Jodohkah Kita(Mungkin)

Jodohkah Kita(Mungkin)
senyamamnya dekat denganku


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan 30 menit akhirnya mobilnya berhenti di depan rumah mungil yang sepertinya baru selesai di renovasi,


walaupun rumahnya kecil tapi memiliki halaman yang cukup luas sehingga mudah untuk mobil masuk ke halaman


Adrian mematikan mesin mobil saat sudah menemukan lokasi yang tepat untuk memarkir mobilnya,


saat Adrian menoleh ke samping, ia mendapati Diah yang masih setia dengan tidur cantikan ya,


“dasar kebo ..., apa segitu nyamannya di dekatku hingga tak bangun-bangun”


Adrian bingun harus bagaimana, ia tidak mungkin langsung mengetuk pintu rumah kalau Diah tidak turun terlebih dahulu


ia juga merasa tidak tega membangunkannya


“ah baiklah aku turun dulu aja, dia urusan belakangan”


Adrian pun memutuskan turun dari mobil setelah pemikiran panjangnya,


tapi ternyata pak Darman sudah berdiri di depan pintu karena mendengar mobil masuk ke halamannya,


Pak Darman terus bertanya-tanya sebenarnya siapa yang tamu yang datang kerumahnya,


ia mengira kalau itu tamu pak Antok, karena sering kali tamu mereka titip parkir di halaman pak Darman karena halamannya luas


Adrian yang kepalang tanggung kepergok pk Darman, akhirnya mau tak mau segera menghampirinya


“assalamualaikum ...” Adrian mendekat kearah pak Darman


“waalaikum salam” pak Darman masih tampak bingung, siapa gerangan sore-sore bertamu ke rumahnya


“sore pak, kenalkan saya Adrian, apakah benar ini rumah pak Darman” Adrian pun sambil menyodorkan tangannya

__ADS_1


“ia ini saya sendiri, Adrian ...?” pak Darman mengingat-ingat, sepertinya tidak asing dengan nama itu


“syukurlah ,saya atasannya Diah pak”


“pak Adrian ya, dari jakarta ...?” pak Darman pun akhirnya berhasil mengingatnya karena Diah sering sekali menceritakan bosnya ini


“iya pak”


"ada apa pak, apa terjadi sesuatu pada Diah?" pak Darman merasa khawatir karena tak juga mendapati Diah di sekitar bosnya


"nggak pak, bapak nggak usah khawatir, Diah ada kok, tuh di mobil, dia masih tidur jadi saya nggak tega banguninnya"


Adrian pun menjelaskan sambil menunjuk ke arah Diah berada


"oh ...alhamdulillah, saya lega " pak Darman pun akhirnya lega


“duduk duduk ...” pak Darman mempersilahkan Adrian duduk di bangku teras


‘”opo to pak kok bengok-bengok (apa sih pak kok teriak-teriak)?” buk Kasih sambil keluar dari rumah


“iki lo(ini lo) buk ada bosnya Diah”


Buk kasih yang melihat pemuda di samping pak Darman terkejut, Adrian segera mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan buk Kasih


“trus dimana Diahnya?” karena tak menemukan Diah di antara mereka buk Kasih langsung menanyakannya


“Diah sedang tidur , buk di mobil, saya nggak tega banguninnya” Adrian menjelaskan pada ibunya Diah


“oh ...”


“ya udah buk, cepet buatkan minum, pasti nak Adrian sudah haus setelah perjalanan jauh” perintah Pak darman pada buk Kasih

__ADS_1


“iya pak” buk kasih pun kembali masuk kedalam rumah,


pak Darman dan Adrian asyik berbincang-bincang,


walaupun tak bisa lancar tapi pak Darman sedikit-sedikit bisa berbahasa Indonesia karena masih mudanya sering merantau


Kemudian buk kasih kembali dengan membawa nampan yang berisi dua cangkir kopi dan sepiring pisang goreng, yang kebetulan masih hangat


Di dalam mobil nampak Diah mulai menggeliatkan badannya, ia mengeryitkan matanya menyesuaikan cahaya lampu karena hari sudah sangat gelap, ia mengucek ucek matanya


“aku sepertinya kenal tempat ini?” ia melihat sekeliling


“mana pak Adrian?” karena mendapati bangku di sebelahnya kosong


“ini beneran sudah sampek rumah?” Diah kembali tak percaya, kemudian ia melihat kedepannya tepat di teras rumahnya,


di sana iya melihat bapak dan ibuknya sedang berbincang dengan Adrian, dan sesekali mereka terlihat tertawa saat ada yang lucu


“kanapa dia bisa seakrab itu sama bapak sama ibuk?” tak menunggu lama Diah pun segera turun dan menghampiri tiga orang itu


“bapak, ibuk ...” Diah pun mencium punggung tangan orang tuanya bergantian


“eh Diah, sudah bangun, saya kira mau tidur di mobil kamu” ledek Adrian


“apaan sih pak” Diah yang di ledek hanya bisa mrengut dengan bibir mengerucut sebal


“yo wes kamu masuk sana, makan..., karena kamu nggak bangun-bangun jadi kami tinggal makam dulu tadi” perintah ibuknya


“nggeh buk” Diah pun segera masuk dengan melirik kesal ke arah bosnya


Diah pun mandi kemudian mengisi perutnya dengan masakan ibunya yang sudah sangat dirindukan

__ADS_1


, setelah selesai dengan kegiataannya Diah kembali lagi menghampiri orang tua dan bosnya yang sudah berpindah ke ruang tamu karena malam semakin larut


__ADS_2