
Keesokan harinya, semua orang sudah di sibukkan dengan acara yang akan berlangsung pagi ini. Nisa yang sudah dirias sejak selesai subuh pun kini tampak cantik dan anggun dengan balutan kebaya mewah yang dia desain sendiri, Nisa merasa puas dengan rancangan yang dia pakai saat ini.
"Memang dasarnya cantik, mau di apa-apain juga pasti tambah cantik banget." kata MUA yang memberikan sentuhan akhir di wajahnya.
Nisa tersipu dengan ucapan MUA tadi. Dia sendiri tidak percaya saat melihat dirinya di cermin. benarkah itu dirinya?
"Ga usah di pandang segitunya juga kali... kamu memamg cantik banget. Kamu akan jadi ratu sehari, hari ini. " kata Alima yang sudah bersiap sebagai pendamping.
"Aku ikut senang, akhirnya temanku ini bisa menikah juga, walaupun ketemu jodohnya dengan cara tak terduga. " katanya lagi sambil terkekeh.
Nisa membalasnya dengan senyuman. "Segera menyusul ya, Kemal adalah pria yang baik. Aku tau akhir-akhir ini kalian semakin dekat. "
Alima terkejut mendengar perkataan Nisa, dia tidak menyangka kalau Nisa menyadari kedekatannya dengan Kemal. Karena selama ini mereka hanya dekat melalui ponsel saja dan jarang bertemu.
"Udah ga usah di tutup-tutupi. " goda Nisa.
Nisa dan Alima masih saling bercerita dan bercanda sambil menunggu ada yang menjemput, Hingga ibu Aisyah masuk ke dalam kamar putrinya.
"Masyaa'Allah, anak ibu cantik banget. " Ibu Aisyah terkagum-kagum melihat kecantikan putrinya itu.
"Sebentar lagi kita turun, bersiaplah. "
Ayah Ibnu sudah menunggu di tempat ijab qobul, berbincang dengan penghulu dan beberapa tokoh agama yang akan menjadi saksi. Para undanganpun banyak yang sudah datang. Mereka adalah saudara, kerabat, tetangga, teman-teman Nisa, para pegawai butik dan rekan kerja ayah Ibnu. Ya, walau hanya acara ijab qobul tapi dalam undangan juga di cantumkan resepsi bagi keluarga dan tamu yang berada di Indonesia,
Di kamar Erhan, dia juga sudah bersiap. Dengan temani dengan mamanya yang selalu ada bersamanya saat ini. Erhan jadi seperti anak kecil yang tidak mau di tinggalkan mamanya.
"Anak mama memang sangat tampan. Kamu mirip dengan papamu, nak."
"Ma, hari ini adalah hari bahagia Erhan. mama tidak boleh menangis, Okey. " kata Erhan memperingatkan mama nya, sebelum menjatuhkan air matanya.
"Maafkan mama, sayang. "
"Its Oke, tapi mama harus janji ga boleh nangis. Mama harus nenangin Erhan sekarang. Karena saat ini aku gugup banget, ma. Coba pegang, tangan aku dingin banget. " kata Erhan menggenggam erat tangan sang mama agar mendapatkan kehangatan.
Mama Aylin tersenyum melihat kegugupan anaknya. Karena tidak biasanya Erhan merasa gugup, meskipun harus menghadapi banyak saingan bisnisnya. Tapi dia gugup, saat akan mempersunting seorang wanita.
"Mana anak mama yang kuat itu, kenapa bisa gugup seperti ini. Biasanya juga kau menghancurkan musuhmu tanpa merasa gugup sama sekali. " Mama Aylin mulai mencairkan suasana.
"Maaa.... "
Pintu kamar di ketuk, dan Kemal masuk dengan tergesa. Karena mendapat panggilan kalau acara akan segera dimulai.
"Erhan, bersiaplah, acara sudah akan segera di mulai. Mereka ingin kau turun duluan. " kata Kemal.
Tanpa mengurangi rasa gugupnya, Erhan bersiap merapikan pakaiannya dan berjalan keluar kamar di gandeng sang mama.
"Kenapa di gandeng, ma? " tanya Kemal.
__ADS_1
"Ini, gugup katanya. Lihat aja tangannya dingin banget. " jawab mama Aylin.
