
Saat mendengar mobil suaminya datang, Diah yang sedang duduk menonton televisi segera beranjak menyambutnya,
walaupun tidak tahu bagaimana perasaannya mungkin cinta akan tumbuh karena terbiasa, tapi setidaknya ia berusaha untuk menjadi istri yang baik.
Langkahnya terhenti di depan pintu saat melihat Anwar juga ikut turun dari mobil suaminya, setelah Anwar berpamitan kini Adrian mengambil barang belanjaannya di kursi belakang, senyumnya mengembang saat melihat istrinya sudah menyambut di depan pintu.
Diah segera menyambut tangan suaminya dan mencium punggung tangannya, Adrian pun tak mau kalah, dia segera mengecup puncak kepala istrinya, ada rasa bahagia yang tak bisa di gambarkan dari Adrian
“ini apa?” tanya Diah saat melihat dua kantong plastik besar di tangan suaminya
“ini, maaf tadi aku nggak bilang dulu sama kamu, aku tadi mampir ke minimarket untuk beli keperluan sehari-hari” Adrian merasa bersalah karena belanja tanpa memberi tahu istrinya
“kenapa harus minta maaf, aku malah yang harusnya aku minta maaf karena sudah merepotkan mu, seharusnya kamu nggak perlu repot-repot”
“aku nggak merasa di repot kan kok, oh iya, ini kamu terima ya ...” Adrian pun menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada Diah
“ini apa?” Diah merasa bingung karena tiba tiba Adrian memberinya uang
“ini pegang lah, aku tadi habis ambil uang cas, kamu kan sudah jadi tanggung jawabku, jadi sudah kewajiban ku kan memberikan nafkah”
__ADS_1
“tapi aku belum butuh ini, kamu simpan saja ya” Diah menyodorkan kembali uang itu
“aku mohon kamu terima ya, anggap saja ini nafkah pertama aku untukmu, kamu bebas belanjakan uang ini untuk apa saja, kalau tidak kamu terima berati kamu tidak menghargai aku sebagai suamimu”
“baiklah, aku terima ya ..., tapi ini tidak di potong dari gaji ku kan?” tanya Diah menggoda dengan senyum di bibirnya
“yah itu bisa di atur ....” jawab Adrian sambil memencet hidung istrinya
"auchhh...., sakit sayang" Adrian mengaduh karena Diah mencubit pinggangnya
"abisnya, suka sekali menggoda"
“ayo masuk, biar aku ambilkan minum” Diah yang sudah merona segera mendahului masuk ke dalam rumah dan menaruh barang-barang belanjaan di atas meja
“ibuk kemana?” Adrian yang merasa tidak melihat buk Kasih semenjak pulang
“ibuk ke rumah budhe Iin, budhe mengadakan aqiqah cucunya”
“oh ....” Adrian pun meneguk air putih yang di berikan istrinya
__ADS_1
“oh iya, boleh nggak aku tanya?” Diah sebenarnya merasa ragu dengan yang akan di tanyakan, ia takut juka suaminya akan marah
“tanyakan saja sayang ...” Adrian menekankan kata sayang, hal itu berhasil membuat Diah gelagapan sendiri karena salah tingkah
“kenapa wajahmu sayang?” Adrian kembali mengulang kata-katanya
“apaan sih nggak pa-pa ...” Diah berusaha mengalihkan pandangannya dari mata suaminya, ada getaran yang luar biasa saat menatap mata suaminya itu
“ya udah tadi katanya mau tanya, tanya apa?” ucap Adrian lembut penuh kasih sayang
“ih apaan sih aku ini, apa pun yang di lakukan mas Adrian bisa membuatku kalang kabut begini” batin Diah
“loh ... kok malah bengong” karena melihat Diah yang terdiam, membuat Adrian semakin penasaran
“em ...., begini ...” jawab Diah yang masih tertahan
“begini apa sayang ...” kembali Adrian bertanya dengan lembut
“aku bisa-bisa melayang kalau terus berdekatan dengannya, kendalikan dirimu wahai hati ...” batin Diah
__ADS_1
“tuh kan bengong lagi, segitunya ya kamu mengagumi wajahku yang tampah ini” Adrian pun kembali menyombongkan diri
“cih ..., mulai deh narsisnya, nggak jadi tanya deh” Ddiah pun langsung berdiri meninggalkan suaminya, dan tentu Adrian malah tersenyum puas karena berhasil menggoda istrinya