usah di paksa. Nanti mereka akan aku suruh makan setelah kita makan. Mereka memang seperti itu. Tidak bisa makan satu meja dengan tuannya. Dan sekarang kau adalah tuan mereka, yang harus mereka lindungi. " terang Erhan pada istrinya itu.


"Ah, ribet. Ayo kita makan. " Mereka berdua akhirnya makan bersama. Terasa sepi, karena selama beberapa hari mereka selalu makan bersama.


Setelah makan mereka pamit kapada Arkan dan Alina untuk istirahat.

__ADS_1


Nisa langsung membersihkan dirinya, dan mengganti pakaiannya. Benar kata ibu mertuanya, Erhan akan melihat kebiasaan Nisa itu. Setiap pulang dari luar pasti akan langsung membersihkan tubuhnya. Sebuah kebiasaan yang patut di contoh. Pikir Erhan.


Setelah bersih-bersih, Nisa membaringkan tubuhnya di samping Erhan, suaminya.


"Wangi bener, istriku. " goda Erhan.


"Apaan sih. "


"Nis, kita kan sudah menikah. Apakah tidak ada panggilan sayang untukku? "


"Apa? " tanya Nisa tak mengerti.


"Aku pernah membaca, kalau orang Indonesia memanggi suaminya dengan panggilan Mas, abang, sayang, apa lagi ya? "


"Apaan sih... "


"Aku kan suamimu, aku juga pengen punya panggilan sayang dong?" rengek Erhan kepada istrinya.


"Baiklah, Memang benar di negara kami setiap pasangan suami istri pasti menghormati suaminya dengan memanggil abang atau mas yang paling umum. Itu adalah panggilan untuk saudara atau seseorang yang lebih tua dari kita, jadi kita menghormati saudara kita kalau laki-laki yang lebih tua dari kita pasti manggilnya abang atau mas. Begitu pula dengan suami kita, apabila lebih tua ataupun muda kita tetap memanggilnya abang atau mas sebagai tanda menghormatinya. Kita dilarang memanggil dengan panggilan nama saja, karena itu dirasa kurang sopan. " jelas Nisa.


"Tapi, kamu memanggilku dengan nama. " kata Erhan


"Iya untuk iti aku minta maaf, bukan maksud hati untuk tidak sopan kepadamu. Tapi aku masih bingung, karena kau bukan orang dari negara kami. Jadi aku belum memutuskan untuk memanggilmu dengan panggilan apa. " terang Nisa yang tidak mau di salahkan.


Erhan mengangguk mengerti.


"Sekarang katakan padaku, kamu mau aku panggil apa? dalam bahasa Turki apa Indonesia? " pinta Nisa.


"Canim atau Balim artinya sayang dalam bahasa Turki, tapi aku ingin kau menggilku dengan sebutan Honey saja " Erhan terkekeh.


"Baiklah, terserah padamu, sayang. " Erhan lalu mencium singkat pipi Nisa.


"Ayo tidur aku sudah mengantuk." ajak Erhan.


Mereka akhirnya tidur siang itu, setelah perdebatan panjang mengenai panggilan sayang.


Malam harinya, semua orang berkumpul di ruang tamu, termasuk Arkan dan keluarganya yang belum boleh pulang dulu sama Nisa.


"Ibu, ayah ada yang ingin kami bicarakan. "


"Ada apa, nak? " tanya Ibu Aisyah.


"Bu, sebelumnya saya minta maaf. Bukan maksud hati yang tidak ingin berlama-lama disini, tapi saya memiliki pekerjaan disana yang mengharuskan saya untuk segera pulang. "


"Maksudmu kamu akan segera membawa Nisa pergi? " tanya ibu Aisyah meyakinkan diri.


"Iya, bu. Mungkin dua hari lagi, saya akan memboyong Nisa ke Turki. "


"Kenapa cepat sekali. " ujar ibu Aisyah seolah tak terima jika Nisa dibawa pergi.


"Bu... tenang kan dirimu. " Pak Ibnu menenangkan istrinya yang sedikit shock.


