Jodohkah Kita(Mungkin)

Jodohkah Kita(Mungkin)
lamaran diterima


__ADS_3

Sore ini, setelah selesai bersih bersih, pak Darman dan Adrian berbincang di teras rumah, mereka cepat akrab, bu Kasih juga menyuguhkan beberapa camilan tradisional yang bu kasih dan Diah buat, setelah selesai dengan pekerjaannya bu Kasih ikut duduk bersama


“mumpung semua lengkap, sebenarnya saya ingin mempertegas pernyataan saya tadi malam” Adrian tiba-tiba berkata serius di tengah perbincangan mereka


“baiklah nak biar saya panggil Diah” bu Kasih pun langsung kembali ke dalam rumah, beberapa saat kemudian kembali lagi bersama Diah


“sini nduk, nak Adrian mau bicara penting” Diah yang sedang melipat baju sambil nonton tv pun segera keluar


bapak memberi tempat untuk Diah duduk tepat di samping Adrian


“ada apa pak?” tanya Diah bingung


“duduk dulu ...” akhirnya Diah menurut perintah bapaknya


Adrian tampak menghela nafas sebelum membuka suara, ia berharap Diah tidak akan menyela sebelum pembicaraannya selesai, karena kini tak bisa di pungkiri dirinya begitu gugup


“Diah, aku akan menikahimu, dan aku harap kamu tidak akan menolak” diah yang mendengarkan pernyataan Adrian langsung melotot tak percaya


“apa-apaan ini, dia melamar apa mengancam ...., sungguh nggak romantis ..., ih aku ngomong apa sih” Batin Diah


"tapi tunggu deh, aku beneran nggak mimpi kan" Diah pun mencubit tangannya sendiri


augh


"sakit ...."

__ADS_1


melihat tingkah Diah yang dirasa sangat menggemaskan membuat Adrian tersenyum tipis


“bapak nggak pa pa kan, bapak sehat kan?” Diah malah mendekat ke Adrian dan menempelkan punggung tangannya ke kening Adrian,


“bapak nggak pa pa, bapak sehat, nggak demam” Diah menjawab sendiri pertanyaannya,


Adrian yang mendapatkan respon berbeda malah tertawa di ikuti oleh pak Darman dan bu Kasih


“kamu itu gimana sih nduk, di lamar kok malah kayak gitu” gelak pak Darman


“apa saya kurang serius?” Adrian kembali bertanya kini kembali dengan wajah serius, seperti wajahnya saat di depan bawahan dan lawan bisnisnya, benar-benar berwibawa


“bapak serius ...?” Diah masih tidak percaya dengan apa yang di dengar


“kalaupun kamu belum menerimaku, aku akan tetap berusaha sampai kau bisa menerimaku, Diah Wulandari”


“ngipi apa aku semalem, bisa di lamar bule!” oceh Diah


“dasar kau ya ..., mau apa nggak?” Adrian sudah nampak gregetan melihat tingkah Diah yang polos dan asal


“aku terserah bapak sama ibuk aja, kalau mereka merestui, aku mau apa” jawab Diah ambigu


“ok, bagaimana bapak, ibuk?” Adrian kembali menghadap bapak dan ibuk Diah


“ya kami setuju setuju saja , ya kan buk?” jawab pak Darman, sambil menoleh ke bu Kasih, bu Kasih pun mengangguk tanda setuju

__ADS_1


"ya udah kalau bapak sama ibuk setuju berati aku ya"


"yes yes yes ...." Adrian pun kegirangan hendak memeluk Diah, tapi baru merentangkan tangannya sudah terlebih dulu di tahan oleh pak Darman


"jangan dulu, belum sah ..."


“kapan nak rencananya?” tanya pak Darman


“dua hari lagi” mendengar pengakuan Adrian membuat semua mata melotot padanya


"bapak becanda ya ? memang mau beli cabe tinggal comot" gerutu Diah


“bagaimana bisa?” pak Darman nampak bingung


“jangan khawatir pak, saya sudah menyiapkan semuanya dari dua minggu yang lalu, saat kami masih di Jakarta, termasuk surat menyurat” jelas Adrian


“surat Diah, dua minggu lalu?” tanya Diah tak percaya


“ya, aku sudah berencana melamarmu saat sebelum acara wisuda itu, dan surat-surat kamu, aku sudah menyuruh orang untuk datang ke kantor urusan agama di sini untuk mengurus surat-surat”


Diah pun benar benar melongo tak percaya, dua minggu yang lalu, padahal dia masih nangis nangisan sama Anwar dan Adrian malah menyiapkan pernikahan


"wah aku rasa pak Adrian sudah mulai nggak waras nih ..." batin Diah


“jadi bapak sudah merencanakannya, bagaimana bapak seyakin ini?” tanya Diah yang masih belum percaya

__ADS_1


__ADS_2