
Dua tahun sudah kini Wulan bekerja sebagai asisten pribadi dari Adrian Diwantara,
pekerjaannya juga masih sama, pagi harus menyiapkan pakaian kerja untuk bosnya, menyiapkan sarapan dan berkas-berkas yang akan di bawa ke kantor, membawakan jadwalnya seharian ini, sambil menemaninya sarapan, mengatur keuangan di kantor maupun di rumah, bahkan untuk keperluan dapur pun Wulan yang mengaturnya, tagihan listrik, air, sudah kayak istrinya saja ya
Yah itulah yang di tugaskan memang oleh orang tua bosnya, karena orang tuanya cukup tau putranya bukan orang yang pandai mengatur keuangan walaupun dia cukup pandai mencari uang, terbukti kini perusahaan yang telah ia bangun sendiri tanpa campur tangan orang tuanya, telah mengalami kemajuan dua tahun terakhir ini, dengan berbangai cabang di beberapa daerah
Setelah mengikuti bosnya seharian, Wulan akan berangkat ke kampus jam 7 hingga jam 9 malam, dia akan di antar jemput oleh Dion, masih ingat kan siapa Dion, dia supir pribadi Adrian Diwantara, kini hubungannya dengan Dion makin akrab saja, karena setiap hari mereka bertemu, kira\-kira akan seakrab apa ya hubungan mereka, apa hanya sebatas teman kerja atau lebih ya, aku juga ikut penasaran
Wulan juga tak lupa selalu kirim kabar kepada keluarganya di rumah, pada bapak, ibuk dan adiknya, juka tak jarang Wulan juga menanyakan perihal Anwar, dia merasa senang saat mendengar kabar kelulusan Anwar, kata ibuknya keluarga Anwar juga baru saja mengadakan syukuran atas kelulusan Anwar karena telah berhasil menempuh S2 , kini Anwar telah resmi menjadi dokter
Tapi kesenangannya kini berubah saat orang tuanya memberi tahu jika Anwar kemarin juga pulang dengan membawa calon istrinya yang juga seorang dokter, seketika hatinya hancur berkeping\-keping
__ADS_1
Bagaimana tidak, selama ini Wulan masih selalu berharap jika nanti dia sukses dia akan menerima lamaran Anwar, tapi harapannya kini hanya tinggal harapan
Gadis itu kini tengah menangis tersedu di sudut kamarnya, hatinya telah hancur, pria yang ia cintai bukan jodohnya
Brrrrtttt bbrrrttt
Benda pipih di sampingnya bergetar, di sana ada nama si pengirim pesan
Dion : “lagi apa?”
Brrrttt
Setelah mengirimkan pesan jawaban , hpnya bergetar kembali
Dion :” kenapa? Tururnlah..., aku tunggu di taman depan apartemen mu”
__ADS_1
Setelah membaca pesan dari Dion , Wulan pun segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya, dan segera turun menghampiri Dion di taman
Setelah melihat kesana kemari akhirnya , Wulan meliht sosok Dion yang sedang duduk di kursi taman, dengan wajah sembabnya Wulan segera menghampiri Dion
“hay ....” Wulan menyapa Dion
“duduklah ...” Dion menepuk bangku di sampingnya, memberi isyarat pada Wulan untuk duduk di sampingnya
Wulan pun duduk di samping Dion “sekarang ceritakan padaku, apa yang membuatmu menangis?”
“dia bukan jodohku” mendengar pengakuan Wulan yang hanya sepotong membuat Dion semakin bingung
“siapa ...?” “kamu boleh cerita kok, biar perasaanmu lebih ringan, aku siap mendengarkannya”
“dia adalah Anwar, dia temanku sejak kecil, dia selalu mengutarakan perasaannya padaku, tapi aku selalu menolaknya karena keluarga kami tidak sepadan, setelah kami lulus sekolah, dia melanjutkan kuliah kedokteran, sebelum pergi dia berjanji kelak akan menikah dengan ku, tapi sekarang dia sudah memiliki calon istri” butiran air air kecil tak mampu terbendung kembali
__ADS_1
“kamu boleh kok menangis di sini” Dion tampak menunjuk dadanya, dan tanpa aba\-aba Wulan pun segera berhambur ke dada Dion, menumpahkan segala rasa sakitnya,