Jodohkah Kita(Mungkin)

Jodohkah Kita(Mungkin)
secangkir kopi


__ADS_3

“kenapa kau malah tertawa, memang ada yang lucu?” wajah Adrian tampak polos dengan penuh tanda tanya


“wajah bapak yang lucu” Diah pun masih terus tertawa


“sini biar aku tunjukkan pak” Diah pun segera menarik tangan Adrian kedalam kamar mandi,


kamar mandi itu walaupun kecil tapi tetap tampak bersih, dengan keramik putih yang menempel di dinding kamar mandi


“bapak tahu ini apa namanya” Diah pun sambil mengambil sebuah gayung di tangannya


“?????” Adrian kembali menampakkan wajah bingungnya


“ini namanya gayung pak, jadi nanti gayung ini buat ambil air terus di guyurkan ke badan, begini caranya pak “


Diah pun sambil mempraktekkan cara mengambil air dari bak mandi,


dan langkah selanjutnya saat akan mengguyurkan air ke bosnya tiba-tiba tangannya terhenti dengan kedatangan bapak dan ibuknya


“Diah ..., nak Adrian ..., apa yang kalian lakukan berduaan di dalam kamar mandi?” sontak membuat Adrian dan Diah terkejut


“ng-nggak ...., nggak ada apa-apa pak buk, biar Diah jelasin buk pak” Diah terlihat begitu gugup

__ADS_1


“opo?” tanya Pak Darman


“iki lo pak, pak Adrian nggak bisa mandi nggae gayung, jadi Diah ajari pak, buk”


“oh ..., ngono ...” bapak dan ibuk Diah bersamaan, tapi kemudian mereka tertawa berbarengan juga


“yo wes, ayo bantu ibuk masak”


buk Kasih pun segera menarik tangan Diah sedang bapak kembali ke halaman belakang untuk memberi makan ayam,


Adrian yang sudah tahu cara mandinya kini menikmati pengalaman mandi pertamanya pakek gayung, biasanya di rumahnya ia selalu manji pakek shower atau berendam di bahtup kini harus mandi pakek gayung


Mungkin setelah ini Adrian akan di suguhi dengan hal-hal yang berbeda dengan yang biasanya ia lakukan di kota, karena jelas berbeda kehidupan kota dan desa, bagai bumi dan langit, kejauhan nggak ya


setelah selesai dengan kegiatan pribadinya ia segera menuju dapur,


matanya terbelalak saat melihat dapur Diah, walaupun kini keadaan dapur Diah tak separah seperti saat di tinggalkan Diah 6 tahun yang lalu,


tapi tetaplah berbeda jika di bandingkan dengan dapur rumah Adrian


Walaupun sekarang dapur Diah sudah memiliki kompor gas, tapi orang tua Diah tetap suka menggunakan tungku untuk memasak

__ADS_1


apalagi di suasana pagi seperti ini, sangat hangat berada di depan tungku sambil menikmati secangkir kopi panas karena udara di sini cukup dingin


“nak Adrian sini, api-api ...” bu kasih pun segera memanggil saat melihat Adrian berdiri di depan pintu memperhatikan buk kasih dan Diah yang sedang memasak


, buk Kasih memanggilnya, dan menyuruhnya untuk duduk di bangku kecil di depan tungku tradisional


"Iya buk” Adrian pun menuruti buk Kasih dan duduk di depan perapian,


rasa hangat segera menjalar di tubuhnya, rasa dingin yang tadi di rasakan perlahan menghilang,


Adrian tampak mendekatkan kedua tangannya ke mulut tungku supaya lebih hangat


“ini pak kopinya”tiba-tiba Diah mendekat dengan membawa secangkir kopi yang di berikan kepada Adrian


“supaya lebih hangat pak” lanjut Diah dengan senyum manisnya khas gadis desa yang natural


“terimakasih” Adrian pun menerimanya dengan senyum lembutnya


“ini benar-benar nikmat ....” ucap Adrian saat satu tegukan kopi telah menjalar di tenggorokannya, rasa hangat dengan keluarga yang hangat pula


“nak Adrian betah di sini?” saat melihat ekspresi bahagia dari Adrian membuat buk Kasih heran

__ADS_1


“ini benar-benar pengalaman yang luar biasa buk, saya senang bisa berada di keluarga ini”


__ADS_2