"cih.. " Kemal berdecih mengejek sahabatnya itu.
"Jangan senang dulu, nanti kamu juga akan merasakan apa yang aku rasakan. Dan saat itu aku pasti yang akan tertawa lebar pertama kali. " kata Erhan memberi peringatan.
Kemal menggedikkan bahunya acuh, mendengar ancaman Erhan.
Erhan berjalan dengan gagah bak seorangpangeran memasuki tempat acara, semua tamu undangan baik pria maupun wanita berdecak kagum terpesona dan tak berkedip melihat ketampanan calon mempelai pria. Karena baru kali ini mereka melihat calon mempelai Nisa. Sesampainya di tempat acara Erhan duduk dengan gugup berhadapan dengan ayah Ibnu dan penghulu. Mama Aylin dan Kemal duduk di belakang Erhan. Lalu penghulu mengisyaratkan agar mempelai wanita di panggil.
Nisa berjalan dengan anggun di dampingi ibu dan sahabatnya. Lagi-lagi, para tamu dibuat terpesona dengan kecantikan sang mempelai wanita. Memang sudah menjadi rahasia umum tentang kecantikan Nisa, namun kali ini aura Nisa bisa menghipnotis semua mata yang ada diruangan itu. Mereka semua setuju, kalau Erhan dan Nisa adalah pasangan serasi.
Erhan yang mendengar kasak-kusuk di kursi undanganpun akhirnya menoleh ke obyek yang menjadi pembicaraan. Matanya membulat tak bekedip melihat calon istrinya yang terlihat sangat cantik. Hingga Nisa sudah sampai di hadapannya dia masih terpana.
"Ehmm... " Deheman dari pak Ibnu akhirnya membuyarkan lamunannya dan itu membuatnya sangat malu.
"Nanti lagi dilihatnya nak Erhan. " Pak penghulu ikut menggoda Erhan.
"Apakah maharnya sudah di siapkan? " tanya pak penghulu. "
"Sudah, " jawab Erhan lalu menyuruh Kemal mengambil mahar yang sudah disiapkan.
Seorang pria berjas masuk dengan membawakan mahar yang di maksud, dan menaruhnya meja. Mata pak Ibnu dan penghulu membulat melihat nominal angka yang tertera di sebuah rekening yang ada di dalam kotak mahar. Semua orang juga tampak penasaran ketika melihat ekspresi orang tua mempelai dan penghulu.
"Apakah ini benar nak Erhan? " tanya pak Ibnu ragu.
"Baiklah... Sebelum prosesi ijab qobul ini, ada sepatah dua patah kata yang ingin ayah sampai kan kepada kalian berdua. " ujar ayah Ibnu kemudian.
"Erhan, Anisa adalah putri satu-satunya di keluarga kami. Kami sangat menyayanginya dan memanjakannya selama ini. Aku adalah orang pertama yang menggendongnya saat dia dilahirkan, Aku yang pertama datang menghampiri nya saat dia menangis, Aku yang memelukanya saat dia ketakutan, di samping ibunya yang selama ini bersamanya. Aku adalah cinta pertama untuk putriku sebelum kau datang. Kini tanggung jawab itu ku serahkan kepadamu, sayangi putriku dengan sepenuh hatimu jangan pernah kau sakiti hatinya, jangan pernah membentaknya karena dia sangat rapuh, jangan pernah memukulnya karena kami tidak pernah mengarahkan tangan kami untuk memberikan kekerasan kepadanya, tapi kami memberikan tangan kami untuk memberikan kehangan cinta dan kasih sayang. "
"Berjanjilah padaku, kau akan memenuhi permintaan pria tua ini. Jika kau sudah tidak mencintai putriku lagi, maka pintu rumah kami masih terbuka lebar untuk menerima kembali cahaya hidup kami. Kembalikan dia dengan cara baik-baik, seperti saat kau memintanya kepada kami secara baik-baik. " kata ayah Ibnu mengakhiri nasehat dan permintaan nya.
"Insya' Allah saya berjanji melakukan yang terbaik untuk Nisa." jawab Erhan dengan pasti.
