
Pagi hari, langit tampak cerah. Secerah wajah Erhan yang sudah bersiap untuk pulang ke negaranya. Dia sudah siap memboyong istrinya pulang hari ini. Nisa sendiri juga sudah siap, dia sudah menyiapkan dirinya lahir dan batin untuk mengikuti kemanapun suaminya itu akan membawanya pergi.
Ayah Ibnu, ibu Aisyah , Arkan dan Alina pun ikut mengantarkan pasangan pengantin baru itu ke bandara. Mereka akan mengantarkan kepergian anak dan menantunya itu. Dan mereka kini sudah berada dalam satu mobil, Sedangkan Erhan dan Nisa berada dalam mobil yang lain bersama dua bodyguard nya.
Sesampainya di bandara, seperti biasa, mereka tidak akan masuk dan menunggu di tempat keberangkatan, tapi langsung masuk ke dalam bandar udara dimana pesawat pribadi milik Erhan sudah menunggu. Kedua orang tua Nisa, Arkan dan istrinya sangat tidak menyangka kalau menantu dan ipar mereka juga memiliki pesawat pribadi. Mereka benar-benar ingin tahu siapa sebenarnya Erhan ini, pria tak terduga dengan penuh kejutan.
Mereka saling berpelukan saat melepas kepergian Nisa dan Erhan. Ibu Aisyah terus menangis melepas anak bungsunya itu.
"Hati-hati di sana ya, sayang. Jaga dirimu baik-baik, jangan pernah melupakan kami disini. " ucap ibu Aisyah saat memeluk anaknya.
"Iya bu, Nisa tidak akan pernah melupakan kalian semua. Karena kalian adalah bagian hidup Nisa. " kata Nisa yang ikut menangis.
"Erhan, aku titipkan Nisa padamu jangan pernah kau sakiti dia. " pesan ayah Ibnu kepada menantunya itu.
"Iya, ayah. Aku akan menjaga Nisa dengan baik. " balas Erhan
"Nisa, jadilah istri yang baik, patuhi semua perintah suamimu. Jangan membantahnya selama itu dalam kebaikan. " pesan ayah Ibnu kepada anaknya.
"Iya ayah. Nisa akan berusaha untuk menjadi istri yang baik. " jawab Nisa masih di pelukan ayahnya.
Arkan pun melakukan hal yang sama kepada Nisa dan Erhan.
"Aku akan mengabari kalian jika acara resepsi pernikahan kami akan diadakan, dan kami akan mengirin pesawat untuk menjemput kalian nanti. " ujar Erhan sebelum mereka masuk ke dalam pesawat.
Akhirnya Nisa dan Erhan melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan. Tak kuasa Nisa mengeluarkan air matanya karena harus meninggalkan orang-orang yang dicintainya, yang selalu bersamanya selama ini. Perpisahan itupun terjadi saat pesawat jet pribadi mereka lepas landas. Nisa masih menangis sesenggukan dalam pelukan Erhan. Erhan pun menenangkan istrinya itu dengan menepuk-nepuk punggungnya. Dia mengerti begitu berat saat kita harus pergi meninggalkan orang-orang yang kita sayangi selama ini.
"Tenang lah, sekarang kau menjadi tanggung jawab ku. Aku yang akan menggantikan orangtuamu untuk menjagamu. "
Tak ada jawaban, hanya tangis Nisa yang mulai mereda dan sisa sesenggukan saja.
"Apa kau ingin istirahat? "
Nisa mengangguk. Lalu Erhan mengajaknya ke suatu tempat disisi pesawat. Ada kamar pribadi yang tersedia di sana untuk istirahat. Mereka tidur saling berpelukan untuk memberikan kenyamanan satu sama lain.
Dua belas jam Perjalanan mereka tempuh, dan disinilah mereka kini berada. Di dalam mobil, bersama asistennya Kemal. Karena mama Aylin mengutus Kemal untuk menjemput mereka berdua. Mama Aylin tidak ikut menjemput mereka karena sedang melakukan persiapan penyambutan untuk anak dan menantunya.
Nisa terperangah ketika mobil mereka memasuki sebuah gerbang yang tinggi menjulang, dan terlihat bangunan khas Turki disana yang terlihat sangat mewah. Mansion keluarga Khan, di sisi kanan dan kirinya ada taman dan pepohonan, sedangkan ditengah taman ada air mancur yang sangat indah. Nisa tidak pernah menyangka, kalau rumah Erhan akan sebesar ini. Tidak ada seujung kuku jika dibandingkan dengan rumah Nisa yang sederhana. Nisa jadi merasa minder sekarang.
__ADS_1
Erhan merasa heran saat melihat istrinya tidak bersuara ketika memasuki gerbang rumah nya. Dan memutuskan untuk bertanya.
"Ada apa? " tanya Erhan.
Nisa diam tak menjawab.
Erhan menyuruh Kemal dan sopirnya untuk keluar lebih dulu, saat mobil mereka sudah terparkir di garasi. Dan apa lagi ini,banyak mobil sport mewah terjajar rapi di sana. Membuat Nisa semakin berkecil hati dan menundukkan kepalanya. Erhan yang merasa aneh dengan sikap Nisa pun lalu memposisikan duduk berhadapan dengan Nisa dan menggengam tangannya, keningnya berkerut saat merasakan tangan Nisa yang dingin.
