Jodohkah Kita(Mungkin)

Jodohkah Kita(Mungkin)
Manja


__ADS_3

deg deg deg


(kenapa jantung ini, apa aku mulai terkena serangan jantung ya, gara-gara selalu di jahili sama si bos ya)batin Wulan


(berhenti jantung ....., jangan keras-keras getarnya, jangan sampek si cupu ini tau ...) batin Adrian


(aku harus bangun, aku nggak kuat lama-lama seperti ini ...) batin Adrian kembali


Adrian pun mencoba bangun dari atas tubuh Wulan


“dasar ya kau , kenapa sih kalau aku dekat sama kamu selalu sial, ceroboh sekali” cerocos Adrian mencoba mengalihkan rasa gugupnya


“maaf pak nggak sengaja, lagian bapak sih suka ngagetin, kenapa suka banget datang tiba-tiba” Wulan balik menyalahkan bosnya


“ihhhhh....., kamu ya ...” Adrian dengan gemas menarik hidung Wulan hingga yang empunya kesakitan


“sakit ... pak” Wulan protes sambil memegangi hidungnya yang tampak merah


“oh iya pak, tadi bibik yang bersih-bersih kesini ...,” karena pagi pagi sekali bibik datang untuk bersih bersih


“memang udah tugasnya kesini setiap hari buat bersih-bersih” Adrian sudah tahu karena itu rutinitas pagi mereka di rumah besar ini, dan akan pulang jika pekerjaannya sudah selesai, mereka hanya tersisa beberapa penjaga diluar rumah


Ting tung ting tung ting tung ting tung

__ADS_1


Tiba-tiba bel rumah berbunyi, membuat obrolan mereka terhenti,


“kamu buka pintunya” perintah Adrian"aku mau minum dulu, haus" sambil membuka lemari pendingin di depannya


“baik pak “


Wulan pun segera menuju ke pintu utama,


dengan cekatan ia membuka pintu rumah dan tampak di depan pintu ada sepasang pria dan wanita paruh baya, tapi penampilannya masih terlihat muda dengan penampilan yang elegan, dan pria blesteran yang masih terlihat gagah dan tampan walaupun sudah tak muda


“Diah ya ...” wanita itu tiba-tiba memeluk Wulan dengan hangat


“i...ya ...”Wulan yang mendapat pelukan secara tiba-tiba dari orang yang belum ia kenal membuatnya begitu terkejut, menyadari keterkejutan Wulan, wanita itu segara melepaskan pelukannya


Tiba-tiba dari dalam Adrian muncul


“ma..., pa...” Adrian pun menghampiri mereka dan segera memeluk mereka bergantian, kini Wulan baru faham kalau mereka adalah orang tua Adrian


Setelah bertukar kabar, mereka pun segera masuk, kini Wulan bisa melihat sisi lain dari bosnya yang berwibawa itu, ternyata dia termasuk anak yang sangat manja


“kamu jangan kaget ya, ini lah Adrian sesungguhnya, dia itu anak manja lo” mama Adrian menjelaskan kepada Wulan


“mama nih apaan sih, buat Adri malu aja” protes Adrian tapi masih saja bergelayut di tangan mamanya

__ADS_1


“makanya mama sama papa pilih Diah jadi asistenmu itu alasannya ini, kamu itu nggak bisa apa-apanya sendiri, kalau dari luar aja terlihat garang ....”


“mulai kan mama ...”


“iya kan pa?” sambil menatap papa Adrian yang sedang fokus dengan layar ponselnya


“iya Adri ...., tapi papa juga suka kok kayak gitu, nggak masalah asalkan nggak mengurangi kewibawaan kita aja ...”


setelah berpamitan untuk membersihkan diri,


Wulan kini sudah tampak segar dengan penampilan yang lebih rapi


Wulan yang melihat kedekatan mereka, hatinya terasa menghangat, mengingatkannya pada keluarganya di kampung


(bapak, ibuk , Ajeng aku kangen ..., kamu pasti sekarang sudah besar ya dek, sudah semester berapa kuliahmu dek ...) batin Wulan


Setelah cukup lama bercengkerama, sesekali mereka mengajak bicara Wulan, canda kecil Wulan membuat suasana bertambah hangat, Adrian membimbing kedua orang tuanya ke meja makan


“wah ...., siapa yang masak ini ...” papa Adrian tampak kagum


“maaf tuan, saya hanya bisa masak masakan kampung” Wulan sudah tampak pias,


khawatir jika majikannya tidak menyukai masakan nasional, biasanya orang-orang kaya lebih suka masakan internasional, apalagi papanya Adrian adalah keturunan eropa, tampak dari warna mata dan tingginya yang di atas rata-rata orang asia serta kulitnya yang putih

__ADS_1


__ADS_2