
Sebenarnya sepanjang perjalanan Diah sudah beberapa kali menguap,
tapi ia enggan untuk sejenak menutup matanya,
ia takut jika sampai tertidur maka bosnya akan nyasar ke tempat lain
“apa ini masih jauh ...?” tanya Adrian dengan masih fokus pada jalanan
“satu jam lagi” jawab Diah, dengan mata yang mulai berair
“ya sudah tidur lah ...” perintah Adrian saat mendapati Diah dengan mata yang mulai memerah karena menahan kantuk
“bagaimana aku bisa tidur, kalau aku tidur nanti anda bisa tersesat”
“he ...nona, jangan salah, aku manusia modern yang sudah tahu yang namanya GPS, jadi tidak usah khawatir, anda tinggal menyebutkan alamat lengkapnya saja dan saya akan mencari lokasinya, sekarang sebutkan alamat lengkap mu ...”
Setelah mendengar penjelasan dari Adrian, Diah pun menyebutkan alamat lengkapnya,
akhirnya Diah pun bisa segera memejamkan matanya tanpa khawatir,
tanpa butuh waktu lama kini nafasnya mulai teratur, menandakan kalau kini ia benar-benar tertidur
__ADS_1
“cepet sekali dia tidurnya ...” Adrian melantunkan bibirnya sambil memandangi wajah Diah
Akhirnya Adrian melajukan mobilnya dengan panduan GPS,
setelah perjalanan melewatinperjalanan 45 menit akhirnya mobil mulai masuk ke perkampungan,
jalanan harus melewati hamparan pesawahan yang cukup panjang,
walaupun belum terlalu gelap karena masih jam 17.00 tapi jalanan sudah tampak sepi
Terlihat sesekali Adrian harus menghentikan mobilnya dan turun untuk menanyai orang yang sedang lewat hendak pulang dari sawah,
untung saja Diah lengkap memberi nama orang tuanya, jadi cukup mudah bagi Adrian untuk bertanya pada warga
“nggeh (iya) ...” karena mendapat jawaban yang cukup aneh Adrian melanjutkan pertanyaaan nya
“mau tanya pak kalau rumahnya pak Darman itu yang mana ya?”
“oh ..., daleme pak Darman(rumahnya pak Darman)?” bapak itu balik bertanya memastikan
“astaga ... orang ini ngomong apa ya ?” kini Adrian bertambah bingung, dia hanya bisa mengangguk
__ADS_1
“jenengan mengke lurus mawon, trus wonten griyo ageng, apik , pagere duwur, lah ngajengge niku daleme pak Darman (anda nanti lurus saja , trus ada rumah besar, bagus, pagarnya tinggi, nah di depannya itu rumahnya pak Darman)mas ...”Adrian hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal karena kebingungan
"bagaimana cara menerjemahkannya??" Adrian semakin bingung
“maaf pak bisa pakek bahasa indonesia pak, soalnya saya belum bisa bahasa jawa”
sekarang jadi bapak itu yang gantian bingung
“waduh mas, piye iki, aku yo ora iso basa indonesia ki, eh sek sek tak celuk e anakku sek mas (waduh mas, bagaimana ini, aku juga nggak bisa bahasa indonesia nih, eh sebentar saya panggilkan anak saya)”
bapak itu tampak memanggil pemuda yang berdiri di pinggir sungai seperti sedang bersih-bersih
“wonten nopo pak (ada apa pak)?” pemuda itu menghampiri mereka dan langsung bertanya pada bapak itu
“iki lo, enek wong kuto nekokne omah e pak Darman, aku ora iso basa Indonesia lo (ini lo, ada orang kota yang menanyakan rumahnya pak Darman, aku tidak bisa bahasa Indonesia lo)”
kemudian pemuda itu menjelaskan kepada Adrian menggunakan bahasa Indonesia, sehingga Adrian langsung mengerti
“ya sudah terimakasih , mas, pak, mari ikut saya saja biar saya antar sampek rumah” Adrian menawarkan tumpangan
“nggak usah mas, saya bawa motor kok” jawab si pemuda
__ADS_1
“ya sudah kalau gitu saya duluan ya, terimakasih, mari ...” Adrian pun akhirnya memutuskan untuk masuk kembali kedalam mobil
Setelah menempuh perjalanan 30 menit akhirnya mobilnya berhenti di depan rumah mungil yang sepertinya baru selesai di renovasi, walaupun rumahnya kecil tapi memiliki halaman yang cukup luas sehingga mudah untuk mobil masuk ke halaman