
Setelah semua ketegangan yang terjadi, akhirnya semua orang bisa bernapas dengan lega. Karena kedua belah pihak sudah setuju. Mungkin benar kata-kata bijak orang tua dulu, 'Jika memang sudah jodoh maka semua akan dimudahkan jalannya.' Itulah yang di rasakan dua keluarga saat ini. Terutama Erhan dan mama Aylin. Karena mereka berdua yang sangat berharap sejak awal.
Erhan harus berterimakasih kepada mamanya ini, karena sudah memikirkan yang terbaik untuk dirinya. Dia juga tidak menyangka kalau pada akhirnya perjalanan nya mencari cinta sejati akan berlabuh di negara Indonesia. Dan tak lama lagi dia akan mempersunting labuhan hatinya itu.
Karena waktu sudah sore, mama Aylin berpamitan untuk kembali ke hotel bersama asistennya dengan beberapa bodyguard. Sedangkan Erhan dan Kemal tidak mau kembali ke hotel dulu, mereka akan tetap tinggal selama beberapa waktu, dengan alasan ingin membantu membereskan rumah Nisa. Walau sebenarnya sudah ada orang yang akan membersihkannya. Itu hanya alasan Erhan saja, karena tidak ingin cepat-cepat berpisah dengan Nisa. Begitu juga dengan Kemal, dia punya misi saat ini.
"Bos, aku mau minta tolong padamu. " Kata Kemal saat mereka berada di gazebo taman belakang.
"Apa? "
"Kenalkan aku dengan temannya Nisa. "
"Yang mana? teman Nisa ada yang sudah menikah. "
"Aku tau, karena gadis kecil itu selalu menempel pada ibunya. Maksudku temannya Nisa yang tadi membela Nisa itu lho, yang memakai jilbab warna merah. "
"Ooohh, Alima. "
"Jadi namanya Alima? "
"Iya, Nisa cuma punya dua teman, Nayra dan Alima. Kalau Nayra itu sudah punya keluarga. Kalau Alima itu, teman sekaligus asisten Nisa. Sepertinya dia masih sendiri. "
"Yess.... " Kemal bersorak senang.
"Dasar."
Obrolan mereka terhenti saat Nisa dan Alima datang membawakan makanan dan minuman untuk mereka berdua. Dan menyajikan makanan dan minuman tersebut dihadapan Erhan dan Kemal, lalu mereka ikut duduk menemani kedua pria itu. Nisa masih terlihat malu-malu, karena dia tidak pernah menyangka kalau pria di hadapannya ini akan menjadi suaminya dalam waktu dekat.
"Silahkan di minum Erhan. "
"Terimakasih." Erhan kemudian mengambil minumannya.
"Oh ya, Nisa, Alima, kenalkan ini asisten sekaligus sahabatku namanya Kemal. "
"Kemal kenalkan ini calon istriku Nisa dan ini Alima sahabatnya. "
Mereka saling menganggukkan kepala, sebagai tanda perkenalan.
"Kalau Nisa, aku tidak perlu di kenalkan. Karena kita semua sudah tau tadi. Aku ingin berkenalan dengan wanita cantik disebelah Nisa ini. " Celetuk Kemal dengan tidak tau malunya.
"Kau ini. " gerutu Erhan.
"Jadi namamu Alima? "
"Iya, tuan." kata Alima sambil tertunduk.
Nisa yang melihat tingkah sahabatnya merasa geli sendiri, karena selama ini dia tau. Alima adalah sahabatnya yang paling bar-bar.
"Jangan panggil aku tuan, aku jadi seperti majikan saja. Panggil namaku saja Alima, Kemal panggil aku Kemal. "
"Baiklah." kata Alima singkat.
"Dari tadi dia ingin sekali dikenalkan denganmu Alima, sepertinya dia penasaran denganmu. Atau dia jatuh cinta pada pandangan pertama, sama sepertiku yang jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu Nisa. " Goda Erhan.
