
Anwar segera menarik tangan Diah untuk mengajaknya pergi, tapi tanpa mereka ketahui buk Kasih melihat kepergian mereka secara terburu-buru, ibu Diah merasa curiga
Diah hanya bisa mengikuti langkah Anwar,tanpa ingin bertanya lagi walaupun penasaran tapi keingintahuan Diah tertutupi saat memandang separuh wajah Anwar yang tampak menyimpan berbagai kegundahan
Kini langkah mereka terhenti di pinggir kolam ikan, yang disama ada beberapa gubuk kecil yang memang sengaja di bangun untuk tempat berteduh saat memancing atau memanen ikan
“duduklah” Anwar lebih dulu duduk dan mengarahkan tangannya ke tempat duduk yang masih tersisa di sampingnya , dan memberi isyarat supaya Diah ikut duduk
Akhirnya Diah pun ikut duduk di samping Anwar dengan menyisakan jarak beberapa jengkal, wajah Anwar fokus melihat ke satu titik yang tak tau entah kemana pandangan itu tertuju, lurus ke depan dengan menerawang
“diah” Anwar memulai katanya yang sedikit ragu dengan pandangannya yang masih tak teralihkan, tanpa memandang Diah
“ehm” hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Diah, sejujurnya diah sangat bingung dengan sikap Anwar kali ini
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, Anwar membuang nafas beratnya, seperti tengah melepaskan beban yang sangat berat hendak memulai pembicaraannya lagi
“Diah kamu tahu sejak dulu bagaimana perasaanku padamu, aku ....., maksudku ..... perasaanku itu hingga kini masih sama, aku masih sangat mencintaimu, bukan sama lagi, tapi makin kesini perasaan ini tak mampu untuk aku lawan, perasaan cinta ini makin besar seiring berjalannya waktu” perkataan lembut Anwar sebenarnya bagaikan tetesan air es di kepala dan hati Diah, jantungnya benar-benar tak mau berhenti berdetak, tapi dia tak boleh egois, bagaimana bisa dia menerima cinta Anwar, sedang masa depan Anwar cerah di depan sana
“diah, entah jadinya apa aku tanpamu, aku tidak mungkin bisa jauh darimu, rasanya aku sudah sangat tergantung denganmu, sehari saja tanpa melihatmu, rasanya aku tak mampu” Anwar tampak mengusap kasar wajahnya, menunggu apa yang akan di ucapkan Diah,
tapi ternyata kata-kata itu tak kunjung jua muncul dari mulut Diah
Setelah beberapa menit mereka dalam kediaman, akhirnya Anwar mengubah pandangannya, kini menghadap ke Diah
“sebegitunya hatimu tak ingin membalasku, apakah benar tak ada sedikitpun perasaanmu untukku? Aku mohon jawablah, mungkin setelah ini aku akan menyerah, tapi aku mohon bicaralah padaku”
Seketika hati Diah tersentak, apa maksud dengan perkataannya, dia akan menyerah? Rasanya tak rela jika Anwar berhenti memperhatikan nya, apa itu adil, sedangkan dia selama ini seperti acuh dengan perasaan Anwar
__ADS_1
Rasanya air mata yang tak diharapkan seakan mengumpul di pelupuk matanya
“apa maksudmu Anwar?” tenggorokannya seperti tercekit menahan air matanya supaya tidak jatuh
“aku akan pergi Diah ...” suara Anwar mulai berat
“pergi?” kini air mata yang tertahan itu tak mampu lagi terbendung, tiba-tiba meluncur begitu saja di kedua pipi Diah, dan sayangnya Anwar menyadarinya
“kamu menangis, jangan menangis, aku akan ikut terluka?” tangannya reflek segera menghapus air mata Diah
“nggak” jawab Diah singkat, dia tidak mau Anwar tau kesedihannya jika harus berpisah dengannya
“kamu nggak usah bohong Diah, mungkin akulah orang yang paling tau gimana perasaanmu, jangan pernah menutupinya dariku”
__ADS_1
KANGAN LUPA KASIH DUKUNGAN DENGAN MEMBERIKAN LIKE DAN KOMENTARNYA