Jodohkah Kita(Mungkin)

Jodohkah Kita(Mungkin)
lagi-lagi adat


__ADS_3

Tak bisa di pungkiri jika status keluarga selalu di jadikan topik utama untuk menyatukan dua keluarga, apalagi Anwar dan Diah tinggal di Jawa yang syarak dengan berbagai adat istiadat .


Itulah yang menjadi pemikiran panjang Diah untuk menerima cinta Anwar, dia tidak mau karena keegoisannya akan membuat hubungan baik dua keluarga menjadi retak, apalagi keluarga Anwar sangatlah baik dengan keluarganya, memang tidak bisa di pungkiri jika kehidupan keluarganya sangat tergantung dengan keluarga Anwar


Diah tidak mau jika hidup keluarganya terus bergantung pada keluarga Anwar, tekatnya untuk maju mengalahkan perasaan cintanya pada Anwar


Di rumah Diah


Sore itu Diah memasak di dapur, lebih tepatnya memanasi masakan pagi tadi dan merebus air bersama sang ibu, yang di katakan dapur di sini bukanlah dapur dengan meja permanen yang di atasnya ada kompor gas, dan tempat cuci piring seperti kebanyakan rumah minimalis sekarang tapi lebih ke bilik bambu dengan satu tungku , orang jawa menyebutnya “luweng” yang dindingnya banbu yang di biarkan tidak di anyam, jadi lebih tampak seperti sebuah kandang ayam dengan perabotan seadanya, yaitu panci dan wajan yang sudah mulai menghitam di bagian bawahnya karena setiap hari terkena bara api


Bu Kasih tampak sedang berada di depan luweng dengan kayu bakar di tangannya, sedangkan Diah memotongi sayur yang akan di masak besok pagi supaya besok pagi tinggal memasaknya


“nduk....”

__ADS_1


“iya buk ....”


“ibuk lihat kamu tadi dengan Anwar “


“ibuk ....” wajah Diah sudah mulai pias, rasa bersalah muncul


“ibuk nggak marah, tepi eleng mduk ...” bu Kasih mulai mendekati Diah yang didik di bangku kecil


“maksud ibuk?”


(lagi-lagi adat ....., kenap?) batin Diah meronta


Setelah mendengar penjelasan dari ibunya, rasanya pupus sudah harapanya untuk memiliki hubungan lebih dengan Anwar, keluarga ataupun masyarakat di daerah mereka masih sangat mengedepankan adat, jadi nggak bisa asal soal perjodohan, ada ajalah aturannya, misalnya lagi tidak boleh jika arahnya ngalor ngulon, lompat kali besar, geyeng (wage-pahing), pincangan (salah satu keluarga ada yang tidak lengkap orang tuanya) dan masih banyak lagi aturan-aturan jawa yang harus di taati bagi yang masih mempercayai

__ADS_1


“enggak buk, Diah nggak nrima lamaran Anwar buk, Diah cukup tau siapa Diah ini buk”


“baguslah nduk, bukannya ibuk iki tidak suka sama Anwar, Anwar akan baik, tanti kalau kita sudah punya rejeki untuk cari rumah laen, kita pidah dari sini”


“makasih buk”


Di rumah Anwar


Anwar sudah bersiap untuk berangkat ke bandung, dia tidak bisa melawan orang tuanya, tapi walaupun tempat kuliah sudah di tentukan orang tuanya, tapi untungnya masalah jurusan tetap menjadi wewenang Anwar


Walaupun sangat berat, tapi apa boleh buat dia juga tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya, dia harapan satu-satunya kedua orang tuanya karena sebagai anak tunggal


“mungkin memang kita harus berpisah Di....” Anwar yang sudah selesai mengemas barang-barangnya duduk di sudut tempat tidur yang ukurannya tidak terlalu luas dengan wajah frustasinya

__ADS_1


“mudah-mudahan aku bisa jauh darimu, suatu saat nanti kita pasti bertemu kembali”


__ADS_2