
Lagi-lagi Adrian menggandeng tangan Diah tampa permisi, yang empunya tangan pun hanya bisa menatap penuh keheranan, jangan di tanya natapnya dari mana, yang jelas dari belakang lah ya, mana berani Diah natap dari depan
“pak kita mau apa?” Diah dengan keberanian penuh dan sambil jaga-jaga jika sewaktu-waktu bosnya berbalik dan menerkamnya,
he he he
bukan dalam arti sebenarnya lo ya, tau sendiri kan jika berhadapan dengan bos galak
Tapi lagi-lagi tak ada jawaban dari bosnya, tapi jangan khawatir kini Diah telah menemuka jawabannya,
Bruukkkk
Langkah Adrian yang berhenti tiba-tiba membuat Diah tak mampu mengerem laju kakinya , yah mau tak mau deh menabrak si pemilik punggung bidang
Auhg
“dasar ceroboh ...”
(siapa suruh berhenti mendadak) lagi-lagi dalam hati ya
__ADS_1
“maaf pak” Cuma itu deh keberanian Diah
“kita sudah sampai” ya mereka sudah berdiri di depan toko berisi pernak-pernik kerja cewek, Adrian lagi-lagi tampa permisi membawa Diah masuk ke dalam toko
“mbak....” tangan Adrian melambai ki pegawai toko, dan dengan cepat pegawai itu menghampiri Diah dan Adrian
“ada yang bisa saya bantu tuan?” tanya pengawai toko itu dengan sangat ramah dengan senyum yang mengembang
“carikan saya beberapa pasang baju kerja untuknya, sepatunya juga” Adrian pun sambil menyodorkan tubuh Diah ke pegawai toko
“mara mbak ikuti saya” Diah pun hanya bisa menurut, dia mengikuti pegawai toko yang sedang asyik memilihkan beberapa baju untuknya, dan mencocokkan dengan sepatunya, sedangkan Adrian duduk di sofa yang di sediakan toko, dengan matanya tak lepas memperhatikan layar hp, walaupun tak di kantor dia tetap bekerja melalui layar pipih di tangannya
Setelah selesai memilih beberapa baju dan memakai salah satu dari baju kerja yang di pilihkan Diah pun kembali menghampiri bosnya yang sedang sibuk dengan layar pipihnya
"Hemmm..., hemmm hemmmm" karena tak kunjung menatapnya , membuat Diah harus berdehem berkali kali
Setelah mendengar deheman dari Diah, untuk yang ke sekian kali akhirnya Adrian pun mengangkat kepalanya , mata Adrian tak mampu berkedip, kini di depannya berdiri seorang gadis dengan pakaian resmi yang elegan kemeja polos dengan rok motif bunga kecil dengan warna senada, di lengkapi dengan hills yang tidak terlalu tinggi menambah kesan imut pada pemiliknya
“Wulan ....”
__ADS_1
“hah ....., “ Diah pun menoleh kesamping kanan kiri, memutar ke belakang, tapi tak menemukan orang lain
(siapa Wulan, apa pegawai toko tadi ya ?) Diah tampak bingung
“siapa pak? Wulan...”
“nama kamu siapa?” Adrian malah balik bertanya
“Diah pak” Diah tampak semakin bingung “nama panjang kamu?” bosnya balik bertanya lagi
“Diah Wulandari pak”
“nah tuh tau ..., aku kan sudah pernah bilang, aku suka panggil kamu Wulan, jadi mulai sekarang kamu harus terbiasa dengan panggilan itu, kamu mengerti?”
“mengerti pak” “jadi nanti kalau kamu di tanya siapa pun jawab saja nama kamu Wulan”
“iya pak”
Akhirnya kini Diah pun harus terbiasa dengan nama baru, eh bukan, maksudnya panggilan baru, kata bosnya biar lebih keren gitu deh
__ADS_1
(ternyata kalau di rubah penampilannya gini, dia cukup menarik, bagaimana kalau aku make over sekalian ya) guman Adrian dengan seringai liciknya, bukan licik, tapi usil