Jodohkah Kita(Mungkin)

Jodohkah Kita(Mungkin)
prolog


__ADS_3

“ah ... menyebalkan” Hujan sepertinya enggan berhenti sore ini,


sehingga membuat seorang gadis yang sejak tadi terus menggerutu tak juga beranjak dari duduknya di sudut ruangan yang memang langsung berhadapan dengan jendela kaca,


tak jarang matanya menatap keluar untuk memperhatikan hujan,


dia adalah Diah Wulandari siswi SMA di desa yang terpencil di jawa timur, di kota kelahiran pahlawan proklamator kita Blitar


“Diah ....., piye nggak muleh to?” tampak seorang teman menghampiri Diah yang termenung di sudut aula


“aku nggak bawa mantel” jawab Diah pelan sambil memperhatikan air hujan yang masih terus menetes


“yo wes ra po po, nebeng aku aja!” anak cowok dengan rambut yang sedikit bergelombang itu menawarkan tumpangan pada Diah karena memang rumah mereka bersebelahan,


mereka berteman sejak kecil, tapi nasib Anwar lebih baik karena dia adalah putra dari tuan tanah di desanya,


jadi sudah pasti hidupnya berkecukupan, berbeda dengan Diah dia hanya seorang anak buruh tani, karena tak punya sawah sendiri untuk di garap, jadi bapaknya biasa menggarap sawah milik keluarga Anwar.


Keluarga mereka memang sangat dekat, mereka sudah seperti kerabat dekat, sering kali keluarga Anwar yang mengulur tangannya untuk membantu keluarga Diah,


tapi tak jarang keluarga Diah enggan menerima bantuan karena tidak mau terlalu berhutang budi pada keluarga anwar


“nggak usah lah aku nunggu hujannya reda saja !” Diah masih mencoba menolaknya,

__ADS_1


“ini wes sore lo, nanti ibukmu cemas lo!” setelah terlihat berfikir sebentar


“baiklah, ayo ...!”


Diah beranjak dari duduknya disambut senyum lega oleh Anwar ,


mereka pun berjalan beriringan menuju ke parkiran tempak anwar memarkirkan motornya,


langkah mereka terhenti di samping motor metik warna putih milik Anwar, biasanya Diah lebih suka naik angkot sampai di jalan utama,


dan akan jalan kaki menuju rumahnya kira-kira 5 km lagi, tapi dia juga lebih sering di bonceng oleh Anwar,


apa lagi jika berangkat sekolah, mereka selalu berboncengan, karena orang tua Anwar selalu memaksanya untuk berangkat bareng.


“tasnya saja lah yang aku masukkan, sepatunya biara aku pakai saja, sini tasmu sekalian!” Diah mengambil alih tas kresek dan memasukkan tasnya ke dalamnya dan kini dia juga meraih tas milik Anwar


**********************


Di rumah Diah


“pak udan e kok nggak terang-terang yo ...!” tapak bu kasih ibunya Diah mondar mandir di depan pintu


“duduklah buk, Diah pasti masih ngiyup, nggak usah khawatir!” saut bapaknya Diah,

__ADS_1


pak Darman yang sedang duduk di ruang tamu yang luasnya kura-kira hanya 4x3m itu dengan kursi rotan dan meja jadulnya, dan di atasnya ada secangkir kopi yang di temani singkong rebus di dalam piring.


“bapak ini gimana, ini sudah sore pak, wes mau magrib, tapi Diah belum juga pulang!”


Tak berapa lama tampak motor Anwar berhenti di tepi jalan


“alhamdulillah ...!” bu kasih tampak lega melihat Diah bersama Anwar sudah pulang


“maaf ya buk, kami terlambat pulangnya!” Anwar ikut turun dan mencium punggung tangan bu Kasih bergantian dengan Diah


“nggak pa- pa nak, ibuk seneng kamu bareng sama Diah, ibuk sudah khawatir, makasih ya, kamu masuk dulu biar ibuk buatkan teh anget!”


“nggak usah buk, aku langsung pulang saja, bajuku basah, nanti saja kesini lagi!”


Sebelum Anwar melangkahkan kakinya untuk menuju motornya langkahnya terhenti oleh suara pak Darman


“nggak masuk dulu, ini ada singkong rebus kesukaanmu lo!” bak Darman dari dalam ikut menyahut


“nanti saja pak, saya pulang dulu”


“makasih ya ...!” Diah ikut bicara dan melambaikan tangan pada Anwar


“iya”

__ADS_1


Diah pun segera masuk ke dalam rumah dan masuk ke dalam kamar mandi setelah melepas sepatu basahnya dan menaruh tas kreseknya


__ADS_2