__ADS_1
'Blush' wajah Nisa dan Alima langsung memerah, tidak tahan dengan godaan Erhan.
"Hei, sudahlah Erhan, jangan menggodanya lihatlah mereka berdua terlihat malu sekali. " kesal Kemal kepada sahabatnya itu.
Erhan hanya menggedikkan bahunya acuh.
"Nisa, ada yang ingin aku bicarakan denganmu berdua. " kata Erhan dengan serius tak ada candaan sama sekali dalam setiap penekanan katanya.
Nisa mengangguk, lalu mereka berdua beranjak dari gazebo. Alima juga ingin pergi, karena dia akan merasa canggung jika berdua dengan Kemal.
"Kau mau kemana? " tanya Erhan yang melihat Alima ingin beranjak pergi.
"Aku akan masuk. " kata Alima terburu-buru.
"Aku mohon tunggu kami di sini, temani Kemal. aku hanya sebentar bicara dengan Nisa. Setelah itu aku ingin bicara dengan kalian berdua. " Erhan mencoba menghalangi Alima untuk pergi.
"Tapi... " kata Alima ragu.
"Temanku ini orang yang baik kok, dia tidak akan macam-macam percayalah. "
"Baiklah... " kata Alima dengan pasrah lalu kembali tempat dia duduk
Erhan dan Nisa akhirnya pergi sedikit menjauh dari gazebo. Mereka duduk di kursi taman yang ada di sana.
"Apa yang ingin kau katakan Erhan? " tanya Nisa penasaran.
"Maaf."
"Maaf untuk? "
"Apa kau tidak menginginkannya? " tanya Nisa dengan mengernyitkan alisnya.
"Bukan begitu maksudku, aku sangat bahagia karena kita akan menikah. Namun aku minta maaf karena semua terlihat seperti terburu-buru. Aku sangat merasa tidak enak kepada ayah dan Ibu. "
"Sudahlah tidak apa-apa. Semua sudah terjadi. Dan apa yang mama Aylin lakukan mungkin ada benarnya. Kami seolah lupa satu hal, kau bukan orang yang tinggal dari negara yang sama dengan kami, kita bukan dari kota yang sama. Tapi kita berbeda negara, itulah yang kami lupakan sejak awal. Hingga mama mengingatkan hal itu. Kami bisa menerimanya Erhan dan aku rasa ayah, ibu dan abang Arkan juga sudah menerimanya. "
" Terimakasih Nisa kamu mau mengerti. "
"Sama-sama, bukankah sebagai pasangan kita harus saling mengerti. " ucap Nisa dengan tersenyum lebar. Dibalas dengan senyuman balik dari Erhan.
"Ibu tadi berpesan, selama satu minggu ini kita tidak boleh bertemu. Dalam tradisi kami ini namanya pingitan. Kita tidak boleh bertemu dan berkomunikasi sampai hari H, kita baru bisa bertemu nanti di depan penghulu. " jelas Nisa.
"Kenapa seperti itu? " tanya Erhan yang merasa tidak terima.
"Erhan, ini adalah tradisi kami. Aku harap kamu mau menjalankannya. Kata ibu, dengan acara pingitan ini nanti kita akan merasakan rindu, dan kasih sayang yang semakin besar sehingga saat bertemu kita bisa melepaskannya. Itu pesan dari ini. " Nisa menjelaskan dengan malu-malu, entah seperti apa wajahnya saat ini.
Erhan yang mendengarnya pun akhinya bisa tersenyum lebar, karena mulai mengerti akan maksud dari acara pingitan ini.
"Baiklah, hanya satu minggu kan. Aku akan sabar menunggu. Dan menghabiskan waktuku untuk mengatur acara ijab qobul kita nanti agar berjalan lancar. " kata Erhan dengan semangat.
"Sekarang ayo kita kembali menemui Kemal dan Alima. Sepertinya aku punya tugas untuk mereka, dan bisa mendekatkan mereka nanti. " Kata Erhan lalu berdiri.