"Sejak awal kan kita sudah bicarakan ini? Kenapa sekarang ibu ga bisa terima? Bagaimanapun Nisa sudah punya suami, sekarang tanggung jawab Nisa sudah berpindah ke tangan suaminya. "

__ADS_1


"Iya, yah, ibu mengerti. Tapi ini terlalu cepat. "


"Pahamilah kondisi menantumu, dia memiliki beban berat di pundaknya. Ada ratusan bahkan ribuan orang yang bergantung padanya. Jika dia terlalu lama disini, bisa-bisa perusahaannya dalam masalah. Ayah harap ibu bisa mengerti. " Ayah Ibnu dengan bijak memberikan pengertian kepada istrinya itu.


"Baiklah... ibu mengerti. "


Akhirnya semua orang bisa bernapas dengan lega.


"Lalu bagaimana dengan butikmu, Nis. Ada beberapa orang yang bergantung ada butikmu itu." pak Ibnu mulai mempertanyakan masalah pekerjaan Nisa itu.


"Ini yang ingin Nisa bicarakan, yah. Nisa ingin Ibu dan mbak Alina yang mengurus butik. "


"Apa? " sahut Ibu Aisyah dan Alina bersamaan.


"Karena Nisa sudah tidak bisa mengurus butik di sini, maka Nisa minta tolong untuk mbak Alina menjaga butikku. Kalau ibu bersedia, dengan ibu juga. " kata Nisa dengan menundukkan kepalanya.


"Aku ga ngerti masalah butik Nisa? " Alina angkat bicara, karena dia dibawa-bawa dalam hal ini.


"Mbak Alina cuma menjaga butik saja agar tetap stabil, pendapat dan pengeluaran nya. Nanti ada Alima yang akan membantu, mbak. "


"Terus kalau ada yang pesan baju gimana? "


"Disana ada orang yang bagian mengukur mbak, ada juga yang bagian jahit. Masalah desain, nanti kita akan kerjakan secara online. Aku sudah membicarakannya dengan Erhan. Stok di butik juga akan aku produksi dari Turki. sebelum kita memperkerjakan desainer baru. "


"Oh, jadi begitu. Aku dan Ibu cuma ngurus keuangan gitu?"


"Iya, tidak ada yang aku percaya selain kalian berdua. Karena kalian adalah keluarga terdekatku. " ujar Nisa.


"Gimana, mas? " Alina meminta pendapat pada suaminya.


"Kalau kamu sanggup aku sih ga masalah. Asal jangan sampai kecapekan, sehingga membuat tugasmu sebagai istri terlupakan. "


"Enggak, kok bang. Aku akan memberikan jam kerja untuk mbak Alina, mulai jam sembilan sampai jam empat saja. Nanti butik yang buka dan tutup biar Alima saja. "


"Ya terserah, Alina aja Nis. Dia mau apa enggak. "


"Ngomong, ngomong aku dibayar ga, nih? " tanya Alina dengan bercanda.


"Iya dong mbak, masa mbakku yang cantik ini ga aku gaji. " kata Nisa sambil nyengir kuda.


"Nanti, di Turki saya akan menyuruh Nisa untuk mengelola butik saya, ayah. Jadi, dia tidak akan merasa kesepian di sana karena memiliki kesibukan. Dan saya akan fokus mengurus perusahaan. " Erhan ikut masuk ke dalam pembicaraan masalah butik ini.


Ayah Ibnu, manggut-manggut. "Itu terserah kamu nak, Erhan. Cuma Nisa, ayah ingin berpesan kepadamu. Jangan sampai melupakan tugasmu sebagai seorang istri, karena kesibukanmu nanti. Ayah sangat mengenalmu, jika sudah berurusan dengan pekerjaan kamu akan lupa waktu. " pesan ayah Ibnu.


"Iya, ayah. " kata Nisa sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Berarti masalah butik sudah beres ya? " kata Nisa kemudian.


Semua orang mengangguk,


"Syukurlah... " akhirnya Nisa bisa bernapas lega.


Bersambung.

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca.


__ADS_2