Jodohkah Kita(Mungkin)

Jodohkah Kita(Mungkin)
kita teman


__ADS_3

Setelah mengantar Ajeng, Adrian tidak langsung pulang, ia mampir ke pom untuk mengisi bahan bakar, ia juga tak lupa mampir ke atm untuk mengambil beberapa lembar uang cas,


setelah memiliki uang cas, Adrian tak lupa mampir ke mini market untuk membeli beberapa makanan dan kebutuhan sehari-hari


walaupun tak terlalu faham dengan kebutuhan sehari-hari dengan di bantu pegawai toko, Adrian pun dengan semangatnya berbelanja


Setelah dirasa cukup, ia pun segera menuju ke kasir dan membiarkan kasir menghitung belanjanya


"mister, kok belanja sendiri?" pegawai toko pun tersenyum menggoda pada pelanggan bulenya


"iya, istri menunggu di mobil" Adrian pun berbohong karena merasa risih melihat pandangan para pegawai toko


"tau gini, aku tadi ajak Diah" batin Adrian


terlihat panah wajah kecewa dari para pegawai toko,


tak mau berlama lama, setelah selesai dengan pembayarannya, Adrian pun segera keluar dari toko dengan menenteng dua kantong plastik besar belanjaan, dia Menaruh belanjaannya di kursi belakang, setelah memberi uang pada tukang parkir, Adrian pin segera melajukan mobilnya


setelah berjalan tak begitu jauh dari mini market, tiba tiba pandangan nya tertuju pada sosok yang sangat ia kenal sedang mendorong motornya


Adrian pun menghentikan mobilnya tepat di depan pria itu yang tak lain adalah Dr Anwar, ia segera keluar dari mobil dan menghampiri dr Anwar

__ADS_1


“pagi Dokter” sapa Adrian pada Anwar, karena merata tak asing dengan suara yang menyapanya, Anwar pun segera menoleh ke sumber suara


“pagi pak Adrian ...” Anwar pun membalas sapaan Adrian dengan ramah


“kenapa motornya, Dokter?” Adrian pun sudah berada di depan motor Anwar, Anwar yang dihampir segera menghentikan langkahnya


“nggak tau ini tiba-tiba mogok” Anwar sambil menjagang sebelah motornya


“biar aku bantu mendorongnya, sepertinya bengkelnya tidak jauh dari sini, dokter” Adrian pun menawarkan diri sambil menunjuk ke arah bengkel


“boleh, jika tidak merepotkan” “sama tetangga kan memang harus saling membantu, benar begitu dokter?”


“baiklah tetangga baruku, ngomong-ngomong dari mana sepagi ini pak Adrian?”


“dari ngantar Ajeng” Adrian tampak masih fokus dengan jalanan


“memang Ajeng kemana?”


“Ajeng berangkat ke kampusnya lagi, katanya tugasnya sudah menumpuk jadi nggak bisa cuti lama”


“memang Ajeng itu sedikit berbeda dengan Diah, dia lebih dewasa dan menatap masa depan lebih matang berbeda dengan Diah kalau Diah itu ....” mendengar pernyataan dr Anwar, Adrian tampak sedikit tidak suka, tapi kemudian ia mencoba tersenyum kembali

__ADS_1


“ sepertinya dokter memang sangat mengenal ISTRIKU ya ...”


“maaf, bukan maksud saya ...” Anwar merasa bersalah dengan ucapannya sendiri


“tidak masalah, semuanya kan sudah berlalu, aku senang bisa bertetangga sekaligus berteman denganmu dokter, jika dokter tidak keberatan” tapi kini respon Adrian benar-benar tidak pernah di duga oleh Anwar


“dengan senang hati” Anwar merasa sangat lega, memang seharusnya itu yang ia lakukan jauh-jauh hari, ketimbang menciptakan permusuhan yang tak berujung, damai dengan hati kayaknya lebih baik, lagian kini Anwar juga sudah punya Rani yang harus di jaga hatinya


“baiklah berati sekarang kita teman ya” Adrian pun mengulurkan sebelah tangannya tanda memulai persahabatan


“tentu” tangan itu pun di sambut oleh Anwar, tanpa terasa mereka sudah sampai di depan rumah, Adrian pun menghentikan mobilnya


“kita sudah sampai”


“baiklah aku turun, terimakasih tumpangannya pak Adrian”


“ngomong-ngomong lebih enak panggil nama saja, nggak usah ada embel-embelnya, biar lebih akrab”


“baiklah, da ... sampai bertemu lagi Adrian”


"baiklah sampai jumpa An ..." Anwar pun tersenyum dan di sambut juga oleh Adrian, kemudian Anwar masuk ke halaman rumahnya, dan Adrian tentu saja memarkirkan mobilnya di halaman rumah

__ADS_1


__ADS_2