Nisa yang mendengarnya merasa bingung, dan bertanya "Apakah Kemal tertarik dengan Alima? Kalau untuk main-main sebaiknya jangan dekatkan mereka Erhan, Alima memiliki trauma dengan kisah cinta. "
__ADS_1
"Benarkah? "
Nisa mengangguk sebagai jawaban.
"Tidak ada salahnya mendekatkan mereka Nisa, Kemal adalah pria baik. Dia adalah orang kepercayaanku, bahkan selama aku di Dubai dan disini dialah yang aku percaya menjaga perusahaan. Dia juga orang yang sulit jatuh cinta, tapi sepertinya dia penasaran dengan Alima sejak pertama melihatnya tadi. " ujar Erhan menjelaskan siapa Kemal.
"Tapi.... "
"Sudahlah, toh tidak ada salah nya kita mendekatkan mereka, ambil sisi positif nya saja. Jika Kemal dan Alima bisa jadi seperti kita, kamu punya keuntungan kan? Alima akan ikut suaminya ke Turki. Dan kau tau apa artinya itu? "
Nisa berpikir sejenak untuk mencerna kata-kata Erhan, lalu sepersekian detik matanya berbinar lalu mengangguk.
"Kau benar, tidak ada salahnya kita mendekatkan mereka berdua. " kata Nisa dengan bahagia.
Nisa dan Erhan akhirnya kembali duduk di gazebo berkumpul lagi dengan Alima dan Kemal.
"Bagaimana, apa ada perkembangan? " tanya Erhan saat sudah kembali ke tempat duduknya.
"Ya, kami hanya mengobrol santai saja. Benarkan Alima? " kata Kemal.
"Iya, kita cuma ngobrol biasa. "
"Baguslah kalau kalian saling ngobrol. Oh iya Kemal, aku ada tugas untukmu. "
"Apa? "
"Selama beberapa hari ini aku dan Nisa kan tidak boleh bertemu, kita akan melakukan adat... adat apa namanya Nisa, aku lupa. " Erhan bertanya kepada Nisa.
"Pingitan."
"Ah, ya pingitan. jadi kami tidak boleh bertemu satu sama lain selama satu minggu, sampai hari H, nanti kita bertemu di depan penghulu. " Erhan menjelaskan.
"Ada ya, acara seperti itu. " tanya Kemal bingung.
"Ada, sudah lah jangan di bahas. Yang ingin aku perintah kan kepadamu adalah mengurus dokumen-dokumen pernikahanku dengan Nisa. Aku minta kau dari pihakku dan Alima dari pihak Nisa untuk mengurus surat pernikahan kami. " ujar Erhan sambil menyandarkan tubuhnya di pinggiran gazebo dan memberi tanda kepada Nisa.
Kemal yang mendengar ada nama Alima di sebutkan merasa bersemangat. "Baiklah kalau begitu. " ucapnya menyanggupi perintah bosnya itu.
"Tapi Nis, aku kan harus menjaga butik. " Alima merasa segan jika berhadapan dengan pria yang baru dikenalnya itu.
"Tidak apa-apa, butik bisa di handle yang lainnya. lagi pula kan mengurus surat-surat hanya sebentar, setelah itu kamu bisa kembali ke butik lagi setelah tugasmu selesai. Aku mohon bantu aku ya, Alima. Hanya kamu satu-satunya harapanku.
Akhirnya Alima mau menuruti permintaan sahabatnya itu. Nisa dan Erhan saling memberikan tanda, kalau satu langkah mereka mendekatkan Kemal dan Alima berhasil.
"Yessss." sorak kemal dalam hati.
Bersambung.
Terimakasih sudah membaca.
Note : jangan lupa baca juga karya otor yang baru ya. Siapkan air seember sebelum membaca. Soalnya ceritanya bikin greget, bikin naik darah dan emosi jiwa.
Jangan lupa juga berikan dukungan kalian untuk karya-karya otor. Terimakasih readers 🙏🙏🙏
__ADS_1