Jodohkah Kita(Mungkin)

Jodohkah Kita(Mungkin)
mas /adek


__ADS_3

Setelah mengganti bajunya dengan baju sehari hari, Diah pun merebahkan tubuhnya di atas kasur sponnya, rasa lelahnya terasa menguap berganti dengan kenyamanan akibat kasur spon empuknya, Diah pun memejamkan matanya


10 menit kemudian, kemudian ia teringat sesuatu, sebenarnya matanya sudah enggan untuk terbuka lagi


“astagaaaaa ...” diah pun segera beranjak dari tempat tidur dan berlari menuju ke pintu dan membuka kunci kamar, ia mencari keberadaan seseorang


dan ternyata yang di carinya sedang menyenderkan kepalanya dan memejamkan matanya di kursi ruang tamu


saat menyadari kedatangan Diah, Adrian pun memicingkan sebelah matanya


“akhirnya kau ingat juga “ Adrian tampak membuka matanya setelah menyadari kedatangan Diah


“maaf ...” Diah sungguh merasa bersalah


“sekarang apakah aku boleh masuk ke dalam kamar?” tanya Adrian dan di sambut anggukan oleh Diah


“ah ..., aku benar-benar lelah ...” Adrian tampak meregangkan otot- ototnya dan beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar diah, saat sampai di depan pintu, ia menghentikan langkahnya


“apa kau akan tetap berdiri di situ?” Adrian menanyai Diah yang masih berdiri terbengong di tempatnya


“hah ... i iya ...” Diah pun tersadar dan segera mengikuti suaminya


Akhirnya mereka masuk ke dalam kamar, kamar yang luasnya hanya 3 x2 meter, masih lebih luas kamar mandi Adrian di kota, tapi kini tempat tidur itu sudah di beri dipan, entah sejak kapan dipan itu ada di kamarnya


Adrian pun duduk di sudut tempat tidur, tapi Diah masih saja enggan berpindah dari tempatnya berdiri, ia masih berada di depan pintu yang sudah tertutup, Diah bingung harus melakukan apa, ini untuk pertama kalinya ia harus berbagi kamar dengan seorang laki-laki


“aku capek sekali, aku mau mandi dulu, apakah kau bisa menyiapkan bajuku?” suara Adrian lagi-lagi menyadarkan Diah dari dunianya sendiri

__ADS_1


“e ..., apa ..., iya, aku siapkan” Diah pun mendekat ke tempat tidur dan mengambil satu setel baju santai untuk Adrian dan tak lupa dalamannya juga, juga sebuah handuk dan alat mandi


“duduklah ...” setelah menyiapkan semuanya, Adrian menyuruh Diah untuk duduk di sampingnya dan Diah pun menurut saja seperti dalam pengaruh hipnotis


“kau baik-baik saja?” tanya Adrian karena melihat Diah yang menjadi pendiam


“iya, aku baik pak” Diah berusaha menyembunyikan kegugupannya


“kau bahagia?” Adrian jadi berfikir mungkinkah jika istrinya begitu terpaksa menikah dengannya


“maksud bapak?” Diah yang mendapat pertanyaan seperti itu sedikit merasa bersalah


“sudah ku bilang jangan panggil aku bapak, aku terlihat seperti om om yang sedang merayu seorang gadis saja, panggil aku dengan sebutan lain”


“bagaimana?”


“misalnya?”


“kau ini ya memang tak bisa di tebak, sebentar cerewet sebentar pendiam”


“aku bukannya pendiam pak, tapi aku sedang gugup, ini pertama kalinya aku harus berbagi kamar dengan laki-laki”


“sudah ku bilang jangan panggil aku pak, please ...”


“ya sudah beri aku petunjuk”


“ ya sudah panggil aku sayang”

__ADS_1


“mana bisa?”


“memang sesulit itu ya?” Adrian kini semakin terlihat frustasi


“ya, aku belum terbiasa”


“makanya di biasakan”


“gimana kalau aku panggilnya mas aja?”


“tersrah kamu lah ..., asal jangan pak, ya udah aku mandi dulu ya ... adek” Adrian akhirnya beranjak dari duduknya sambil membawa handuk, tapi belum sampai membuka pintu, Diah sudah memanggilnya lagi


“mas ...”


“iya ..., ada apa adek sayang, kau sudah mulai merindukanku?” kata-kata Adrian berhasil membuat diah memutar bola matanya kesal


“dasar narsis ....” batin Diah


“kenapa Cuma bawa handuk?”


“kan aku mau mandi adek sayang”


“tapi kamar mandinya harus keluar kamar, jadi kamu harus membawa serta ini” Diah pun sambil menyerahkan baju yang telah di siapkan tadi


“ternyata kau sekarang sudah mulai posesif ya ,hingga kau tidak mau tubuhku di nikmati orang lain ya”


“cih ..., kau menyebalkan sekali, kau jangan lupa di sini ada Ajeng, aku nggak mau kamu mengotori mata suci adikku”

__ADS_1


“baiklah sayang ...”


__ADS_2