
Adrian sudah siap dengan memakai kemeja putih yang berlapis dengan jas warna hitam dan songkok di kepalanya, Adrian begitu tampan dengan wajah blesteran nya
dia bersiap untuk menyambut tamu, walaupun acaranya masih 2 jam lagi di sana sudah mulai berdatangan tamu
Diah menghampiri Adrian dengan membawa nampan yang berisi sepiring nasi dan lauk pauk untuk Adrian, ia sengaja membawa hanya sepiring karena merasa tidak enak jika harus makan bersama
“pak ....” panggil Diah hingga Adrian pun membalik badan menuju ke sumber suara
“Diah , kau belum siap?” Diah masih belum memakai kebaya pengantin dan belum dirias, dia masih memakai pakaian sehari-harinya
“aku membawakan sarapan untuk bapak, kata ibuk bapak belum makan” Diah pun menaruh makanan di meja kecil dekat Adrian berdiri dan menggeser kursi untuk duduk Adrian
“ok baiklah, ayo duduk” Adrian menggeser satu kursi lagi di hadapannya untuk Diah ikut duduk
"duduklah ..." Adrian menyuruh Diah untuk duduk di depannya
“kok Cuma satu piring, buatmu mana?” Adrian mengambil piring di atas nampan
“aku nanti saja pak”
__ADS_1
“ya udah kita makan berdua, aku suapi ya” Adrian pun menaruh nasi dan lauk dalam sendok dan menyodorkan ke mulut Diah tapi Diah masih enggan membuka mulutnya
“ayolah ...., mau ya ..aaa.” Adrian tampak memohon, Diah yang tidak tega melihat wajah memelas Adrian akhirnya membuka mulutnya
Setelah menyuapkan ke mulut Diah kemudian bergantian ia menyuapkan ke mulutnya sendiri, hal itu terus berlanjut hingga makanan dalam piring habis
“pak ...” sebelum beranjak meninggalkan Adrian untuk mengembalikan piring kotor kebelakang ,Diah menghentikan langkahnya
“hemmm ....., berjanjilah ini terakhir kau memanggilku pak” Adrian ikut berdiri menghadap Diah
“pak Adrian masih punya kesempatan dua jam untuk mundur dari keputusan bapak, jika ini tak sesuai dengan hati bapak maka berhentilah” Diah pun berbalik dan hendak berjalan meninggalkan Adrian
Ternyata kegiatan mereka tak luput dari perhatian Dr Anwar yang sudah berdiri sejak tadi di balik pintu, karena ia sedang merapikan kursi tamu
“mudah-mudahan ini pilihan yang tepat, aku yakin pak Adrian pasti akan menjaga Diah dengan penuh cinta” batin Dr Anwar
Hingga bahunya di tepuk dari belakang yang membuatnya sadar dari lamunannya, pemilik tangan itu adalah Ajeng
“Ajeng ...” Dr Anwar menyadari bahwa dirinya juga di perhatikan oleh Ajeng
__ADS_1
“relaakan mbak Diah bahagia mas, lepaskan dia ...” penuturan Ajeng
“aku akan berusaha ...” Dr Anwar pun menyahuti Ajeng dengan senyuman yang terlihat di paksakan
Kini Diah sudah mulai dirias oleh perias pengantin, dan bajunya pun sudah berganti dengan kebaya berwarna putih, sangat cantik dipakai oleh Diah dengan riasan yang tidak terlalu tebal sangat cocok dengan kemeja yang di kenakan Adrian
Jam sudah menunjuk ke angka 9 , acara ijab qabul pun segera di mulai, penghulu pun sudah datang,
keluarga Adrian pun sudah datang sejak pukul 8, tetangga Diah banyak berbisik mereka cukup heran dengan keluarga calon pengantin laki-laki yang kebule bulean apalagi jika melihat ayah Adrian
Sungguh sesuatu yang luar biasa jika ada bule masuk desa seperti sekarang ini, sungguh pemandangan langka
“wah pinter yo Diah, entok bojo bule (wah pintar ya Diah, dapat suami bule)”
“yoh mugo-mugo anakku sok iso koyo Diah di rabi bule (wah mudah-mudahan anakku nanti bisa seperti Diah di nikahi bule)”
tak jarang ada juga yang berkomentar buruk “sanu Diah nikah kontrak ( jangan-jangan Diah nikah kontrak)”
“iyo, Diah kan nggak ayu ayu nemen kok iso entok bule (iya, Diah kan nggak cantik-cantik banget kok bisa dapat bule)”
__ADS_1
dan masih banyak lagi komentar dari tetangga, ada yang berkomentar baik dan ada yang berkomentar kurang baik