Jodohkah Kita(Mungkin)

Jodohkah Kita(Mungkin)
Asistenku yang bawel


__ADS_3

“masih betah ya di luar sana berduaan, aku lapar ...” Wulan terkejut saat mendengar teriakan dari dalam rumah, yang ternyata Adrian dari tadi masih memperhatikan mereka dari balik pintu


“iya pak ...” seketika Wulan dan Dion berlari ke dalam rumah dan menghampiri Adrian, Adrian pun tak kalah berlari, ia segera pura- pura duduk di sofa ruang tamu


melihat Dion ikut masuk bersama Dian, membuat rasa cemburu Adrian meningkat


“kenapa kamu masih di sini?” Dion yang mendapat tatapan dingin dari si bos segera menundukkan kepalanya


“saya permisi dulu pak bos” tapi ternyata Dion berlalu sambil menahan senyum, melihat tingkah bosnya


“ya ..” jawab Adrian singkat, kini Dion pergi meninggal kan mereka berdua


“aku lapar, tolong kamu delivery makanan saja ...” perintah Adrian


“jangan pak, biar saya masak saja pak, kan sayang uangnya, pasti akan lebih boros, lebih baik masak, lebih higienis, murah lagi, nggak perlu nunggu lama”


mendengar kebawelan asistennya, kini Adrian lebih memilih menutup kupingnya


“stop ...., jangan bawel, terserah kamu saja, lagian uangku yang bawa kan kamu “ sedikit mengeraskan suaranya


Diahpun segera melangkahkan kakinya, tapi baru lima langkah dari tempatnya berdiri, ia kembali lagi menghadap Adrian


"??????" Adrian bingung


“dapurnya dimana pak ?”


"heehhhhh" Adrian manghela nafasnya panjang

__ADS_1


“ayo aku anter ...” Adrian beranjak dari duduknya dan diikuti Wulan,


ia menunjukkan kulkas besar di dapur, dan bumbu bumbu yang bisa iya gunakan


"kamy bisa nggak pakek semua alat-alat ini?" tanya Adrian kepada Diah yang merasa sangsi jika Diah bisa menggunakan alat-alat dapur yang canggih itu


" bapak jangan khawatir, aku sudah mencoba semuanya di apartemen, lagian kan aku punya smartphone, apa apa bisa aku tanyakan disini" sambil menunjukkan benda pipih di tangannya


"ok baiklah, asal jangan buat dapur ini hancur saja" akhirnya Adrian pun duduk di meja makan memperhatikan asistennya yang sedang berkutat dengan bumbu-bumbu dapur dan sayuran


Tak butuh waktu lama makanan pun telah tyersaji di atas meja, arona yang sedap membuat perut Adrian semakin keroncongan, rasanya tak sabar ingin segera mencicipinya


“silahkan makan pak ...” Wulan mengambilkan nasi dan beberapa lauk untuk bosnya,


“kamu tidak makan?” karena melihat Wulan tak kunjung mengambil makanan


“nunggu apa?”


“nggak enak makan satu meja sama bapak ...”


“ya udah kalau kamu nggak makan aku juga nggak mau makan” Adrian menjauhkan piringnya dari hadapannya


(mulai deh bos, ngambekan ...)batin Wulan


“baik, saya makan” Wulan pun menyerah, dia mengambil nasi dan lauk untuk dirinya sendiri, melihat itu, Adrian kembali mendekatkan piringnya yang sudah berisi makanan


“pak ...” Adrian yang merasa di panggil segera menghentikan aktifitas makannya

__ADS_1


“hemmm”


“kenapa kita tinggal di sini pak?” rasa penasarannya tak mampu terbendung lagi


“mama sama papa besok akan datang, jadi aku harus tinggal di rumah”


“kenapa saya juga pak?”


“trus aku harus bilang apa sama mama dan papa kalau kamu nggak bersamaku, nanti bisa bisa aku di cincang , lagian kamu harus mengurus semua keperluanku, kan memang untuk itu orang tuaku membayarmu”


“kenapa? Kan bapak sudah besar”


“kenapa sekarang kamu jadi banyak bertanya ya ...” Adrian mulai kesal dengan kebawelan asistennya


“maaf” Wulan segera menunduk


Setelah mereka selesai dengan aktifitas makannya, Wulan segera mengambil piring kotor dan membawanya ke tempat cuci piring untuk mencucinya, Adrian yang merasakan lengket di badannya segera menuju ke kamarnya


Setelah selesai mencuci piring ,kini Wulan baru sadar jika ia lupa tidak menanyakan perihal tempat tidurnya, dirumah besar itu tidak ada satu pun pembantu rumah tangga yang bisa iya tanyai


“kenapa rumah sebesar ini tidak ada penghuninya, trus aku harus mencari di mana pak bos? Kenapa aku bisa seceroboh ini, apalagi badanku sudah sangat lengket, apa aku harus mengetuk satu persatu ruangan di rumah ini ya “


Akhirnya Wulan pun menyusuri setiap ruangan dan mengetuknya, ia membuka beberapa uangan, Wulan memutuskan untuk menaiki tangga , di lantai 2 ada sekitar 5 ruangan yang memiliki pintu yang sama


Wulan memutuskan mengetuk satu persatu ruang tersebu, tuang pertama terkunci, saat mengetuk tak ada sahutan, ruang kedua ternyata sebuah kamar mandi besar dan saat mengetuk ruang ketiga ternyata ruang itu tidak terkunci


‘pak..., pak...., pak Adrian ...” karena tak kunjung mendapat sahutan, Wulan memutuskan untuk masuk

__ADS_1


__ADS_2