" Nisa, setelah ini kau akan menjadi istri dari orang di sampingmu. Kewajiban ayah, akan berpindah tangan kepadanya. Jadi, hormatilah dan patuhilah semua perintah suamimu selama masih berada di jalan Allah. Jika dulu surgamu ada di telapak kaki ibumu, maka sekarang surgamu ada di tangan suamimu. Dialah yang akan membimbingmu menuju ridho Allah. "
"Dan ingatlah ini, suamimu bukan sepenuhnya milikmu. Dia adalah milik ibunya. Jadi hormatilah dan sayangilah ibu mertuamu dengan tulus seperti kau menghormati dan menyayangi ibumu sendiri. Maka suamimu akan memberikan apapun tanpa kau minta. Dia akan menyayangimu lebih dari itu. " Ayah Ibnu memberikan nasehat bijaknya juga kepada anaknya.
"Iya, ayah. " jawab Nisa sambil mengusap air matanya yang sudah hampir jatuh.
Semua orang merasa terharu mendengarkan nasehat yang diberikan ayah Ibnu untuk kedua mempelai.
" Baiklah. " Ayah Ibnu akhirnya menggenggam tanga Erhan yang sedingin es itu. Ayah Ibnu bisa merasakan betapa gugupnya Erhan saat ini.
" Saya nikahkan dan kawinkan engkau ananda Erhan Farhat Khan bin Aslan Khan dengan anak saya yang bernama Anisa Humaira dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar satu juta dolar, tunai. "
Semua orang melongo mendengar besarnya mahar yang diberikan Erhan kepada Nisa. Mungkin setelah ini mereka akan mencari tahu, siapa Erhan sebenarnya. Begitu juga Nisa yang masih tak percaya dengan apa yang dia dengar
__ADS_1
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Anisa Humaira binti Ibnu Bashir dengan mas kawin tersebut, tunai. "
"Sah..."
"Sah..."
"Sah.. "
Mereka semua akhirnya bisa bernapas dengan lega setelah mendengar kata sah dari para saksi dan undangan. Lalu dilanjutkan bacaan do'a dan penandatanganan berkas pernikahan. Setelah itu, acara pemasangan cincin yang akan di lakukan kedua mempelai, entah berapa cincin lagi yang akan menghiasi jari Nisa.
Nisa mencium tangan Erhan untuk pertama kali dan dibalas Erhan dengan kecupan di kening Nisa dengan mengucapkan doa yang dilantunkan dengan lirih. Nisa menikmatinya dengan memejamkan matanya. Baru kali ini mereka saling bersentuhan sedekat ini. Menimbulkan rasa gugup dan bahagia secara bersamaan.
Setelah itu mereka bersalaman dengan para orang tua dan orang-orang terdekat. Lalu duduk di atas kursi pelaminan yang sudah di siapkan mama Aylin, memberikan kesempatan para tamu untuk memberikan selamat kepada kedua mempelai dan berfoto.
Banyak godaan yang diterima Nisa saat menerima ucapan selamat baik dari teman, maupun kerabat. Membuat wajah Nisa memerah seperti tomat. Sedangkan Erhan hanya cuek, karena dia tidak begitu mengerti dengan apa yang mereka katakan kepada Nisa.
"Akhirnya, sahabatku ini nikah juga, selamat ya beb... " Nayra datang dengan heboh.
"Terima kasih, secara tidak langsung kau adalah mak comblang kami" Nisa terkekeh.
"Tentu saja, kini tinggal giliran Alima ini. "
"Jangan khawatir soal Alima. " lalu Nisa membisikkan sesuatu kepada Nayra, hingga membuatnya terpekik.
"Benarkah? "
Nisa menganggukkan kepalanya. "
"Baguslah kalau begitu. "
Akhirnya mereka mengabadikan momen ini dengan berfoto. Setelah kepergian Nayra, Nisa masih menyalami beberapa undangan yang datang.
"Aku capek. " keluhnya.
"Apa kau ingin istirahat? "
"Tidak." kata Nisa. "Aku adalah ratunya hari ini. aku tidak akan mengecewakan mereka. Toh sebentar lagi acaranya juga selesai. "
"Baiklah, terserah padamu. Tapi jangan terlalh memaksakan dirimu. "
Nisa mengangguk.
Mereka akhirnya menikmati momen ini dengan bahagia, walah sedikit lelah. Itu bukan masalah.
Happy Wedding Nisa & Erhan.
Bersambung.
__ADS_1