
“baiklah sayang ...” jawab Adrian sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda Diah
Adrian pun berlalu meninggalkan kamar menuju ke kamar mandi, setelah 15 menit akhirnya Adrian keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk di pundaknya, Adrian sudah terbiasa dengan kamar mandi Diah
setelah selesai mandi, Adrian segera menuju ke kamar Diah, saat ia masuk Diah malah berjalan akan keluar kamar
“kamu mau ke mana?”
“aku juga mau mandi, gerah” Diah sambil memegang kerah bajunya
“awas saja kalau kamu mencoba menghindari ku” Adrian menggunakan wajah mengancamnya bak bos pada karyawannya
“memang kenapa aku harus menghindari mu?”
“siapa tahu , takut aku makin cinta kalau deket kamu terus ...” Adrian pun mengambil sisir di meja dan menghadap ke cermin membelakangi Diah, entah ia menyadari atau tidak kini wajah Diah sudah seperti kepiting rebus
“memang sih, nggak tahu kenapa aku sekarang jadi gugup jika berada di hadapanmu” batin Diah
sambil berlalu dari kamarnya dan menuju ke kamar mandi
Malam ini nampak di kamar pengantin itu mendadak sepi seperti tak berpenghuni, mereka merasa canggung satu sama lain
Adrian nampak duduk menselonjorkan kakinya di ranjang sambil terus menatap layar ponselnya untuk mengecek pekerjaannya yang sudah di tinggal satu minggu ini
sedangkan Diah masih setia di depan meja dengan buku dan pulpen di tangannya
__ADS_1
Adrian yang merasa aneh dengan kegiatan Diah pun jadi penasaran
“sebenarnya apa sih yang kamu kerjakan?” Adrian merasa tidak tahan dengan kediaman mereka akhirnya angkat bicara
“hemmmm”
“memang itu jawaban? Sini duduk di sebelah ku ..”
“hahhhhh”
“tadi hemmmm sekarang hammmm, sini cepetan” Adrian pun menepuk ranjang di sampingnya,
Diah pun akhirnya menurut saja, Adrian segera menaruh pulpennya setelah Diah berada di sampingnya
karena tak segera mendapat jawaban akhirnya Adrian memandang wajah Diah, dia melihat wajah Diah yang menggemaskan saat malu
“sayang ...” Adrian mengulang panggilannya “kenapa wajahmu jadi seperti itu?”
“hahhhh ....”
“kenapa hahhh lagi, nggak ada kata lain gitu, misalnya kamu memuji suamimu yang tampan ini”
“suami...”
“kamu masih belum percaya kalau aku sekarang suamimu, mau bukti?”
__ADS_1
“bukan seperti itu”
“mau bukti?”
“hah ..., nggak...” Diah segera menjauhkan tubuhnya dari Adrian dan mengibas-ibaskan tangannya,
tapi jangan tanya kalau Adrian paling suka menggoda asisten yang kini jadi istrinya itu, Adrian malah semakin mendekatkan tubuhnya, hingga tanpa di sadari Diah kini sudah berada di ambang tempat tidur dan .....
“aaaaaa” Diah tergelincir ke belakang, tapi belum sampai mendarat tangannya sudah di raih terlebih dahulu oleh Adrian, bukanya jatuh ke bawah kini Diah malah jatuh ke pelukan suaminya,mata mereka saling bertemu, jantung mereka sama-sama berpacu
“ya Allah ..., kenapa ini jantung ... berhenti dong malu maluin aja” batin Diah
“kau benar-benar bisa membuatku jantungan, jantungku benar-benar bekerja lebih keras saat bersamamu” batin Adrian
“lepas mas ...., aku nggak bisa nafas” Diah mencoba melepaskan dari pelukan Adrian
“untung tanganku tepat waktu, aku lepaskan tapi jangan jauh dariku, gimana?” Diah pun membalas dengan anggukan, Adrian pun melepaskan pelukannya
“geser dudukmu”
“hehhh”
“kenapa sih kau suka sekali dengan kata-kata itu, hehhh, hehhh,hehhh” namun hanya di balas Diah dengan memutar bola matanya
“agar aku tidak bingung , mas Adrian hutang penjelasan padaku"
__ADS_1