
Mommy.... Suara cadel seorang anak laki-laki itu mengganggu indera pendengaran Nisa yang masih tertidur disusul dua suara berisik lagi yang mengganggunya. Nisa langsung membuka mata saat melihat ketiga bocil itu sudah berada di ranjangnya.
"Kenapa mommy masih tidur? "
"Apa mommy sakit? "
"Apa daddy yang membuat mommy sakit. "
Tiga pertanyaan dari tiga bocil berbeda yang sudah mengganggu tidurnya itu, langsung membuat Nisa tersenyum.
"Hei, jangan selalu memfitnah daddy anak-anak. Daddy tidak melakukan apa-apa pada mommymu. Mommy hanya masih kelelahan. "
Ketiga bocil itu pun saling berpandangan dan menarik nafas mereka dalam-dalam.
"Pasti daddy penyebab nya. " Protes si cerewet Zoya. Sedangkan Murad langsung memijit tangan mommynya.
"Mommy tidak apa-apa kan? " tanya Murad khawatir.
Nisa tersenyum mendengar kekhawatiran putra pertamanya itu.
"Mommy baik, sayang. Sekarang kalian bersiaplah ke sekolah. Biar daddy yang mengantar kalian. Nanti siang mommy yang akan menjemput kalian. Kita akan langsung ke mall bersama aunty Alima dan Ezra. "
"Benarkah mom? " tanya mereka tak percaya.
Nisa menganggukkan kepala meyakinkan mereka.
"Ye... ye... ye... "
Mereka bertiga bersorak kegirangan dan itu membuat ranjang bergoyang hebat.
"Anak-anak... hei, stop hentikan. Ayo sekarang kalian bersiap. Biarkan mommy kalian istirahat. "
Tiga bocil itupun menghentikan sorakannya dan langsung mencium tangan dan kedua pipi mommy mereka.
"Mom, kami berangkat dulu ya. Mommy harus sehat, agar nanti kita jadi pergi ke mall. " Murad mewakili kedua adiknya untuk berpamitan kepada mommy mereka, lalu mereka pun keluar dari kamar orang tua mereka.
"Apa kau baik-baik saja. " tanya Erhan mendekati istrinya itu.
"Setiap hari seperti ini, aku sampai malu sama mama karena tidak pernah membantunya di dapur. "
"Sudahlah, tidak perlu kau cemaskan itu. Mama juga pasti mengerti, kalau anaknya ini tidak pernah melepaskan istrinya di ranjang. " kekeh Erhan.
Nisa langsung mencubit perut suaminya itu dengan kesal. Bagaimana tidak kesal, tiap malam dia selalu digempur suaminya itu tanpa henti, kecuali kalau dapat waktu bulanan. Bahkan selalu nambah setiap kali selesai sholat subuh, dan akibatnya dia akan bangun kesiangan.
__ADS_1
Untung mama Aylin tidak keberatan akan hal itu. dia selalu mengatakan pada Nisa,
"Layani suamimu dengan baik, daripada dia harus jajan diluar demi memenuhi kebutuhan biologisnya. Masalah dapur tak perlu kau cemaskan, karena sudah ada pelayan dan koki yang akan menyiapkan sarapan dan membersihkan rumah. Begitu juga dengan anak-anak. Sudah ada Lisa yang akan mengatur mereka bertiga. Yang penting tugas kamu saat ini adalah melayani Suamimu dengan baik, dan jangan pikirkan apapun. "
Inilah ceramah panjang yang selalu diucapkan mama Aylin ketika Nisa meminta maaf jika terlambat bangun.
"Tetap saja sayang, aku merasa tidak enak. " gerutu Nisa sambil berdiri hendak membetulkan dasi suaminya yang kurang rapi.
Erhan langsung memeluk pinggang istrinya itu. dan memberi kecupan di seluruh wajahnya.
"Hentikan, aku belum mandi. " Nisa mencoba menghentikan perbuatan suaminya itu.
Erhan terkekeh dan menghentikan kecupannya. "Tadi kan sudah mandi sebelum subuh. "
Nisa memukul dada Erhan yang selalu membuatnya kesal.
"Dan ingat ini, kamu tidak perlu merasa sungkan, ataupun malu kepada siapapun.Karena posisinu disini adalah Nyonya di rumah ini. Istriku. Jika posisi mama adalah ibu suri, maka kau adalah ratu di rumah ini. dan aku adalah rajanya. " kata Erhan sambil tekekeh geli dengan kata-kata nya.
"Sudah, yang penting dengarkan kata mama saja. Apa kau nanti jadi pergi dengan Alima? "
Nisa mengangguk. "Iya nanti sepulang anak-anak sekolah kami akan pergi berbelanja di mall sekalian mengajak anak-anak bermain. Aku akan membawakan pakaian ganti untuk mereka."
" Baiklah kalau begitu. Hati-hati ya sayang. " kata Erhan mengecup kening istrinya itu setelah mendapat ciuman di tangan dari Nisa.
