Jodohkah Kita(Mungkin)

Jodohkah Kita(Mungkin)
waktu bagai pedang


__ADS_3

Waktu pun terus berputar, siapa pun orangnya tak bisa menghentikan laju waktu, benar kata pepatah waktu itu bagaikan pedang yang tajam apabila tidak bisa mempergunakan waktu dengan tepat maka waktu itu akan menikam kita.


Tapi tidak dengan Anwar, sesampai di bandung ia tinggal bersama kerabatnya untuk sementara sebelum masuk asrama kampus, ia mengambil jurusan kedokteran, karena prestasinya tak menyulitkannya untuk masuk ke universitas ternama di bandung


Selain itu pamannya juga seorang dokter yang berpengaruh di bandung juga merangkap sebagai dosen di universitasnya, soal biaya jelas tidak masalah bagi keluarga Anwar, setiap minggu orang tuanya selalu mengirimkan uang, tugas Anwar hanya belajar dan belajar


Di sisi Diah , di bulan-bulan pertama Diah membantu orang tuanya mengurus sawah- sawah tetangga sambil menunggu informasi pekerjaan, tak butuh waktu lama kira-kira hanya dua bulan menganggur di rumah, salah satu temannya menawari pekerjaan untuk menjadi pegawai toko di daerah surabaya, akhirnya Diah berangkat ke Surabaya untuk mengadu nasib


Tak butuh waktu lama , karena Diah anaknya supel dan mudah bergaul, jadi banyak teman yang suka begitu juga dengan bosnya Mira (Amira Skolastika) usia 29 tahun sudah bersuami dan memiliki satu orang putra, dia adalah pemilik tunggal toko yang sudah di rintis dengan enam karyawan salah satunya Diah, 2 cowok dan 4 cewek, di sana ada Rendi, Dito, Ana, Wulan, dan Ratih. Semua sudah menikah kecuali Diah pastinya.


“Di..., bantu aku angkat kardus ya” teriak Dito dari teras toko


“baik mas ...” Diah pun dengan sigapnya berlari ke luar menghampiri Dito dan Rendi, kebetulan hari itu barang datang, jadi karyawan toko sangat sibuk

__ADS_1


“mana mas yang harus Diah angkat?”


“kamu angkat yang ini saja, isinya Cuma makanan ringan, jadi tidak terlalu berat” Dito sambil menunjuk setumpuk kardus yang ukurannya tidak terlalu besar


“siap mas” sambil menunjukkan sikap tegak dengan tangan di atas seperti orang yang sedang memberi hormat dengan senyum lengkungnya di tambah lesung pipi di pipi cubbynya menambah kesan imut pada Diah


“senyum mu itu bikin klepek-klepek Di.... “


“ah mas Rendi bisa aja ....” kini rona merah di pipi Diah semakin membuat indah menggemaskan


Bagaimana tidak di kampung setiap harinya Diah pergi ke sawah sehingga kulitnya terpapar sinar matahari seharian dari pagi hingga sore


“Diah bagaimana kamu betah kan kerja di sini?” saat Diah sedang duduk menyelonjorkan kakinya di sudut ruangan saat toko hendak tutup, tiba-tiba Mira ikut duduk di sampingnya

__ADS_1


“eh..., mbah Mira, aku betah kok di sini mbah, semuanya baik sama Diah mbak”


“untung lah..., kamu jangan merasa minder karena kamu paling muda ya”


“enggak kok mbah, aku senang”


“kamu nggak kepengen melanjutkan pendidikan?”


“pengen sih mbak, ini masih ngumpul kan uang mbak, doakan saja mbah”


“aku pasti akan selalu mendukungmu, semangat ya ...”


“terima kasih mbak”

__ADS_1


Perhatian-perhatian kecil itu lah yang membuat Diah semakin betah untuk bekerja , semuanya memperlakukan Diah seperti adiknya sendiri, Diah tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang


__ADS_2