
“Wulan adalah ...” Anwar kembali ragu untuk mengungkapkannya
“kenapa Wulan kang, siapa dia?” Rani mendekatkan wajahnya, menatap mata Anwar berharap tak menemukan kebohongan di matanya
“Wulan adalah Diah , dia Diahku Ran ...”
Seketika itu tubun Rani lemas, seakan tulang-tulangnya tak lepas dari tubuhnya, air matanya menetes tanpa aba-aba, hatinya hancur seperti kaca yang di jatuhkan dari ketinggian
Pyarrrrr
(thor jangan lebay ya .....)
Mendengarkan pengakuan Anwar, menyebut Diah adalah Diahku, penekanan kata-kata itu yang membuat Rani benar-benar hancur
“maafkan aku Ran, aku benar-benar tak bisa menghentikan perasaan ini “ ucap Anwar jujur, ia tak mau menyakiti Rani lebih jauh lagi
“pergilah kang ...., kejar cintamu, aku tak apa ...” Rani pun menghela nafas panjang, berharap keputusannya ini adalah keputusan yang benar
“apa maksudmu ...?” Anwar masih bingung dengan yang di katakan Rani
__ADS_1
“pergilah, aku rela asal kau bahagia, tapi nanti jika Diahmu tak ingin kau kembali, aku akan mengambilmu kembali kang, aku tidak akan melepasmu setelah ini , jadi sekarang kejarlah cintamu ....” ya Rani kini menyadari , tak seharusnya dia menahan pria yang jelas-jelas tidak mencintainya, cinta tak bisa di paksakan, jika mungkin jodoh, Rani yakin pasti mereka akan di pertemukan dalam ikatan pernikahan
“terima kasih Ran, aku tahu kamu memang wanita yang baik, aku menyayangimu, aku akan memberinya kejutan di hari wisudanya” Anwar pun langsung berhambur memeluk Rani
“kau memang yang terbaik ....”
Rasanya berat melepaskan orang yang di sayangi untuk orang lain, tapi ada rasa lega di dalam hati Rani, jika memang ia tidak berjodoh dengan Anwar mungkin Allah sudah menyiapkan jodoh lain di luar sana
Kembalinya Anwar dari Jakarta
“akang kembali ...?” Rani yang mulai iklas dengan jalan cintanya, mendapati Anwar kembali di hadapannya sedikit heran, tapi tanpa menjawab Anwar malah lagi-lagi memeluk Rani, ia merasakan ada tetesan yang mengalir di bahu Rani, kini Rani tahu jika pria yang sedang memeluknya sedang menangis
Setelah mencurahkan segala kesedihannya, Anwar melepaskan pelukannya, Rani segera menggiring Anwar untuk duduk di sofa , Rani segera menuju ke dapur dan mengambil dua botol air minum
“minumlah ....” Rani menyerahkan satu botol untuk Anwar, dan ia pun ikut duduk di samping Anwar
“menikahlah denganku” rani yang hendak meminum minumannya, segera menghentikan gerakannya, mendengar perkataan Anwar, sebenarnya bukan itu yang ingin ia dengar, tapi ia benar mendengarnya
“maksud akang apa?” Rani tak mau berharap terlalu jauh
__ADS_1
“menikahlah denganku ...” lagi-lagi kata itu yang keluar dari bibir Anwar
“jelaskan dulu padaku kang, apa yang terjadi?” Rani hanya bisa berharap Anwar tidak hanya menjadikannya sebagai pelarian, ia serius dengan perkataannya
“Diah menyuruhku menikahimu .....” hati Rani seakan di tipuk batu besar, benar ini semua karena Diah
“jadi semua ini karena Diah ...” rasa sakitnya bertambah saat mendengar pernyataan Anwar, ada rasa kecewa
“Diah ingin kamu bahagia ...., biarkan aku memenuhi janjiku padanya, aku tahu jika kamu marah padaku, tapi biarkan aku belajar mencintaimu, kau berhak marah padaku, aku benar-benar tak adil padamu, maafkan aku"
“aku memang marah sama akang, aku kecewa sama akang, tapi rasa cintaku sama akang lebih besar dari rasa kecewaku, aku akan menerima akang apa adanya, aku ikhlas kang, aku yakin suatu saat akang akan mencintaiku” Rani pun hanya berharap kembali jika ini adalah keputusan yang tepat
“terima kasih ...., aku akan belajar mencintaimu”
****
Satu bulan kemudian Anwar memutuskan untuk pulang ke kampungnya karena ayahnya sedang sakit, Rani tak bisa ikut pulang karena masih ada pekerjaan yang tak bisa di tinggal, tapi ai janji setelah pekerjaannya selesai akan segera menyusul
Kali ini Anwar mengambil cuti sedikit lebih lama, ia berencana akan liburan di rumah selama ayahnya sakit, karena pekerjaan ayahnya tak ada yang menhandel, Anwar adalah anak tunggal, jadi mau tak mau Anwar juga bertanggung jawab atas semua pekerjaan ayahnya, dia harus mencari tangan kanan yang bisa mewakilinya mengurusi semuanya karena ia juga tidak mau meninggalkan profesinya sebagai dokter yang sudah menjadi cita-citanya sejak kecil
__ADS_1