"Tunggu." Nisa menuju walk in closet dan langsung memakai baju rumahannya dan jilbab instan. Dia lalu menggandeng lengan Erhan dan mengajaknya turun.
Mereka pun menuruni anak tangga dan disambut dengan riuh suara anak-anak nya yang sedang sarapan.
"Mommy... " sapa mereka serentak saat melihat mommynya turun bersama daddynya.
Nisa memberikan senyuman hangat kepada buah hatinya yang sudah berusia enam tahun untuk Murad dan Lima tahun untuk twins.
"Kalian harus makan yang banyak, agar bisa bermain nanti. "
"tentu mom. " si tengil Rayan kali ini yang menjawab.
Ketiga anak Nisa memiliki kepribadian yang berbeda-beda Mulai dari Murad yang pendiam tapi perhatian, Rayyan yang tengil karena suka mengganggu kembarannya dan si cerewet Zoya. Yang selalu menghidupkan suasana. Mereka adalah anak-anak yang baik dan penurut, terutama jika Nisa yang sudah memberikan perintah.
Setelah selesai sarapan, Erhan dan ketiga anaknya di antarkan Nisa sampai di dekat mobilnya. Mereka memberikan ciuma lagi untuk mommynya sebelum mereka berangkat. Begitu juga dengan Erhan, dia juga tidak mau kalah dengan anak-anaknya itu.
Setelah mobil mereka tidak terlihat, Nisa masuk ke dalam mansion nya. Dia berpapasan dengan mama Aylin yang hendak pergi.
"Ma," sapa Nisa sambil mencium tangan ibu mertuanya itu.
__ADS_1
"Mama mau keluar. Apa kau nanti juga akan keluar? "
"Iya ma, sebentar lagi aku akan pergi mengecek butik, dan menjemput anak-anak. Setelah itu kami akan pergi ke mall. " Ujar Nisa memberikan jadwal kegiatannya kepada mama Aylin secara tidak langsung.
"Baiklah, tidak apa-apa. Kamu mungkin juga butuh refresing, agar tidak dikurung terus sama Erhan. "
Blus...
Wajah Nisa langsung memerah saat mendengar pernyataan absurd dari ibu mertuanya itu.
" Kamu hati-hati ya.. "
"Mama Juga hati-hati. " kata Anisa sambil menciup punggung tangan mama mertuanya.
Nisa sudah berada di butik nya, dia berangkat bersama Ana yang selalu setia mengikuti kemanapun Nisa pergi. Dia sudah naik pangkat menjadi asisten pribadi Nisa, sedangkan Lisa dia bertugas untuk mengasuh ketiga anaknya. Lisa sendiri yang memilih pekerjaan itu, karena dia suka dengan anak-anak. Dia bertugas untuk mengajarkan kedisiplinan untuk para tuan muda dan Nona mudanya.
Nisa bertemu dengan Alima di Butik, sekarang Nyonya Kemal itu sedang menunggu kelahiran putri kedua mereka. Kemal tidak ingin kejadian pada Nisa itu terjadi pada istrinya. Jadi Setelah melahirkan Ezra putra pertamanya, Kemal langsung menyuruh istrinya untuk melakukan program keluarga berencana. Agar tidak kebobolan seperti sahabatnya.
"Apa kau sudah meminta ijin kepada suamimu? " tanya Alima pada sahabatnya.
"Sudah, dia juga sudah memberi ijin padaku dan anak-anak. " kata Nisa sambil berkutat dengan gambar di hadapannya.
Jullie masuk keruangan Nisa mengantarkan seorang pelanggan yang ingin mendisain gaun pengantin untuk acara pernikahannya.
"Selamat siang Nyonya Erhan. " sapa seorang wanita kepada Nisa.
Nisa yang merasa tidak asing dengan suara itupun langsung mendongak. Matanya berbinar melihat sosok wanita yang sangat cantik menurutnya.
"Benazir, apa kabar" Nisa langsung berdiri dan bercipika-cipiki dengan Benazir.
"Long time no see.... bagaimana kabamu? " tanya Nisa kepada mantan kekasih suaminya itu.
"Aku baik... Dan sekarang aku datang untuk meminta kau memberikan desain gaun pengantin terbaikmu. " Kata Benazir
Mereka duduk bersama di sofa, Nisa mengenalkan Alima kepada Benazir dan sebaliknya. Mereka berbincang cukup lama, hingga Nisa menyelesaikan desain gaun yang diinginkan Benazir.
"Ya, seperti ini. Aku suka. Baiklah kalau begitu aku permisi dulu, calon suamiku sudah menunggu. "
"Baiklah Benazir, sampai jumpa lagi. "
Nisa melambaikan tangannya kepada Benazir sampai dia tak terlihat lagi.
"Siapa dia Nis, kenapa aku baru bertemu dengannya setelah lima tahun disini. "
__ADS_1
"Oh.. dia adalah seorang model dan mantan kekasih suamiku. " kata Nisa dengan santai.
"Apa... "