Jodohkah Kita(Mungkin)

Jodohkah Kita(Mungkin)
nilai plus


__ADS_3

Pagi ini di rumah pk Darman


Seperti biasa mereka memulai paginya dengan aktifitas-aktifitas sederhana, walaupun belum terlalu terbiasa Adrian ikut berbaur dengan kegiatan mereka, dan pagi ini juga Ajeng akan segera kembali ke pendidikannya, karena ia tidak mengambil libur lama


Setelah selesai sarapan, Adrian nampak sudah memakai baju santai, tapi sayang apapun yang iya kenakan selalu terlihat fasioneable, dia duduk di kursi ruang tamu saat melihat Ajeng keluar dari kamarnya dengan menenteng tas ranselnya hendak berangkat


“Ajeng biar mas antar saja ya sampai ke halte” Adrian menawarkan diri


“wah beneran mas, mau deh ...” Ajeng yang mendapat tawaran untuk di beri tumpangan tersenyum bahagia, karena untuk sampai ke halte bus ia harus mencari ojek dulu


Adrian pun beranjak dari duduknya menuju ke kamar mengambil kunci mobilnya, setelah kunci mobil berada di tangannya, ia kembali menghampiri Ajeng yang sudah bersama dengan Diah dan kedua orang tuanya


“ya sudah ayo berangkat”


“ayo mas..., bapak ibuk , mbak Ajeng berangkat dulu ya ...” Ajeng pun segera menghampiri bapak , ibuk dan Diah hendak bersalaman untuk berpamitan


“iyo nduk, ati-ati ..., ra usah neko neko neng paran, sinau seng temen” Ibu Kasih yang lebih dulu memberi wejangan saat ajeng mencium punggung tangannya


“nggeh buk” setelah selesai dengan ibuknya, kini Ajeng bergantian menghampiri Diah, dan hal yang sama di lakukan kepada Diah,

__ADS_1


“dek jangan pacaran saja di sana belajar yang rajin” kali ini Diah bukan Cuma mengulurkan tangan, tapi juga memeluk adiknya itu dengan penuh kasih sayang


“iya mbak, mbak juga, segera kasih Ajeng keponakan yang lucu” mendengar jawaban Ajeng, wajah Diah langsung tersipu malu, memerah , di ikuti tawa semua yang ada di situ


“kamu itu apaan sih dek” Diah mencoba mengalihkan pembicaraan untuk menutupi rasa malunya


“yo wes nduk, gek budal ngko ketinggalan bis lo” kini Ajeng berpindah ke bapaknya, Ajeng mencium punggung tangan bapaknya


“inggih pak, Assalamualaikum” setelah selesai acara pamitannya, Ajeng pun segera berlalu dari ruangan menuju ke mobil


“waalaikum salam” bapak , ibuk dan Diah bersamaan menjawab salam dari Ajeng


“iya hati-hati” Diah merasa sangat senang karena bos yang kini telah jadi suaminya itu begitu memperhatikannya


Cup


Sebuah ciuman mendarat di kening Diah, membuat rona merah di pipi Diah, hatinya begitu berbunga-bunga


"aku pergi, jangan merindukanmu ya" bisik Adrian di telinga Diah hingga nafasnya terasa di daun telinganya, membuat Diah lagi lagi jantungnya tak karuan kayak mau copot

__ADS_1


Akhirnya mereka pun berangkat, di sepanjang jalan di dalam mobil mereka tak hentinya berbicara, saling menanyakan banyak hal, walaupun pertemuan pendek itu, mereka sudah cukup dekat sebagai kakak ipar dan adik ipar


“mas Adri, boleeh nggak aku tanya serius?”


“tanya saja ..., aku senang kamu mau bertanya banyak hal dariku, itu artinya kamu menerimaku sebagai kakakmu”


“mas Adri kenapa bisa suka sama mbak Diah?”


“memang ada yang aneh?”


“kan mas Adri itu bos, ganteng, kaya, pasti banyak sekali cewek yang mengejar-ngejar mas Adri, kok malah mas Adri menikahi mbak Diah yang Cuma asisten mas dan jelasnya orang kampung”


“ya mungkin semua orang yang bertemu denganku menganggap ku tampan, tapi terkecuali Mbak mu”


“maksudnya?” Ajeng berusaha mencerna kata kata kakak iparnya


“aku sedikit meralat pertanyaanmu ya, aku bukan Cuma suka tapi cinta, entah sejak kapan, tapi aku cinta dengan apa yang ada di diri Mbak mu, semuanya”


“walaupun mas Adri tahu kalau mbak Diah itu ceroboh, bawel, cerewet?”

__ADS_1


“ya ..., mungkin itulah nilai unggulnya hahaha”


__ADS_2