"Kamu kenapa, sayang? katakan padaku. " tanya Erhan dengan lembut.
Nisa masih tidak menjawab, dan hanya menggelengkan kepalanya.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu? " Erhan lagi-lagi bertanya.
"Mas, apakah aku pantas menjadi istrimu? " tanya Nisa tiba-tiba, dan itu membuat Erhan tidak senang.
"Apa maksudmu? "
"Kau terlalu tinggi untuk ku gapai, dan terlalu jauh untuk ku sentuh. Aku sama sekali tidak ada apa-apanya jika dibandingkan denganmu. "
Erhan menghenbuskan napas kasar, lalu dia memegang kedua bahu Nisa, dan mengangkat wajah Nisa yang tertunduk. Hingga kedua netra mereka bertemu, dan itu yang selalu membuat Nisa lemah tatapan teduh yang menyejukkan hati dengan mata hazelnya yang selalu membuat Nisa terhipnotis.
"Kau adalah nyonya di mansion ini sekarang,"
Nisa akhirnya mengangguk dan tersenyum, wajahnya tak lagi menampakkan kesedihan dan rasa tidak percaya diri. Karena dia yakin, apa yang dikatakan Erhan adalah sesuatu yang harus bisa Erhan pertanggungjawabkan. Mereka akhirnya keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah, para pelayan berjajar rapi sesuai intruksi mama Aylin untuk menyambut kedatangan tuan muda yang membawa istrinya.
Erhan mengernyit kan keningnya ketika melihat tingkah para pelayan yang tidak biasa, dan Menggelengkan kepalanya. 'pasti ulah sang mama' pikirnya. Para pelayan juga mncuri-curi pandang melihat istri sang tuan muda. Dan mereka tersenyum senang kalau ternyata istri tuan muda mereka ternyata sangat cantik. Makin masuk ke dalam suasana semakin tampak aneh, banyak balon-balon berserakan disana. Hingga suara yang sudah tak asing lagi menyapa di indra pendengaran mereka.
"Selamat datang putra dan menantuku? " mama Aylin langsung berhambur memeluk sang menantu, tanpa memperdulikan anaknya sendiri.
"Ma... " mendengar suara manja anaknya, mama Aylin beralih memeluk anaknya.
"Akhirnya kalian datang juga. " mama Aylin menggandeng keduanya di sisi kiri dan kanannya, lalu mengajak mereka masuk.
Ada yang mereka lupakan setelah datang di mansion itu, yaitu asisten Kemal yang sudah tidak mereka pedulikan.
"Nasib jadi bawahan ya, ga pernah dihiraukan kehadirannya. " celetuk Kemal yang sedari tadi menyaksikan kekonyolan mama Aylin.
__ADS_1
"Eh, kamu masih di sini? aku kira sudah pergi. " kata Erhan menggoda sahabatnya itu.
"Huh... " asisten kemal mendengus kesal.
"Udah, ga usah merajuk. Ayo sini gabung sama kita, kita makan siang dulu. " Mama aylin menghentikan perdebatan keduanya sebelum mereka berdebat.
"Ma... bolehkah Nisa membersihkan diri dulu? " akhirnya Nisa angkat bicara.
"Kamu mau mandi dulu? " tanya mama Aylin.
Nisa mengangguk.
"Nisa kalau habis keluar, pulangngs harus mandi dulu ma sebelum melakukan hal lainnya, karena itu sudah menjadi kebiasaannya. Itu yang dipesankan ibu kepadaku. " kata Erhan menjelaskan kebiasaan Nisa itu.
"Oh, jadi begitu... ya, sudah kamu bersih-bersih tubuh dulu. Erhan, kau bawa istrimu ke kamar. " perintah mama Aylin.
Nisa dan Erhan pun segera bergegas pergi ke kamar nya. Sebuah kamar yang terletak di lantai dua hanya ada dua kamar di lantai dua itu.
"Ayo masuk, Erhan membuka kamarnya. Dan tercium bau maskulin khas seorang pria disana.
Kamar yang sangat luas, seluas rumah Nisa di Indonesia. Ada tempat tidur king size juga di sana.Nisa hanya bisa menahan napasnya sesaat, setelah melihat penampakan kamar Erhan.
" Itu kamar mandinya, " Erhan menunjukkan letak kamar mandi.
"Bajuku.. " pekik Nisa yang lupa tidak membawa baju ganti nya.
"Ah... ayo ikut aku". Nisa mengikuti Erhan ke sebuah ruangan, yang tenyata walk-in closet. Erhan membuka salah satu lemari yang tenyata isinya pakaian muslimah untuk Nisa.
" Ini... untukku? " tanya Nisa tak percaya.
Erhan mengangguk. "Aku meminta mama membelikanmu beberapa pakaian ganti, semoga kau suka. " ujar Erhan.
Nisa kemudian berhambur memeluk Erhan.
"Entah kebaikan apa yang pernah aku lakukan dulu, sehingga Allah memberikanku suami yang sangat luar biasa. " Nisa selalu menikmati rasa setiap kali memeluk suaminya itu. Menikmati aroma yang selalu membuatnya candu.
"Aku yang beruntung karena telah menemukanmu, Nisa. "
__ADS_1
Bersambung,
Terimakasih sudah membaca.