
“ini benar-benar pengalaman yang luar biasa buk, saya senang bisa berada di keluarga ini”
ucap Adrian masih dengan menyeruput kopi panas di tangannya
"Íbuk ikut seneng kalau nak Adrian betah di sini, nanti kalau sudah jadi keluarga kan nggak sulit untuk adaptasi”
mendengarkan perkataan ibuknya Diah langsung tersedak
“ibuk ngomong opo sih buk, pak Adrian kan Cuma berlibur saja, iya kan pak ?”
tapi ternyata yang di tanya Cuma tersenyum simpul
“bapak kok nggak kelihatan dimana buk?” Adrian malah mengalihkan pembicaraan
“la itu bapak di belakang” jawab buk Kasih
“ya sudah buk, saya ke bapak dulu” Adrian pun berdiri dan melangkah menuju halaman belakang yang sudah mulai terang,
matahari pagi sudah menyingsing, hawa segar mulai di rasakan Adrian, hawa yang berbeda dengan hawa yang biasa iya hirup di kota
“bapak sedang apa?”Adrian menghampiri pak Darman
“eh nak Adrian, iki lo, bapak sedang ngasih makan ayam” pak Darman tampak membawa sebaskom jagung
“ayamnya banyak ya pak” Adrian pin mendekati ayam ayam yang sedang mengerumuni kaki pak Darman
“nggak ..., ini Cuma beberapa ekor saja buat sampingan”
__ADS_1
“wah bapak juga punya kambing?” tanya Adrian saat matanya sanpa sengaja menangkap ada kandang kambing di pojok halaman belakang
“iya, bapak bingun jika nggak ada peliharaan, habis bekerja di sawah lontang lantung, kalau ada peliharaan kan kalau sore bapak bisa pergi ngarit, cari makan kambing”
Jelas bapak panjang lebar, hingga tanpa terasa perbincangan mereka pun semakin hangat,
tampa terasa sudah jam 6.30 dan makanan pun telah siap, Diah pun memanggil bapak dan Adrian untuk sarapan karena sebentar lagi bapak akan berangkat ke sawah
“maaf ya nak, makanannya Cuma seadanya, makanan kampung” ucap buk Kasih,
karena ia hanya bisa memasak ala kadarnya, orang-orang kampung tidak biasa membeli sayur di pasar, mereka lebih suka memanfaatkan lahan untuk menanam sayur sendiri,
paling paling mereka hanya akan beli lauknya saja, telur, tempe atau tahu,
jarang-jarang mereka membeli ayam, karena bagi mereka memakan ayam setiap hari itu pemborosan,
karena letak rumah yang berada di pegunungan jauh dari wilayah laut
Di meja makan itu hanya tersaji nasi putih, nasih jagung , sayur rebung, ikan asin, petai, tempe goreng sangat jauh dari kata mewah
“nggak pa pa kok buk, saya suka, pasti saya akan terbiasa dengan makanan ini” jawab Adrian santai sambil melirik kearah Diah,
Diah yang merasa di lirik menjadi salah tingkah pipinya langsung memerah malu
“menang pak Adrian mau tinggal di sini berapa lama sih , aneh “ batin Diah sambil menyuapkan makanannya ke mulutnya sendiri
Acara sarapan pun berakhir, Diah segera membersihkan piring kotor, pak Darman langsung berangkat ke sawah
__ADS_1
Saat sedang bersih-bersih, tiba-tiba buk Kasih menghampiri Diah
“nduk ...”
“iya buk, wonten nopo (ada apa)?”
“kamu sudah tahu belum kalau pak Antok sakit?”
“hah ..., sakit apa buk”
“pak antok strok , nggak bisa jalan, kamu nggak njenguk?”
“ya udah buk kalau gitu nanti aku mau njenguk setelah bersih-bersih”
Adrian yang mendengarkan pembicaraan ibu dan anak itu segera mendekat
“saya ikut ya?”
“mau ngapain bapak ikut?” tanya Diah heran
“ya mau jenguk , kata ibuk ada yang sakit, iya kan buk, jadi sebagai tetangga yang baik ya harus menjenguknya?” Adrian meminta persetujuan pada buk Kasih
"memang tetangga siapa?" batin Diah heran dengan sikap bosnya akhir akhir ini
“iyo nduk, nggak pa pa kalau nak Adrian ikut”
“ih ..., kenapa sekarang jadi yang di utamakan pak Adrian terus” gerutu Diah,
__ADS_1
Adrian yang melihat ekspresi wajah Diah yang menurutnya sangat lucu saat sedang kesal, membuatnya tak henti-henti menjahili gadis itu sepanjang bersih bersih rumah