
Di balik slimut tebalnya, Diah gadis desa itu masih enggan untuk menggerakkan tubuhnya, hingga suara berisik dari jam bekerpun tak mampu membangun kannya
Byuuurrrr
“banjir... banjir.... banjir.....” Diah nampak panik saat guyuran air mendarat di wajahnya
“dasar kebo ....” Adrian berdiri di sisi tempat tidur Diah sambil membawa gelas kosong, ternyata sumber air itu berasal dari gelas yang di bawa Adrian
“pk bos???.... kenapa kok bisa ....” Diah yang sedang mengumpulkan nyawanya heran dengan keberadaan bosnya di dalam kamarnya, (bukankan dia punya apartemen sendiri? Kenapa bisa di sini?)
“sudah selesai bengongnya? Lihat ini jam berapa? Kamu harusnya sudah menyiapkan sarapan saya... ,kita sudah harus sampai kantor, kamu malah enak-enakkan bobo cantik” Adrian dengan nada tingginya sambil menahan kesal
__ADS_1
“maaf pak, ini tidak akan saya ulangi, jangan pecat saya pak” Diah pun sudah turun dari tempat tidurnya sambil menundukkan kepalanya
“kalau bicara itu tatap saya, emangnya saya sebegitu menyeramkannya ..., siapa juga yang mau mecat kamu, sudah cepetan siap-siap kita langsung berangkat ke kantor, nggak usah masak” Adrian pun meninggalkan Diah yang masih setia menunduk, saat sampai di depan pintu tiba-tiba Adrian menghentikan langkahnya, membuat Diah yang mulai menatap punggung Adrian dengan cepat menunduk kembali
“jangan lama, 5 menit, kalau tidak aku tinggal”
(heh ...., dasar bos galak) Diah pun dengan kecepatan angin menyambar segala yang ada di hadapannya, mandi pun Cuma mandi bebek, alias sekenanya saja asal basah, setelah selesai dengan aktifitas dandan ala Diah, dengan secepat kilat menyambar tasnya
Ternyata Adrian sudah duduk di ruang tamu Diah,
“ada apa pak, apa ada yang salah?” Diah merasa kebingungan dengan tingkah bosnya,
__ADS_1
(sepertinya tidak ada yang aneh dengan ku, kenapa lagi si bos ini?)
“memang kamu nggak punya baju yang lebih pantas untuk pergi ke kantor? Ini kan baju rumahan, kamu itu bener-bener cupu ya, ndeso” Adrian yang melihat penampilan Diah dengan rok panjangnya dan baju atasan yang tampak tidak seperti kemeja, dan rambur di ikat di bawah tengkuk, tampak tidak rapi, dan lagi pakek sedal
(memang apa yang salah dengan penampilanku, ini kan baju ku yang paling bagus untuk kerja) Diah hanya bisa menggerutu
“apa lagi nanti kita ketemu kliyen , kamu bisa malu-maluin aku, ya udah sekarang masih jam 8 kita ketemu klyennya jam 11, masih ada waktu 3 jam, kita ke butik dulu”
Adrian pun langsung menyeret tangan Diah tanpa aba-aba, langkahnya sedikit berlari, itu untuk Adrian,kalau untuk Diah ya jelas bukan sedikit, tapi benar-benar lari,
langkah kaki Adrian dua kali lebih lebar dari langkah Diah
__ADS_1
Adrian dengan cepat memasuki mobil begitu juga dengan Diah, mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, maklum jakarta jam berangkat kerja pastilah macet, akhirnya setelah menempuh perjalanan 30 menit mereka sampai di sebuah pusat perbelanjaan
Lagi-lagi Adrian menggandeng tangan Diah tampa permisi, yang empunya tangan pun hanya bisa menatap penuh keheranan, jangan di tanya natapnya dari mana, yang jelas dari belakang lah ya, mana berani Diah natap dari depan