
Setelah selesai paking bajunya sendiri, Diah segera menuju ke kamar bosnya, tapi kali ini dengan perasaan ragu karena pikirannya masih di penuhi dengan perkataan Adrian tadi siang
Tok tok tok
Diah pun akhirnya mengetuk pintu kamar Adrian
“masuk” Adrian menyahut dari dalam kamar
Setelah mendapat sahutan dari dalam, Diah pun dengan penuh keraguan membuka pintu
, tampak Adrian sedang duduk di sofa sambil memperhatikan map di tanganya
“ada apa Di ...?” tanya Adrian sambil menaruh mapnya di atas meja
“kok Di ...?” tanya Diah heran, tak biasanya bosnya itu memanggilnya Di, biasanya Wu atau Lan
“kayaknya aku berubah fikiran, soalnya panggilan Dii ..., itu lebih manis ...” Adrian pun sambil menunjukkan senyum simpulnya
Blussss
Wajah Diah seketika memerah karena malu, Adrian yang melihat perubahan wajah Diah malah tersenyum simpul, Adrian yang blesteran Asia Eropa itu memiliki wajah yang kebule\-bulean terlihat begitu menawan saat tersenyum
“pak aku mau menyiapkan keperluan bapak buat besok” tanpa menunggu jawaban dari Adrian, Diah dengan cekatanya mengambil koper kecil di pojok ruangan, dan memasukkan beberapa baju dan barang\-barang pribadi Adrian, Adrian hanya bisa mengamati gerak gerik Diah
“sudah selesai ..., aku sudah memasukkan obat\-obatan, berkas\-berkas yang di perlukan di dalam sini, apa masih ada yang kurang?,”
“dia sudah kayak istriku aja ...” gumam Adrian lirih tapi masih bisa di dengar oleh Diah
__ADS_1
“apa pak ...?” Diah pun mencoba mencari jawaban atas perkataan spontan bosnya
“apa Di ....?????” tapi dasar Adrian suka jahil, dia malah membuat alibi balik bertanya
“tadi kayaknya aku denger bapak ngomong sesuatu deh” Diah masih ingin tahu apa benar yang di dengar tadi
“jangan panggil bapak, emang aku bapak kamu” Adrian merasa sangat tidak suka dengan panggilan Diah terhadapnya
“trus panggil apa dong pak?” Diah pun sebenarnya tak ambil pusing dengan panggilan itu
“gimana kalau kamu panggil aku Adrian”
“ya sudah terserah kamu saja asal jangan bapak, kesannya aku tua sekali”
“biasanya juga nggak protes, dasar bawel” guman Diah lirih
“kamu ngomong apa?”
“nggak ngomong kok pak, ya udah aku panggil mas aja ya”
“mas ...., bagus juga ...” Adrian mengulang panggilanya
“ya sudah saya permisi ke kamar dulu pak ,”
"kok pak lagi?" Adrian protes
"soalnya aku nggak suka panggilan itu, kayak sama suami aja" celoteh Diah supaya bosnya tidak protes lagi
“iya sudah terserah kamu saja” akhirnya Diah keluar dari kamar Adrian , setelah Diah keluar, Adrian terlihat senyuim senyum sendirir di dalam kamar sambil mengulang\-ulang panggilannya
__ADS_1
“mas ..., mas ...., mas..., manis juga, apalagi yang manggil Diah, sebentar lagi kamu pasti bakal panggil aku mas” tapi kemudian ia mengusap rambutnya kasar “ah ... apaan sih\-benar gila ...”
Pagi ini mereka berangkat ke surabaya, Dion pun juga ikut dengan mereka, setelah melakukan perjalanan pesawat mereka segera menuju ke rumah sakit tempak Mira melahirkan
Setelah mereka sampai di ruang perawatan, di depan ruangan itu sudah ada mama sama papanya Adrian
“ma, pa di mana kak Mira ...?” tanya Adrian pada mama dan papanya yang sedang duduk di ruang tunggu
“ada di dalam sama Bian, eh Dion, Diah , kalian juga ikut” begitu melihat yang bersama Adrian , mamanya Adrian pun tersenyum bahagia
“iya ma ..., soalnya di ajak sama kak Adri” jawab Dion sambil memeluk mama Adrian eraat dan bergantian dengan papanya Adrian juga, melihat kedekatan mereka Diah merasa sangat heran karena selama ini hubungan itu tak pernah tampak
“dasar kau ya anakk nakal mama, makanya kalau di suruh mama tinggal sama kakak kamu tuh nurut aja” ceramah mamanya
“iya ma marahi aja tuh anak, emang kurang ajar dia “ Adrian ikut memojokkan Dion
“sudah\-sudah, kalian mau tetap di sini apa mau lihat keponakan kalian” papa Adrian memotong perdebatan mereka
Akhirnya mereka bertiga pun masuk, karena keadaan Mira sudah baik, makanya boleh banyak orang masuk kecuali di jam istirahat,
“kak ...”
“kalian datang” kedatangan mereka di sambut senyum oleh Bian dan Mira, tampak Adrian dan Dion bergantian memeluk Bian
“mana jagoan cilikku kak?”
“ituh sama maminya ...” tampak Mira yang duduk di atas tempat tidur pasien sambil memangku bayinya, senyumnya semakin lebar saat melihat di antara mereka ada Diah
“Diah ...”
__ADS_1
“iya mbak , aku datang” Diah pun segera menghampiri Mira dan memeluknya