
"tapi pak, apa aku bisa...?”
“aku sudah melihat kinerja kamu di sini, kamu sangat terampil dan dapat di percaya, pembukuanmu juga sangat rapi, kamu tinggal mendalaminya saja nanti , itu bisa kamu pelajari di kampus, jangan khawatir nanti biaya kuliah kamu orang tua saya yang akan menanggungnya”
“apa adiknya bapak setuju?”
“dia setuju, tapi ada syaratnya”
“apa pak syaratnya?”
“kamu harus kuliah di jurusan menejemen”
“itu bukan masalah pak bagi saya semua jurusan sama saja, asal saya bisa kuliah, buat menaikan taraf hidup keluarga kami, jadi aku janji nggak akan mengecewakan bapak dan mbk Mira”
__ADS_1
“ya sudah berati kita diel ya...” Bian pun mengulurkan tangan pada Diah
“diel pak” Diah pun menyambut tangan Bian “tapi pak, bagaimana pekerjaanku disini?” dengan wajah yang sedikit pias
“hari ini kamu resmi saya pecat” Mira ikut andil bicara
“haaaahhhh” Diah pun langsung terkejut dengan pernyataan Mira
“bagaimana bisa kamu berangkat ke jakarta jika kamu tetap bekerja di sini” kini senyum merekah di bibir Mira, di sambut dengan senyum Diah pula “aku pasti akan merindukanmu, adik nakalku, sini peluk aku” akhirnya kini Diah dan Mira pun saling berpelukan
“mbak Mira ...!” Diah terkejut dengan keberadaan Mira di bandara
“aku tidak mungkin kan tidak mengantar keberangkatanmu, semoga kamu sukses di sana ya”
__ADS_1
“terima kasih mbak”
“ngak usah sungkan”
Akhirnya pesawat pun lepas landas, tak butuh waktu lama, Diah sudah sampai di jakarta, di suasana yang jauh berbeda dengan daerahnya di kampung, Diah menenteng kopernya sambil mondar-mandir di bandara menanti jemputan , orang suruhan Bian
“mbak Diah ya?” tiba-tiba seseorang memegang bahu Diah dari belakang, si pemilik bahu pun sedikit terlonjak, Diah pun segera memutar badan mencari pemilik tangan yang sedang memegang bahunya, seorang laki-laki tengan tinggi badan kira-kira 170 cm, dengan perawakan sedang, usia sekitar 25 tahun “iya” Diah pun langsung menyahut sambil mengamati pria yang sedang berdiri di hadapannya “saya Dion mbak, sopir mas Adrian” ya dia adalah Dion Suseno anak jawa tulen, supir pribadi Adrian Diwantara, calon bos baru Diah
Dion pun mengulurkan tangan kepada Diah, diah pun dengan senyum lesung pipinya menyambut tangan Dion (wah .... Diah ini kalau senyum bikin orang terbang , batin Dion)
Dion pun segera membawa Diah menuju ke mobil, setelah masuk kedalam mobil, mereka pun segera menuju ke kantor
“Mbak Diah, dari mana?” “saya dari jawa timur mas” “lebih baik panggil nama saja Mbak, rasanya kok canggung ya kalau seperti ini” “trus aku panggilnya gimana dong?” “panggil saja Dion, gimana?” “kalau gitu, mas panggil aku juga Dian aja” “ngomong- ngomong nama kita ternyata sama ya” “kok gitu?” Diah tampak heran “Diah dan Dion, sama kan!!!!” “iya ya ....” “apa mungkin kita jodoh ya” canda Dion sambil terus fokus menyetir, Diah hanya menanggapinya dengan senyum manisnya
__ADS_1
Sepanjang perjalanan mereka habiskan dengan saling mengobrol, memang dasarnya Diah anak yang mudah akrab dengan orang baru, jadi tak sulit membuat omongan mereka nyambung satu sama lain, apa lagi dua- duanya berasal dari jawa